Angka Kematian Ibu Indonesia 144 per 100 Ribu Kelahiran, Pekerjaan Besar Capai Target SDGs

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Angka Kematian Ibu Indonesia 144 per 100 Ribu Kelahiran, Pekerjaan Besar Capai Target SDGs Ilustrasi(dok.MI)

ANGKA Kematian Ibu di Indonesia tercatat sebesar 144 per 100.000 kelahiran hidup berasas Survei Penduduk Antar Sensus 2025. Meski menunjukkan tren perbaikan, nomor tersebut tetap jauh dari sasaran Sustainable Development Goals 2030 nan menetapkan AKI sebesar 70 per 100.000 kelahiran hidup.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM Eugenius Phyowai Ganap menilai capaian ini patut diapresiasi namun upaya penurunan kudu terus diperkuat. "Artinya, dalam lima tahun ke depan kita tetap mempunyai pekerjaan besar untuk mencapai sasaran tersebut," ujar Phyowai, Senin (15/6).

Ia menjelaskan tingginya AKI tidak bisa dijelaskan dari satu aspek saja. Ketersediaan tenaga kesehatan penting, namun kudu didukung sarana prasarana memadai dan sistem rujukan nan melangkah baik.

"Kita memerlukan sistem kesehatan nan resilien. SDM nan baik tidak bakal optimal andaikan sarana prasarana tidak memadai alias sistem rujukan tidak melangkah dengan baik. Selain itu, keahlian penemuan awal juga menjadi aspek nan sangat penting," jelasnya.

Phyowai menyoroti pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sudah berupaya memperbaiki pengedaran tenaga kesehatan termasuk master ahli kandungan. Namun tetap ada tantangan nan memerlukan pengawasan lebih kuat.

"Diperlukan sistem reward and punishment nan jelas agar tenaga kesehatan nan telah mendapat pendidikan dan penugasan dapat menjalankan tanggung jawabnya sesuai kebutuhan daerah," katanya.

Ia menjelaskan perbedaan AKI antarwilayah tidak semata-mata dipengaruhi status wilayah perkotaan alias pedesaan, melainkan aspek keterlambatan alias three delays dalam penanganan kegawatdaruratan maternal.

Keterlambatan pertama berangkaian dengan keahlian mengenali akibat dan penemuan awal di tingkat family maupun akomodasi kesehatan primer, sementara keterlambatan kedua terjadi pada proses transportasi dan rujukan ke akomodasi nan lebih lengkap.

"Hambatannya bisa berbeda-beda. Di Papua misalnya lantaran aspek geografis, sementara di kota besar bisa lantaran kemacetan. Bahkan banyaknya pilihan rumah sakit kadang justru menimbulkan kebingungan dalam menentukan tempat rujukan nan tepat," ungkapnya.

Karena AKI dihitung berasas jumlah kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, Phyowai menekankan pengendalian angka kelahiran dan perencanaan kehamilan menjadi bagian krusial dalam penurunan AKI. Penggunaan kontrasepsi berkedudukan besar mencegah kehamilan nan tidak direncanakan sehingga akibat kesehatan ibu dapat ditekan.

Saat ini penyebab utama kematian ibu di Indonesia tetap didominasi perdarahan, hipertensi dalam kehamilan alias preeklamsia, dan infeksi. Namun Phyowai mengingatkan mulai muncul tren baru berupa kematian akibat penyakit penyerta nan sebelumnya tidak terdeteksi, seperti penyakit jantung bawaan nan baru diketahui saat kehamilan.

Untuk menekan akibat itu, Phyowai mendorong pendekatan pre-conception care alias pelayanan kesehatan sebelum kehamilan agar wanita dapat mengetahui kondisi kesehatannya sejak awal sebelum merencanakan kehamilan. "Idealnya, seorang wanita memeriksakan kondisi kesehatannya terlebih dulu sebelum merencanakan kehamilan agar beragam aspek akibat dapat dideteksi dan ditangani sejak awal," pungkasnya. (Ata/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia