Warga Oman.(The Washington Post)
ANCAMAN itu terasa muncul tiba-tiba. "Jika Oman menghalangi," ujar Presiden Donald Trump kepada Fox News, merujuk pada upayanya untuk membuka kembali Selat Hormuz, "Kami bakal mengebom mereka habis-habisan."
Warga Oman merasa bingung. Dalam budaya mereka, menyombongkan diri alias ancaman garang adalah perihal nan sangat tabu. Selama ini, negara mini di ujung tenggara Semenanjung Arab ini dikenal lantaran keramahtamahannya, keelokan alamnya, dan reputasi sebagai negara netral di tengah kompleksitas Timur Tengah.
Diplomasi nan Berujung Ancaman
Pada Februari lalu, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, memediasi tiga putaran negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah pertemuan di Jenewa pada 26 Februari, Albusaidi melaporkan kemajuan signifikan. Namun, sehari setelah dia menyatakan kesepakatan tenteram sudah dekat, AS dan Israel justru mulai mengebom Iran, memicu perang yang berlangsung selama lebih dari enam bulan.
Ancaman Trump pada 17 Agustus lampau terasa sangat mengejutkan lantaran kerangka perdamaian tentatif nan dia tanda tangani dengan Teheran pada Juni justru menunjuk Oman untuk melakukan dialog dengan Iran mengenai masa depan Selat Hormuz.
Kutipan: "Ini keterlaluan. Kami tidak melakukan kesalahan apa pun. Kami hanya mencoba membantu AS. Itulah sifat kami," ujar Abdullah Baabood, akademisi Oman di Universitas Waseda, Tokyo.
Reputasi 'Swiss di Timur Tengah'
Oman, nan dipimpin oleh Sultan Haitham bin Tariq sejak 2020, telah lama membangun reputasi sebagai Swiss di Timur Tengah. Kebijakan luar negeri nan ditetapkan oleh pendahulunya, Sultan Qaboos bin Said, adalah menjadi, "Teman bagi semua, musuh bagi siapa pun."
Oman menjadi mediator dalam beragam krisis, mulai dari Perang Iran-Irak pada 1980-an, blokade Qatar, hingga perang kerabat di Yaman. Namun, peran ini tidak jarang memicu kritik dari tetangga Arab lain nan menginginkan sikap lebih tegas terhadap Iran.
Mengapa Trump Marah?
Para mahir beranggapan bahwa rasa frustrasi Trump berakar pada persepsi bahwa Oman terlalu dekat dengan Iran. Tyler Parker, asisten guru besar pengetahuan politik di Mercer University, menyebut bahwa Trump tidak menyukai peran Oman dalam kesepakatan nuklir Iran 2015 nan dianggap merugikan AS.
Selain itu, muncul rumor bahwa Oman terbuka terhadap sistem biaya (tol) bagi kapal nan melintasi Selat Hormuz—sebuah klaim nan telah dibantah oleh Muscat namun sempat memicu kemarahan Washington.
Hubungan nan Kompleks
Meski ada ancaman, hubungan AS dan Oman sebenarnya sangat dalam. Kedua negara mempunyai perdagangan tahunan senilai Rp61,5 triliun (US$4 miliar). Bahkan, terdapat proyek lapangan golf bermerek Trump senilai Rp7,7 triliun (US$500 juta) nan dijadwalkan buka di Oman pada 2028.
Namun, sentimen publik di Oman mulai bergeser. Boikot terhadap upaya AS meningkat sejak bentrok di Gaza pecah. Warga Oman sekarang mulai mempertanyakan apakah kebijakan tak bersuara dan netral mereka tetap efektif di era retorika politik nan agresif.
"Kami tidak memukul genderang dengan keras lantaran itu bukan langkah Omani," kata Baabood. "Tapi kami tahu perihal itu menyebabkan orang salah mengerti terhadap kami. Mungkin sudah waktunya kami menceritakan kisah kami sedikit lebih lantang." (The Washington Post/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·