Anak Muda Didorong Jaga Jakarta: Bawa Tumbler & Tinggalkan Air Tanah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Diskusi publik "Eco-Luxury Jakarta: Menyusun Ulang Standar Estetika Kota nan Bersih dan Ramah Lingkungan" nan diselenggarakan oleh Komunitas Muda Itu Kita di Putih Melati Kantin, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026). Foto: Dok. PAM JAYA

Di kembali megahnya gedung-gedung pencakar langit Jakarta, deretan kafe estetik, dan style hidup kaum urban nan kerap menghiasi media sosial, tersimpan ancaman ekologis nan semakin nyata.

Eksploitasi air tanah nan menyebabkan permukaan tanah Jakarta turun setiap tahunnya dan tingginya konsumsi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) menjadi dua persoalan besar nan menakut-nakuti keberlanjutan ibu kota.

Persoalan besar inilah nan menjadi konsentrasi utama obrolan publik “Eco-Luxury Jakarta: Menyusun Ulang Standar Estetika Kota nan Bersih dan Ramah Lingkungan” nan diselenggarakan oleh Komunitas Muda Itu Kita di Putih Melati Kantin, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026).

Kegiatan ini mempertemukan puluhan peserta nan terdiri dari beragam organisasi seperti organisasi difabel, NGO, pegiat lingkungan, pegiat perkotaan, akademisi, dan generasi muda untuk membahas tantangan ekologis Jakarta sekaligus mendorong tindakan nyata berupa transisi ke air perpipaan dan penggunaan tumbler sebagai bagian dari style hidup berkelanjutan.

Diskusi menghadirkan Fariz Egia Gamal selaku Konten Kreator nan konsen Isue Pekotaan, Rizzah Aulifia selaku Inisiator Platform Melihat Kota, dan Aland Dinda Pradana selaku Edufluencer.

Fariz Gamal mengatakan persoalan krusial nan dihadapi oleh Jakarta saat ini adalah penurunan muka tanah nan bisa mencapai 15 cm setiap tahunnya. Penurunan muka tanah ini bukan arena air laut naik, tetapi lantaran amblesnya tanah akibat pemanfaatan air tanah menggunakan sumur bor.

Diskusi publik "Eco-Luxury Jakarta: Menyusun Ulang Standar Estetika Kota nan Bersih dan Ramah Lingkungan" nan diselenggarakan oleh Komunitas Muda Itu Kita di Putih Melati Kantin, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026). Foto: Dok. PAM JAYA

Pemerintah sudah mempunyai patokan tahun 2021 nan mengatur gedung dengan luas lantai 5.000 meter persegi alias lebih tidak boleh menggunakan air tanah. Kebijakan ini adalah bagian dari sistem nan dibuat pemerintah untuk mencegah Jakarta dari prediksi potensi tenggelam tahun 2050.

“Ini patokan untuk gedung komersil seperti apartemen. Kalau rumah tangga ngebor antara 20-40 meter, sedangkan jika komersil bisa ngebor air tanah sampai 60-100 meter. Kalau air tanah kita ditambang terus menerus, makin ambles. Dan ini nan bikin kita tenggelam,” ujar Gamal dalam aktivitas Diskusi Eco-Luxury Jakarta, Selasa (16/06/2026).

Karena itu, menurut Gamal, masyarakat kudu mulai beranjak dari air tanah ke air perpipaan. Dalam perihal ini, nan bisa dilakukan adalah menjadi pengguna Perusahaan Air Minum (PAM) sebagai corak kepedulian terhadap lingkungan.

“Semua wilayah punya PAM masing-masing lantaran air bersih adalah kewenangan masyarakat. Di Jakarta kebetulan ada PAM JAYA. Dan di sini PAM JAYA memang sedang mengejar sasaran tahun 2029 seluruh bagian Jakarta bisa mempunyai jaringan perpipaan,” terang Gamal.

Aland Pradana mengakui bahwa masyarakat Jakarta khususnya anak muda kudu menjadi bagian dari aktivitas peduli lingkungan. Salah satu kontribusi nan paling mudah adalah mengurangi konsumsi air dari AMDK dengan membawa tumbler ke mana-mana.

“Kita memang bukan pemangku kebijakan publik. Di sini kita bisa berkontribusi, nan paling mudah adalah minum jangan dari AMDK. Dan kita juga mesti mencoba untuk sosialisasikan ke orang-orang sekitar kita untuk bisa menggunakan air perpipaan. Kasih tahu bahayanya air tanah sumur bor kepada teman-teman kita,” terang Aland.

Diskusi publik "Eco-Luxury Jakarta: Menyusun Ulang Standar Estetika Kota nan Bersih dan Ramah Lingkungan" nan diselenggarakan oleh Komunitas Muda Itu Kita di Putih Melati Kantin, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026). Foto: Dok. PAM JAYA

Di sisi lain, menurutnya, anak muda mesti menggunakan media sosial untuk menyebarkan info nan berguna. Termasuk info penggunaan air tanah nan rawan bagi masa depan Jakarta.

“Medsos kita bisa gunakan untuk sebarkan info bahwa tenggelamnya Jakarta bukan lantaran AC (Air Conditioner), tetapi justru lantaran air tanah. Kita mesti bisa bawa narasi ini ke masyarakat,” papar Aland nan juga adalah content creator ini.

Sementara itu, Rizzah Aulifia mengingatkan kepada masyarakat bahwa selama kita tetap minum dari air tanah, itu berfaedah kita berkontribusi pada kesusahan hidup masyarakat ke depan. Dan, andaikan kita juga tetap menggunakan AMDK, itu berfaedah kita juga berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.

“Kita ke manapun mesti bawa tumbler sendiri. Di beberapa titik akomodasi publik seperti perpustakaan, taman, ataupun transportasi umum, PAM JAYA mempunyai beberapa titik pengisian air,” tutup Rizzah.

Diskusi publik "Eco-Luxury Jakarta: Menyusun Ulang Standar Estetika Kota nan Bersih dan Ramah Lingkungan" nan diselenggarakan oleh Komunitas Muda Itu Kita di Putih Melati Kantin, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (16/6/2026). Foto: Dok. PAM JAYA

Dalam acara, diinfokan bahwa, PAM JAYA sudah memasang Water Hub di beragam akomodasi publik Jakarta, seperti Perpustakaan Nasional RI, Taman dan Hutan Kota Tebet, Lapangan Banteng dan titik-titik lainnya mulai dari pemberhentian transportasi umum, sekolah, universitas, taman, tempat olahraga, hingga rumah sakit.

Kegiatan ini menghadirkan dua ahli bicara isyarat bagi organisasi difabel sebagai corak semangat inklusivitas menjaga Jakarta dari beragam kelompok.

Diskusi ditutup dengan aktivitas bagi-bagi tumbler dan seruan pentingnya menjaga Jakarta dengan membawa tumbler dan beranjak ke air perpipaan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan