Jakarta, CNBC Indonesia - China disebut melakukan "upaya aktif" untuk mendorong gencatan senjata dalam bentrok Iran, di tengah meningkatnya ekspektasi terhadap peran diplomatik Beijing di panggung global. Namun, langkah tersebut dinilai tetap berakar pada kepentingan ekonomi domestik, khususnya menjaga stabilitas ekspor dan pertumbuhan.
Laporan The New York Times mengutip tiga pejabat Iran nan menyebut China terlibat dalam dorongan menuju gencatan senjata sementara. Sementara itu, instansi buletin AFP juga mengutip Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai peran Beijing.
Menanggapi perihal tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan Beijing telah melakukan "upaya aktif" untuk meredakan konflik. Ia mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri Wang Yi telah melakukan 26 panggilan telepon dengan perwakilan beragam negara, termasuk Rusia, Arab Saudi, Jerman, dan Iran sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Namun demikian, Mao tidak secara definitif mengonfirmasi adanya peran mediasi langsung.
China sebelumnya menyerukan "penghentian segera" operasi militer pascaserangan tersebut. Ketika ditanya soal serangan jawaban Iran, Beijing hanya mendesak "semua pihak" menahan diri guna mencegah eskalasi konflik.
Peneliti senior Council on Foreign Relations, Zongyuan Zoe Liu, menilai langkah China lebih berkarakter fasilitasi daripada mediasi langsung.
"Apa nan dilakukan Beijing sebenarnya bukan tentang mediasi langsung. Lebih tepatnya, memfasilitasi gencatan senjata," ujarnya, dikutip CNBC International, Jumat (10/4/2026). "Dari perspektif itu, tidak ada nan berubah dalam kebijakan luar negeri Beijing."
Menurut Liu, perhatian utama China justru terletak pada akibat ekonomi dunia dari bentrok tersebut. Sebagai ekonomi berbasis ekspor, China sangat rentan terhadap gangguan perdagangan internasional. Tahun lalu, ekspor bersih menyumbang sekitar sepertiga dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva juga memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia tetap bakal melambat meski gencatan senjata tercapai, terutama lantaran ketidakpastian di Selat Hormuz.
Selat ini merupakan jalur vital nan menangani sekitar 20% pasokan minyak global. Bagi China, jalur tersebut krusial lantaran nyaris separuh impor minyak lautnya melintasi area itu, meski hanya menyumbang sekitar 6,6% dari total konsumsi daya nasional.
Direktur studi politik internasional Akademi Ilmu Sosial China, Zhao Hai, menyebut negaranya menghadapi tekanan besar akibat lonjakan biaya energi.
"China menghadapi tekanan besar lantaran biaya daya nan meningkat pesat, dan berambisi Selat Hormuz segera dibuka kembali," ujarnya.
Data menunjukkan, nilai bensin di China melonjak 11% pada Maret dibanding bulan sebelumnya. Pemerintah apalagi telah meningkatkan nilai bensin domestik dua kali dalam enam minggu, dengan total kenaikan 1.580 yuan per metrik ton alias setara sekitar US$0,60 per galon.
Kenaikan ini turut menekan margin industri manufaktur, memperbesar tekanan nilai di sektor produksi.
Sementara itu, nilai minyak mentah Brent tetap berada di bawah US$100 per barel, meski ada tanda-tanda pemulihan pengedaran melalui Selat Hormuz. Di sisi lain, serangan Iran terhadap prasarana minyak Arab Saudi turut memangkas produksi negara tersebut.
Peran Diplomatik dan Batasannya
Langkah China ini juga tak lepas dari rekam jejaknya dalam memediasi normalisasi hubungan Iran dan Arab Saudi beberapa tahun lalu. Keberhasilan itu sempat meningkatkan profil Beijing di Timur Tengah.
Namun, Zhao menegaskan China tidak mempunyai kapabilitas maupun kemauan untuk menekan pihak-pihak nan berkonflik agar bernegosiasi. Ia menyebut support Beijing lebih berfaedah memperkuat upaya mediasi negara lain, seperti Pakistan.
Pakistan dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan pemimpin Iran dan AS di Islamabad untuk membahas gencatan senjata. Meski demikian, peran langsung China dalam pertemuan tersebut tetap belum jelas.
"Kami mendukung upaya mediasi oleh negara-negara termasuk Pakistan," kata Mao. "China telah melakukan upaya aktif untuk tujuan ini."
Pada akhir Maret, China dan Pakistan juga merilis rencana berbareng untuk memulihkan stabilitas di Timur Tengah, termasuk mendorong gencatan senjata dan normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Meski demikian, dinamika geopolitik dunia dinilai belum berubah. Liu menilai ketegangan struktural antara ketergantungan China pada tatanan dunia berbasis patokan dan upaya AS untuk mengubahnya tetap belum terselesaikan.
"Ketegangan itu tetap ada. Itulah cerita besar di kembali rumor gencatan senjata ini," ujarnya.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·