Ada Potensi AS-Iran Damai dan Rapat The Fed, Begini Proyeksi Rupiah Pekan Ini

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Sejumlah duit kertas pecahan 100.000 rupiah Indonesia difoto di samping duit kertas pecahan 100 dolar AS di sebuah tempat penukaran mata duit di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan tetap bakal bergerak naik turun pada pekan ini, seiring pelaku pasar mencermati hasil rapat bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) dan perkembangan kesepakatan tenteram antara AS dan Iran.

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan pelemahan rupiah pada awal Juni dipicu keluarnya modal asing (capital outflow). Namun, pada pekan lampau rupiah kembali menguat seiring masuknya aliran modal ke pasar saham, surat utang negara, hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Selain itu, kenaikan suku kembang referensi Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,5 persen turut menopang penguatan rupiah.

"Kalau tren penguatan nan terjadi ya level Rp 17.682 itu kemungkinan bisa, walaupun untuk resistennya ini agak lebar ya bisa ke Rp 18.221 lagi," ujar Myrdal kepada kumparan, Senin (15/6).

Menurutnya, penguatan rupiah pada pekan lampau juga ditopang oleh masuknya devisa hasil ekspor nan cukup besar. Kondisi tersebut mendorong banyak eksportir mengonversi kurs asing ke rupiah sehingga nilai tukar kembali menguat ke bawah level Rp 18.000 per dolar AS.

Meski demikian, Myrdal menilai arah pergerakan rupiah pada pekan ini tetap dipenuhi ketidakpastian, terutama mengenai perkembangan perjanjian tenteram AS-Iran, termasuk potensi pembukaan kembali akses Selat Hormuz.

"Kalau misalkan memang Selat Hormuz jadi dibuka, saya rasa inflow bakal masuk semakin deras ke pasar finansial Indonesia," ungkapnya.

Keputusan The Fed dan BI Pengaruhi Nasib Rupiah

Karyawan menghitung duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata duit asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Selain perkembangan geopolitik, Myrdal mengatakan sejumlah agenda ekonomi pada pekan ini bakal menjadi penentu arah rupiah, terutama keputusan suku kembang referensi The Fed dan Bank Indonesia.

"Kita berambisi rapat The Fed tidak ada perubahan kebijakan kenaikan suku kembang ya, dan keputusan Amerika mengenai dengan perjanjian tenteram dengan Iran juga bisa berjalan lebih sigap realisasinya sehingga The Fed juga mempunyai proyeksi nomor untuk suku bunga," jelasnya.

Ia berambisi The Fed mempertahankan, alias apalagi menurunkan, suku kembang referensi agar indeks dolar AS tidak semakin menguat terhadap mata duit lainnya. Hal serupa juga diharapkan dari hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia nan digelar pada pekan ini.

"Kita harapkan juga BI Rate tidak ada perubahan juga untuk nan periode saat ini, apalagi nilai tukar rupiah kita juga kuat," imbuhnya.

Sementara itu, pengamat pasar duit Ariston Tjendra mengatakan pergerakan rupiah pada pekan ini juga bakal dipengaruhi perkembangan penandatanganan kesepakatan tenteram AS-Iran.

Menurutnya, jika perdamaian kedua negara terealisasi, pembukaan Selat Hormuz berpotensi menurunkan nilai minyak mentah dan meredakan tekanan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan minat penanammodal terhadap aset berisiko, termasuk rupiah.

"Pekan ini penguatan berpotensi ke arah Rp 17.500 (per dolar AS)," kata Ariston.

Berdasarkan info Bloomberg, rupiah di pasar spot pada Jumat (12/6) ditutup di level Rp 17.860 per dolar AS, menguat 0,72 persen setelah sempat menembus level di atas Rp 18.200 per dolar AS pada 4 Juni 2026.

instagram embed

Di sisi lain, pengamat pasar duit dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi indeks dolar AS (DXY) tetap berpotensi menguat pada pekan ini dengan level support di 99,100 dan resistance di 100,700.

"Kemudian resistennya di USD 100,700. Jadi tetap ada indikasi bahwa indeks dolar Amerika itu bakal kembali menguat di level USD 100,700," ujar Ibrahim.

Menurutnya, terdapat dua aspek utama nan bakal memengaruhi pergerakan indeks dolar AS, nilai minyak mentah, dan emas pada pekan ini, ialah dinamika geopolitik di Timur Tengah dan keputusan suku kembang The Fed.

"Presiden Amerika Serikat pada Sabtu mengatakan bahwa kesepakatan tenteram dengan Iran dijadwalkan bakal ditandatangani pada hari Minggu. Isi dari perdamaian ini adalah pembukaan Selat Hormuz bakal dibuka setelah ada penandatanganan," tuturnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan