Analisis Pakar soal Dentuman di Bandung Diduga dari Erupsi Anak Krakatau

Sedang Trending 39 menit yang lalu
Jakarta -

Warga Bandung, Jawa Barat (Jabar) mendengar bunyi dentuman misterius sejak tengah malam. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan dentuman itu mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda.

Daryono mengatakan bunyi erupsi Gunung Anak Krakatau bisa terdengar jauh hingga wilayah Bandung lantaran aspek lapisan inversi suhu, ialah tertindihnya lapisan udara dingin oleh lapisan udara nan lebih hangat di atmosfer. Dentuman nan terdengar pada jarak jauh juga dipengaruhi topografi di Bandung.

"Dengan topografi nan berbentuk cekungan nan dikelilingi pegunungan menjadikan area ini rentan dilingkupi inversi suhu pada kondisi tertentu, ialah ketika udara dingin terperangkap di lembah dan lapisan udara hangat menutupinya dari atas," kata Daryono, Sabtu (5/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan wilayah Bandung merupakan salah satu dari sekian banyak wilayah di Indonesia nan rentan terhadap terbentuknya lapisan inversi. Lapisan inversi membikin bunyi letusan Gunung Anak Krakatau terdengar di Bandung nan jaraknya ratusan kilometer (km).

"Pada saat Cekungan Bandung tertutupi lapisan inversi, seolah terbentuk 'lorong raksasa'. Cukup dengan kejadian erupsi sangat aktif di Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, maka dentuman GAK bakal menjalar di sepanjang lembah dan terpantul berkali-kali mirip terbentuknya kemandang seperti dilaporkan sebagian penduduk Bandung pagi awal hari tadi," katanya.

Menurutnya, topografi punya peran krusial dalam mengembangkan dan menahan lapisan inversi. Udara dingin dapat terakumulasi di cekungan lembah alias dataran rendah di pantai pada kondisi cuaca tertentu. Sehingga wilayah dengan morfologi semacam ini rentan terjadinya kejadian inversi di saat musim hujan.

Anggota IABI, Daryono, mengatakan bunyi erupsi Gunung Anak Krakatau bisa terdengar jauh hingga wilayah Bandung lantaran aspek lapisan inversi suhu. (dok Pribadi/Daryono)Anggota IABI, Daryono, mengatakan bunyi erupsi Gunung Anak Krakatau bisa terdengar jauh hingga wilayah Bandung lantaran aspek lapisan inversi suhu. (dok Pribadi/Daryono)

Tak Dipengaruhi Arah Angin

Dia mengatakan kejadian serupa saat bunyi dentuman misterius nan beberapa kali terjadi di beragam wilayah juga diduga kuat disebabkan keberadaan lapisan inversi di atmosfir. Dia menjelaskan, perambatan bunyi (gelombang akustik) tidak dipengaruhi arah embusan angin.

"Gelombang akustik dari Gunung Anak Krakatau tetap dapat menjangkau Bandung meskipun angin permukaan bertiup dari timur ke barat lantaran gelombang tersebut merambat ke lapisan atmosfer atas (stratosfer), di mana pola angin dan temperatur di ketinggian tersebut membengkokkan kembali gelombang infrasonik berenergi tinggi itu ke arah bawah menuju daratan, sehingga dapat melompati halangan angin lokal di permukaan bumi," jelasnya.

Selain memantulkan gelombang akustik biasa, lapisan inversi juga berkekuatan memantulkan gelombang mekanik dan akustik ekstrem dalam corak gelombang kejut. Sehingga dapat menyebarkan bunyi dan pengaruh getaran di wilayah nan lebih jauh.

Lapisan inversi juga dapat membikin bunyi lebih keras hingga terdengar di tempat sangat jauh. Ibarat kita membunyikan klakson mobil di kandang mobil nan tertutup, tentu lebih keras dibanding bunyi klakson di jalan raya. Ini lantaran bunyi terjebak pada ruang sempit.

Secara teori, bunyi adalah gelombang akustik nan sudah terbukti dapat dipantulkan lapisan inversi. Dalam kondisi inversi suhu, gelombang bunyi bakal dibiaskan ke bawah, dan oleh lantaran itu dapat terdengar pada jarak nan sangat jauh.

"Inilah konsep dasar kenapa lapisan inversi dapat membikin bunyi letusan terdengar hingga jauh lantaran proses multi refleksi. Suara letusan jika sudah jauh dan dalam kondisi atmosfir tertentu dapat berubah 'anatominya' sehingga tidak lagi seperti bunyi letusan original di sumbernya, tetapi dapat mirip dentuman," jelasnya.

Contoh Kasus Inversi

Daryono mengatakan, lapisan inversi telah dikenal sebagai salah satu aspek nan menyebabkan musibah kabut asap di sejumlah negara. Peristiwa kabut asap nan parah pada tahun 1948 di Donora, Pennsylvania, (AS) dan pada tahun 1952 di London, Inggris, diakibatkan peningkatan lapisan inversi di atmosfer. Bencana kabut asap London berjalan selama seminggu dan menelan korban jiwa hingga 12.000 orang.

"Akan tetapi gas dan partikulat polutan bukanlah satu-satunya nan disekap oleh lapisan inversi. Beberapa orang dilaporkan mendengar bunyi asing selama terbentuknya lapisan inversi di atmosfer. Gelombang bunyi nan berasal dari kereta api, mobil, petir, dan sumber bunyi lainnya dapat terpantul dari lapisan inversi sehingga terdengar di tempat lain," katanya.

Dia mengatakan kondisi itu terjadi lantaran lapisan inversi berkedudukan sebagai pemantul kurang sempurna bagi gelombang akustik, gelombang radio dan apalagi cahaya.

Selain itu, kejadian lapisan inversi juga berakibat merusak saat Uni Soviet melakukan uji coba ledakan nuklir di Semipalatinsk pada 22 November 1955. Ujicoba tersebut menggunakan peledak RDS-37 nan berkekuatan 1,6 megaton TNT.

"Normalnya gelombang kejut produk ledakan takkan merusak lagi setelah menempuh jarak lebih dari 25 km. Namun keberadaan lapisan inversi membikin gelombang kejut terpantul-pantul berulang kali sehingga tetap bisa merusak gedung kota Kurchatov nan sejauh 65 kilometer. Dampaknya, jendela-jendela kaca rumah penduduk pecah, gedung rumah roboh menyebabkan 3 orang meninggal dan banyak orang mengalami luka-luka di kota tersebut," urainya.

Contoh lain kasus ledakan nan terjadi saat terbentuk lapisan inversi nan berakibat fatal pernah terjadi di Esparto, California. Selama pembuatan movie Mythbusters pada 6 Desember 2011 melibatkan sebuah ledakan. Tak diduga ledakan ini malah menghancurkan jendela-jendela kaca rumah penduduk di sebuah kota nan jaraknya lebih dari 2 km dari sumber ledakan akibat gelombang kejut nan dipantulkan kembali ke bawah oleh lapisan inversi.

Ilustrasi konseptual dari Badan Geologi soal dentuman dari Anak Krakatau terdengar hingga Bandung (dok Badan Geologi)Ilustrasi konseptual dari Badan Geologi soal dentuman dari Anak Krakatau terdengar hingga Bandung (dok Badan Geologi)

Paparan Badan Geologi PVMBG

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilawati, menjelaskan argumen bunyi dentuman nan terdengar hingga Bandung diduga berangkaian dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, daya akustik dari erupsi bisa merambat hingga ratusan kilometer.

"Jadi, jika dari pengamatan nan kami lakukan, tidak hanya untuk Anak Krakatau, tetapi juga beberapa gunung api lainnya di Indonesia, ketika erupsi besar terjadi gitu ya, alias tidak hanya erupsi besar, erupsi dengan jenis tertentu, lantaran jika jenis tuh phreatic ini memang biasanya disertai dentuman nan nyaring," kata Rita dalam konvensi pers dilihat YouTube Badan Geologi, Sabtu (5/9).

"Untuk penyebabnya tadi seperti kami sampaikan, kami memang menduga nih bunyi nan tadi lantaran berasosiasi dengan erupsi Anak Krakatau nan terjadi tadi malam, dugaan kuatnya memang itu berasosiasi dengan gunung api Anak Krakatau," sambungnya.

(jbr/dhn)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News