Pembukaan Alumni Gathering Indonesia-China Technical Cooperation Program.(MI/DHIKA KUSUMA WINATA)
PENGUATAN pembangunan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu konsentrasi utama kerja sama Indonesia dan Tiongkok. Komitmen itu kembali ditegaskan dalam aktivitas Alumni Gathering Indonesia-China Technical Cooperation Program Silk Road Night Market Reunion nan digelar di Gedung Krida Bhakti, Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (11/6) malam.
Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, menegaskan program peningkatan kapabilitas nan dijalankan pemerintah Tiongkok menjadi salah satu fondasi krusial hubungan kedua negara selama lebih dari dua dekade.
Program capacity building nan dimulai sejak dua dasawarsa lampau melibatkan lebih dari 4.000 ASN Indonesia dari beragam bidang, mulai dari manajemen publik, pembangunan industri, penemuan teknologi, manajemen kebencanaan hingga kesejahteraan masyarakat.
"Selama lebih dari dua dekade, lebih dari 4.000 pegawai pemerintah Indonesia telah mengikuti program ini dalam beragam bidang. Ini bukan hubungan satu arah. Kami juga belajar banyak dari Indonesia. Program ini menjadi proses pembelajaran bagi kedua belah pihak," kata Dubes Wang.
Dia mengatakan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Prabowo Subianto sama-sama meletakkan perhatian besar terhadap pengembangan kapabilitas SDM. Menurutnya, pemberdayaan masyarakat, pertukaran pengetahuan, dan konektivitas antarmanusia menjadi daya baru bagi kemitraan strategis kedua negara.
Di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi dunia nan terus berubah, Wang menilai Indonesia dan Tiongkok mempunyai posisi krusial sebagai mitra strategis di area dan negara-negara Global South.
"Kami bakal terus bekerja sama dengan Indonesia untuk menjunjung keadilan internasional, multilateralisme, serta mendorong perdamaian dan kemakmuran area maupun dunia. nan paling utama, seluruh kerja sama ini kudu memberikan faedah nyata bagi masyarakat Indonesia dan Tiongkok," katanya.
Wang juga menilai para alumni program training menjadi aset berbobot dalam memperkuat hubungan bilateral. Dia berambisi jaringan alumni dapat terus berkembang dan berkontribusi bagi pembangunan kedua negara.
"Kami mau memandang Indonesia nan semakin kuat dan semakin sejahtera. Saya percaya dengan support para alumni, hubungan Indonesia-Tiongkok bakal terus berkembang dan memberikan faedah nan lebih besar bagi masyarakat kedua negara," ujarnya.
Dalam kesempatan nan sama, Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara, Sari Harjanti, menyampaikan apresiasi pemerintah Indonesia atas kontribusi Tiongkok dalam mendukung pengembangan kapabilitas aparatur negara melalui beragam program pendidikan dan pelatihan.
Mewakili Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sari menyebut kerja sama Indonesia dan Tiongkok selama puluhan tahun telah menghasilkan beragam capaian konkret di bagian perdagangan, investasi, infrastruktur, energi, pendidikan hingga pengembangan SDM.
"Kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok mencakup beragam sektor strategis, termasuk pengembangan sumber daya manusia. Kolaborasi ini telah memberikan faedah nyata bagi kedua negara dan terus mendukung kesejahteraan bersama," katanya.
Menurut Sari, antusiasme aparatur pemerintah Indonesia untuk mengikuti program peningkatan kapabilitas internasional terus meningkat dari tahun ke tahun. Tidak hanya training jangka pendek, kesempatan nan tersedia sekarang juga mencakup program pendidikan jenjang magister.
Jumlah peserta program internasional tersebut meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sari menyebut periode 2024-2026 pemerintah Tiongkok menyediakan sedikitnya 173 program training bagi aparatur pemerintah Indonesia. Program tersebut terdiri dari program bergelar dan non-gelar nan disesuaikan dengan prioritas pembangunan nasional Indonesia.
"Kerja sama teknis Indonesia-Tiongkok jauh melampaui sekadar pelatihan. Ini merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia melalui peningkatan kapasitas, transfer pengetahuan, dan ekspansi jejaring internasional," ujar Sari.
Dia menambahkan para alumni juga berkedudukan sebagai penghubung nan mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Tiongkok melalui pengalaman, pengetahuan, serta jejaring nan mereka bangun. Pemerintah Indonesia berambisi organisasi alumni terus berkembang menjadi wadah nan bergerak untuk berbagi praktik terbaik dan memperkuat kerjasama lintas sektor.
"Nilai utama dari program ini bukan hanya pengetahuan dan keahlian nan diperoleh peserta, tetapi juga persahabatan, saling pengertian, dan kepercayaan nan terbangun di antara kedua negara," pungkasnya. (I-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·