Air Lumpur Lapindo Merembes di Tanggul Titik 71 Sidoarjo

Sedang Trending 20 jam yang lalu
Air Lumpur Lapindo Merembes di Tanggul Titik 71 Sidoarjo (MI/Hery Susetyo)

AIR bercampur lumpur kembali merembes dari area tanggul penahan Lumpur Lapindo di Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Peristiwa nan terjadi di titik 71 sisi timur Pilar Tol Buntung tersebut dipastikan bukan akibat meluber alias tanggul jebol, melainkan rembesan dari bagian bawah struktur tanggul.

Kasatker Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Mahdani, menjelaskan bahwa titik 10D-71 berjarak sekitar 700 hingga 900 meter dari pusat semburan utama. Kedekatan letak ini menyebabkan aliran lumpur terkonsentrasi di area tersebut, nan kemudian memicu munculnya celah di tanah.

"Ini bukan meluber. Rembesan terjadi dari bawah melalui celah tanah hitam alias lumpur akibat penurunan volume dan penyusutan tanah," ujar Mahdani, Kamis (3/9).

Menurut Mahdani, kejadian penurunan tanah (subsidence) di area tersebut merupakan proses alami dengan laju penurunan berkisar antara 20 hingga 50 sentimeter per tahun. Kondisi geologis ini mengharuskan bangunan tanggul disesuaikan secara berkepanjangan agar tetap kokoh menahan beban lumpur.

Sebagai langkah penanganan cepat, PPLS tengah melakukan peninggian tanggul. Saat ini, ketinggian endapan lumpur di letak telah mencapai 9,2 meter dari dasar. PPLS menargetkan elevasi tanggul ditingkatkan hingga mencapai 10 meter untuk memastikan keamanan area sekitar.

Guna mempercepat proses peninggian dan pemadatan struktur tanggul, PPLS telah memobilisasi tiga unit perangkat berat ke letak kejadian. Selain penanganan teknis, PPLS juga menginstruksikan seluruh personel lapangan untuk berkoordinasi satu pintu dalam penyampaian info guna menghindari kesimpangsiuran di tengah masyarakat.

PPLS menegaskan bahwa kejadian rembesan ini bukanlah corak kegagalan struktur maupun indikasi tanggul bakal jebol. Penanganan intensif di titik 71 terus dilakukan agar kegunaan penampungan dan pengendalian aliran lumpur tetap melangkah optimal. (I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia