Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan Indonesia tidak termasuk negara Asia nan dituding Amerika Serikat (AS) melakukan upaya pelemahan mata duit untuk mendongkrak daya saing dengan sengaja alias currency manipulation.
"Amerika merasa bahwa beberapa negara di Asia itu melakukan currency manipulation untuk memperkuat daya saing, sengaja memperlemah currency-nya. Indonesia tidak termasuk dalam negara tersebut. Jadi ini nan terus kita jaga," ujar Airlangga, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (29/4/2026).
Seperti diketahui, sejak awal tahun 2026, Amerika Serikat terus mengawasi mitra jual beli Asia mengenai praktik manipulasi mata uang. Kementerian Keuangan AS memperkuat pemantauan terhadap negara-negara nan mungkin menolak apresiasi terhadap dolar.
Salah satu nan dicurigai adalah China. Negeri Panda ini seringkali disebut-sebut lantaran kurangnya transparansi pergerakan nilai tukarnya.
Terkait dengan pelemahan rupiah hingga menyentuh, Airlangga menuturkan pemerintah berbareng Bank Indonesia (BI) tetap memantau ketat pergerakan rupiah dan menjaga stabilitas makroprudensial. Sementara itu, dia juga memastikan pemerintah tidak bakal mengambil langkah nan bertentangan secara frontal dengan tekanan pasar global.
"Pemerintah tetap menjaga makro prudensialnya berbareng dengan BI memonitor rupiah. Namun tentu kita tidak against the flow ya. Kalau flow-nya, anginnya headwind tentu kita tidak untuk menabrak, tapi dengan beragam kebijakan," katanya.
Airlangga pun menilai pelemahan mata duit saat ini bukan hanya dialami Indonesia. Yen Jepang dan sejumlah mata duit Asia lainnya juga ikut mengalami tekanan akibat sentimen dunia nan sama.
Oleh lantaran itu, Airlangga memastikan pelemahan rupiah bukanlah hasil kebijakan pemerintah nan sengaja membiarkan kurs melemah demi ekspor, melainkan lebih dipengaruhi tekanan eksternal.
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·