Ahli Gizi Ungkap Pola Minum Efektif Cegah Dehidrasi saat Suhu Panas

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Ahli Gizi Ungkap Pola Minum Efektif Cegah Dehidrasi saat Suhu Panas ilustrasi(Magnific)

CUACA panas selama musim kemarau menuntut kewaspadaan tinggi terhadap ancaman dehidrasi, khususnya bagi masyarakat nan beraktivitas di luar ruangan. Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat wilayah Indonesia menghadapi musim tandus nan lebih kering dan panjang dari biasanya sepanjang tahun 2026.

Dietisien dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta sekaligus Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Fitri Hudayani, SST., S.Gz, MKM, RD, menjelaskan bahwa penurunan cairan tubuh terjadi secara akumulatif melalui keringat serta penguapan lewat saluran pernapasan saat suhu udara panas.

"Kita bakal merasa haus jika tubuh kita mulai kehilangan 1-2 persen cairan, dan orang bisa mulai dehidrasi ringan saat belum mulai terasa haus," ujar Fitri dikutip Antara, Selasa (15/9).

Panduan Takaran Cairan dan Strategi Hidrasi di Cuaca Panas

Guna mengantisipasi defisit cairan, kebutuhan air harian dianjurkan berada di kisaran 2 liter hingga 2,5 liter alias setara 8 hingga 10 gelas per hari. Khusus pada kondisi cuaca panas dengan aktivitas bentuk padat dan keluarnya banyak keringat, asupan cairan wajib ditambah 0,5 liter hingga 1 liter dari kebiasaan normal.

Sumber cairan tidak terbatas pada air putih semata, tetapi dapat diperoleh dari konsumsi buah-buahan berair, kuah sayuran, serta menu pangan berhidrasi tinggi.

Fitri menekankan pentingnya pola preventive drinking alias minum secara periodik tanpa menunggu munculnya sensasi haus:

  • Saat beraktivitas di luar ruangan, tingkatkan gelombang minum, misalnya mengonsumsi satu gelas air (250 cc) setiap 15 hingga 20 menit.
  • Pilihan cairan pengganti seperti kopi, teh, alias minuman berenergi tetap dapat dikonsumsi, namun asupan minuman tinggi gula wajib dibatasi guna meredam akibat gangguan metabolisme lain.
  • Konsumsi buah secara teratur di tengah cuaca panas efektif menopang pasokan mineral tubuh, diimbangi makanan bergizi seimbang untuk menjaga stamina.

Prakiraan BMKG

Pola hidrasi ketat ini menjadi krusial mengingat proyeksi klimatologi dari BMKG. Berdasarkan pemantauan atmosfer, tandus 2026 nan lebih kering dan panjang diperkirakan berangsur mereda melalui kehadiran musim hujan secara berjenjang mulai pertengahan Oktober 2026 di wilayah Jambi, Sumatra Selatan, dan Lampung.

Sementara itu, wilayah penyangga dan padat mobilitas seperti Banten dan Jawa Barat diprakirakan baru mulai memasuki fase awal musim hujan pada November 2026 mendatang.

Masyarakat diimbau tetap disiplin membawa bekal air minum, mengenakan pelindung diri seperti topi alias payung saat di luar ruangan, serta mengenali tanda awal dehidrasi demi menjaga kebugaran di tengah panjangnya musim tandus tahun ini. (Ant/P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia