Anak Krakatau Masih Erupsi, BMKG Sebut Abu Tak Mengarah ke Jakarta

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) diprakirakan tidak mengarah ke Jakarta. BMKG menyebut arah sebaran abu dipengaruhi pergerakan angin pada beragam lapisan atmosfer.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan pemantauan sebaran abu vulkanik merupakan bagian dari tugas BMKG, sementara info mengenai erupsi disampaikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Jadi begini untuk mengenai erupsi itu teman-teman PVMBG sudah menyampaikan. Sedangkan BMKG itu mempunyai tugas gimana akibat daripada abu vulkanik itu sebarannya seperti apa," kata Guswanto seusai Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V DPR dengan Sestama BMKG dan Sestama BNPP/Basarnas dalam pembahasan RKA K/L 2027, Selasa (8/9/2026).

Guswanto menjelaskan, beberapa hari sebelumnya BMKG menemukan dua klaster pergerakan abu vulkanik pada ketinggian berbeda. Pada ketinggian sekitar 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat.

Sementara pada ketinggian 12.000 hingga 15.000 kaki, abu bergerak ke arah timur. Pergerakan inilah nan menurut Guswanto sempat mengganggu sejumlah airport akibat sebaran abu vulkanik.

Untuk kondisi terbaru, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi. Namun, berasas pemantauan BMKG, abu nan keluar saat erupsi tersebut diprakirakan tidak mengarah ke Jakarta.

"Nah, hari ini itu juga meletus. Tetapi barangkali abu nan keluar sudah tidak ada lagi, sehingga jika kita lihat daripada signifikasi meteorologi arahnya itu tidak sampai ke Jakarta," ujarnya.

Meski demikian, Guswanto mengatakan BMKG tidak bisa memastikan secara absolut arah sebaran abu untuk erupsi berikutnya. Sebab, kondisi atmosfer mempunyai perlapisan dengan arah dan kecepatan angin nan dapat berbeda.

Ia menjelaskan, saat ini Indonesia memasuki musim tandus nan secara umum ditandai angin timuran, ialah angin dari Benua Australia menuju Asia.

Dengan kondisi tersebut, abu dari Gunung Anak Krakatau secara umum diprakirakan bergerak ke wilayah barat alias sedikit ke utara.

“Namun kita bahwa atmosfer itu sangat kompleks. Jadi perlapisan kami punya,” katanya.

Untuk mengetahui kondisi angin pada beragam lapisan atmosfer, BMKG menggunakan radiosonde. Alat tersebut digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan angin berasas lapisan atmosfer.

“Nah itu kami melepaskan perangkat nan namanya radiosonde. Dia perlapisan itu dicek arah dan kecepatan anginnya. Nah kemarin kita mendapatkan dua klaster tadi,” tutur Guswanto.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita