Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Digital dan Informasi (Komdigi) Edwin Hidayat Abdullah(MI/Arnoldus dhae)
PEMERINTAH terus menyiapkan kerangka izin dan tata kelola kepintaran artifisial. Hal itu sering pesatnya pertumbuhan AI di Indonesia. Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Digital dan Informasi (Komdigi) Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, tumbuh pesatntya penggunaan AI membikin pelaku industri pusat info mulai masuk ke Indonesia.
"Anda mungkin sudah membaca berita bahwa Indosat dan NVIDIA berencana melakukan investasi di Indonesia. Bartato berencana memperluas kapasitasnya," kata Edwin di Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) di Nusa Dua, Kamis (27/8).
Dia menjelaskan, pesatnya penggunaan AI terlihat dimana 92 persen masyarakat pekerja sudah mengenal fitur kepintaran buatan ini.
Hanya saja masalahnya, hanya 15% dari mereka nan menggunakannya secara produktif. Jadi sebagian besar hanya menggunakannya untuk berselancar internet. Tingginya pertumbuhan AI di Indonesia telah berkonsekuensi pada pesatnya pertumbuhan sektor pusat data. Saat ini diperkirakan konsumsi pusat info kurang dari 2 Megawatt.
Namun, dalam tujuh tahun ke depan, diperkirakan bakal mecapai 10 Megawatt. Angka ini nyaris sembilan kali lipat lebih tinggi. Menurut Edwin, izin dan tata kelola diperlukan agar pasar tetap kompetitif, inovatif dan bisa mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi.
"Kami sudah membangun fondasi, dua rangkaian izin AI dan merampungkan road map-nya," ungkapnya.
Dia memaparkan, fondasi nan telah dibangun itu mencakup investasi untuk membangun infrastruktur, sumber daya, pendidikan, penelitian dan data.
Investasi besar-besaran salah satunya dialokasikan untuk pendidikan.
"Kita butuh lebih dari 9 juta talenta bekerjasana dengan perusahaan teknologi dan masyarakat sipil," ujar Edwin. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·