Ada Usul Smelter Aluminium Dimoratorium, Ini Kata ESDM

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka bunyi mengenai usulan moratorium pembangunan smelter alumina dan aluminium nan mencuat belakangan ini.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menegaskan, hingga saat ini pemerintah belum melakukan kajian unik mengenai usulan tersebut.

Ia menjelaskan, pengembangan smelter selama ini terbagi dalam dua skema, ialah smelter nan berdiri sendiri (stand alone) dan smelter nan terintegrasi dengan industri hilir.

"Belum, belum. Kan selama ini smelter ini kan ada dua, nan satu nan mengenai dengan stand alone, nan satu nan terintegrasi. Kalau nan stand alone kan di Kementerian Perindustrian," ujar Tri di Gedung DPR RI, Rabu (15/4/2026).

Sebelumnya, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menyoroti pentingnya kebijakan moratorium pembangunan smelter alumina dan aluminium. Terutama di tengah proyeksi lonjakan kebutuhan bauksit dalam beberapa tahun ke depan.

Direktur Utama Inalum Melati Sarnita mengatakan rumor tersebut sempat dibahas dalam kunjungan kerja di Pontianak, Kalimantan Barat. Menurutnya, pembahasan berangkat dari paparan Kementerian ESDM mengenai kondisi sumber daya dan persediaan bauksit nasional per 2024.

Berdasarkan info nan digunakan Inalum, persediaan terbukti bauksit Indonesia saat ini mencapai sekitar 1 miliar ton, dengan total persediaan sebesar 2,8 miliar ton.

"Angka-angka ini kemudian kita lakukan dalam beberapa review dan juga beberapa publikasi mengenai forecast dari kapabilitas alumina refinery Indonesia untuk 10 tahun ke depannya," kata Melati dalam RDP berbareng Komisi VI DPR RI, Selasa (31/3/2026).

Menurut Melati, berasas info dari Wood Mackenzie dan Fastmarkets terdapat sekitar 13 perusahaan nan berencana membangun alumina refinery di Indonesia dalam 10 tahun ke depan.

Sementara, kapabilitas terpasang alumina refinery pada 2026 diperkirakan sekitar 9 juta ton per tahun. Namun, kapabilitas tersebut dapat meningkat hingga 29,8 juta ton per tahun jika seluruh proyek terealisasi.

"Melalui angka-angka ini kami hitung kembali perkiraan dari kebutuhan bauksit nan bakal diperlukan untuk alumina refinery nan ada di dalam list ini," ujarnya.

Melati membeberkan untuk akomodasi refinery nan sudah ada, kebutuhan bauksit mencapai sekitar 29-36 juta ton per tahun. Adapun, jika seluruh proyek refinery beroperasi, kebutuhan dapat meningkat hingga 80-94 juta ton per tahun.

Peningkatan kapabilitas ini, menurut dia bakal menambah tekanan pada persediaan bauksit Indonesia lantaran intensitas penggunaan dari smelter alumina refinery.

Dalam perihal ini berpotensi menurunkan ketahanan persediaan bauksit terbukti dalam negeri hingga kurang dari 10 tahun pemakaian dan total persediaan bauksit hingga 28 tahun pemakaian.

"Ini menjadi concern sangat besar untuk kami lantaran salah satu investasi kami smelter aluminum mempawah itu mempunyai umur keekonomian 30 tahun. Berikut untuk Indonesia primary aluminum smelter forecast kapasitas," kata dia.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News