Akses Inovasi Kesehatan Diperlukan untuk Menghadapi Pandemi Senyap Resistensi Antimikroba

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Akses Inovasi Kesehatan Diperlukan untuk Menghadapi Pandemi Senyap Resistensi Antimikroba Ilustrasi(MI/HO)

RESISTENSI antimikroba (AMR) sekarang menjadi salah satu ancaman kesehatan paling serius nan dihadapi dunia, termasuk Indonesia. Sering dijuluki sebagai "pandemi senyap" (silent pandemic), AMR bekerja secara mematikan di bawah radar lantaran terjadi saat kuman berevolusi menjadi kebal terhadap pengobatan antibiotik standar.

Dampaknya tidak main-main. Berdasarkan info Global Research on Antimicrobial Resistance (GRAM) tahun 2021, Indonesia mencatat nomor kematian nan signifikan akibat kondisi ini. Kelompok usia lanjut menjadi salah satu nan paling rentan, dengan perkiraan puluhan ribu kematian dalam setahun.

Kategori Data Statistik / Estimasi
Kematian Langsung akibat AMR (Indonesia, 2021) ~36.500 jiwa
Kematian Terkait AMR (Indonesia, 2021) ~147.000 jiwa
Kematian Kelompok Lansia (Indonesia, 2021) ~61.500 jiwa
Proyeksi Kematian Global (2050) 10 juta jiwa per tahun

Tantangan di Unit Perawatan Intensif (ICU)

Kondisi semakin kritis ditemukan di unit perawatan intensif (ICU). Temuan Pfizer ATLAS (Antimicrobial Testing Leadership and Surveillance) nan menganalisis lebih dari 245 ribu isolat klinis antara 2020-2024 menunjukkan tren nan mengkhawatirkan. Satu dari empat kuman nan teridentifikasi sudah berkarakter multidrug-resistant (MDR).

dr. Dicky Teguh Santoso, Country Medical Lead Pfizer Indonesia, menjelaskan bahwa jangkitan oleh kuman resisten secara signifikan membatasi pilihan terapi.

"Kondisi ini meningkatkan kompleksitas penanganan pasien dan menegaskan pentingnya upaya berkepanjangan untuk memastikan kesiapan opsi pengobatan nan sesuai," ujarnya.

Salah satu ancaman terbesar adalah kuman penghasil enzim metallo-beta-lactamase (MBL). Enzim ini bisa merusak antibiotik kelas karbapenem, nan selama ini menjadi senjata pamungkas untuk jangkitan berat.

Jenis Resistensi (Data Pfizer ATLAS 2020-2024) Persentase / Jumlah
Multidrug-resistant (MDR) 25,25%
Difficult-to-treat resistant (DTR) 9,56%
Isolat Penghasil Enzim MBL 4.442 isolat

Inovasi Terapi dan Strategi Nasional

Menjawab tantangan tersebut, Pfizer memperkenalkan penemuan kombinasi aztreonam dan avibactam. Terapi ini dirancang dengan sistem dua lapis: aztreonam menyerang kuman dan tahan terhadap enzim MBL, sementara avibactam melindungi aztreonam dari enzim resistensi lainnya.

Inovasi ini telah mendapatkan persetujuan Nomor Izin Edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Langkah ini sejalan dengan Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba 2025-2029 nan diluncurkan Kementerian Kesehatan RI berbareng WHO.

Deborah P. Seifert, Cluster President Pfizer untuk wilayah Malaysia-Indonesia-Singapore-Philippines (MISP), menekankan bahwa AMR adalah tanggung jawab kolektif.

"Kami mengapresiasi peran BPOM dalam mendorong pertimbangan berbasis sains nan efisien. Kehadiran penemuan ilmiah sangat krusial untuk menjawab kebutuhan medis nan belum terpenuhi, terutama bagi golongan rentan," pungkas Deborah. (Z-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia