Antara Angka Putus Sekolah dan Denyut Nadi Harapan di Ruang Kelas

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Ilustrasi putus sekolah. Foto: Generated by AI

Di sebuah perspektif pulau terluar Indonesia, seorang gadis mini menyalakan lilin di atas meja kayu reyot. Bukan untuk merayakan sesuatu, melainkan lantaran listrik belum menyala. Buku di depannya sudah lusuh, sampulnya ditempeli isolasi cerah berkali-kali. Namanya Sari. Ia kelas 5 SD. Setiap malam, dia berbisik pada lilin itu, "Ayo, terang. Aku kudu belajar. Aku mau jadi guru."

Sari bukan sekadar cerita. Ia adalah statistik nan bernama, salah satu dari jutaan anak Indonesia nan berjuang melawan sistem nan belum berpihak pada mimpi mereka. Dalam info BPS 2023, nomor putus sekolah jenjang SMP mencapai 1,67 persen, dan di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) bisa melonjak hingga tiga kali lipat. Namun di kembali nomor itu, ada degub nadi nan tak tercatat: tekad.

Pendidikan di Indonesia sering diukur dari jumlah sekolah, rasio guru-murid, alias nilai ujian sekolah secara nasional. Namun, pendidikan bukanlah sekadar kuantitas. Ia adalah kualitas hadirnya keberpihakan. Secara ilmiah, teori ekologi perkembangan Bronfenbrenner mengingatkan bahwa anak belajar dalam sistem nan saling terkait: keluarga, sekolah, komunitas, hingga kebijakan publik. Jika satu sistem rapuh, anak pertama nan jatuh.

Di NTT, seorang pembimbing mengajar tiga kelas sekaligus dalam satu ruang. Di Papua, anak-anak melangkah kaki 10 kilometer melewati rimba hanya untuk mencapai sekolah dengan dua pembimbing tidak tetap. Mereka tidak mengeluh. Mereka hanya bertanya, "Kapan kami bisa punya perpustakaan?"

Anak-anak sekolah dasar di Monumen Kapsul Waktu di Merauke, Papua, Jumat (16/11/2018). Foto: Dok. Biro Pers Setpers

Pertanyaan itu bukan protes. Itu adalah angan nan disamarkan.

Guru adalah panggung dari drama pendidikan kita. Menurut Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), lebih dari 50 persen pembimbing di wilayah terpencil berstatus honorer dengan penghasilan di bawah UMR, apalagi ada nan hanya Rp300.000 per bulan. Namun, riset ilmu jiwa pendidikan menunjukkan bahwa motivasi pembimbing bukan hanya soal uang. Faktor pengakuan, rasa memiliki, dan makna menjadi penopang utama mereka bertahan.

Seperti Bu Rini di sebuah SD di perbatasan Kalimantan. Gajinya tak cukup untuk ongkos perahu menuju sekolah. Tiap Senin pagi, mereka naik perahu kayu berbareng sembako dan tas berisi soal ujian. "Jika bukan saya, siapa lagi?" kata Bu Rini dalam hati dengan senyumannya.

Senyum Bu Rini ini adalah corak perlawanan paling sunyi: mengajar dengan hati nan tak mau padam.

Dari data, kita bisa menarik konklusi dingin: diperlukan peningkatan anggaran pendidikan hingga 20 persen, pengedaran pembimbing nan merata, dan digitalisasi pembelajaran. Namun hati kita tahu, solusi sejati adalah kembali memanusiakan pendidikan. Beberapa langkah hangat tapi ilmiah nan bisa dilakukan:

1. Pendekatan berbasis komunitas. Sekolah tidak berdiri sendiri, dengan melibatkan orang tua, tetua adat, dan tokoh masyarakat. Belajar dari praktik Sekolah Sungai di Kalimantan, pendidikan menjadi aktivitas bersama.

2. Pendampingan psikososial untuk guru. Guru perlu ruang curhat, bukan sekadar pelatihan. Dukungan emosional terbukti menurunkan burnout dan meningkatkan kualitas pengajaran (Ingersoll & Smith, 2004).

3. Beasiswa afirmasi nan menyentuh akar. Bukan hanya nilai rapor, melainkan juga daya juang. Anak-anak seperti Sari butuh lebih dari uang; mereka butuh seseorang nan berkata, "Kamu layak bermimpi."

Ilustrasi pendidikan Foto: kumparan

Pendidikan Indonesia bukanlah cerita kegagalan. Ia adalah cerita tentang lilin nan tetap menyala meski angin kencang menerpa. Setiap hari, jutaan Sari dan Bu Rini menyalakan pelita angan di tengah segala kekurangan.

Maka, izinkan saya menutup tulisan ini dengan kalimat sederhana untuk Anda nan membacanya:

Jika Anda pernah menikmati bangku sekolah nan layak, Anda adalah bagian dari minoritas beruntung. Dan lantaran itu, Anda mempunyai tanggung jawab untuk membikin anak lain juga merasa beruntung, bukan lantaran kasihan, melainkan lantaran mereka juga merupakan kerabat sebangsa kita, bangsa Indonesia.

Mari rawat setiap mimpi. Karena masa depan bukan hanya tentang pembangunan, melainkan juga tentang siapa nan duduk di bangku sekolah hari ini, dan apakah kita datang untuk mereka.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan