Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi menjadikan China serta Rusia sebagai tokoh kunci nan menentukan daya tahan Teheran menghadapi tekanan Washington. Di tengah negosiasi nan kembali menemui jalan buntu akibat operasi militer Israel di Lebanon, kedua negara dinilai mempunyai peran krusial dalam menopang Iran dari sisi ekonomi, diplomatik, hingga pertahanan.
"Iran memandang bahwa Trump pada dasarnya berupaya mengulur waktu. Sebagai respons, Teheran secara logis bakal memperkuat hubungan dengan Beijing dan Moskow untuk menghadapi tantangan ekonomi serta mempersiapkan diri jika konfrontasi militer kembali terjadi," ujar Kepala lembaga ahli filsafat Institute for Revival of Politics di Teheran, Mehdi Kharratiyan, kepada Newsweek, dikutip Rabu (3/6/2026).
Selama bertahun-tahun, Iran telah membangun hubungan nan makin erat dengan China dan Rusia. Meski tidak terikat dalam aliansi militer formal, kedua negara tetap menjadi mitra strategis nan membantu Teheran memperkuat di tengah upaya AS mengisolasi Republik Islam tersebut melalui beragam sanksi.
Tekanan terhadap Gedung Putih juga terus meningkat. Konflik nan berkepanjangan memicu kenaikan biaya daya akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz, sementara stok amunisi AS disebut semakin terkuras. Di sisi lain, Iran mengandalkan strategi perang ketahanan nan selama ini menjadi bagian krusial dari doktrin militernya.
Kharratiyan menilai Washington berambisi tekanan ekonomi dan blokade maritim bakal memaksa Iran menerima syarat-syarat nan diajukan Presiden Donald Trump. Namun, menurutnya, Teheran tetap bersikeras bahwa penghentian bentrok kudu mencakup seluruh front pertempuran, termasuk Lebanon nan menjadi pedoman golongan Hizbullah, sekutu utama Iran.
"Iran memandang Lebanon sebagai rumor eksistensial dan menyangkut prestise geopolitiknya di Timur Tengah. Karena itu, sangat susah membayangkan adanya gencatan senjata antara Iran dan AS tanpa penyelesaian rumor Lebanon," kata Kharratiyan.
Di tengah kebuntuan tersebut, China dan Rusia dinilai mempunyai kepentingan untuk memastikan Iran tidak mengalami pelemahan signifikan. Ketua bagian keamanan dunia dan geostrategi di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Jon Alterman, mengatakan kedua negara sama-sama diuntungkan ketika perhatian AS tersita oleh bentrok lain.
"Rusia dan China mempunyai kepentingan agar Amerika Serikat teralihkan oleh ancaman selain mereka sendiri. Ketiganya juga sama-sama menentang kekuasaan AS dan penggunaan hukuman sebagai instrumen tekanan global," ujar Alterman.
Meski demikian, support Beijing dan Moskow kepada Teheran diperkirakan tetap mempunyai batas. Perjanjian kemitraan strategis nan ditandatangani Iran dan Rusia tidak memuat klausul pertahanan berbareng seperti nan dimiliki Moskow dengan Korea Utara. Begitu pula kemitraan 25 tahun Iran-China nan lebih banyak berfokus pada investasi dan kerja sama ekonomi.
Dalam praktiknya, China menjadi penyelamat krusial bagi ekonomi Iran. Negeri Tirai Bambu itu membeli sebagian besar ekspor minyak Iran nan terkena hukuman Barat. Wakil Presiden Center for European Policy Analysis (CEPA), Christopher Walker, apalagi menyebut perusahaan-perusahaan China membantu membangun salah satu jaringan penghindaran hukuman terbesar nan pernah ada.
Selain perdagangan energi, beragam laporan juga menyebut Iran memperoleh faedah dari pertukaran intelijen dengan China dan Rusia. Dukungan tersebut mencakup akses gambaran satelit hingga info mengenai pergerakan pasukan dan aset militer AS di kawasan.
Meski hubungan ketiga negara semakin erat, para pengamat menilai Teheran tetap menyadari bahwa Beijing dan Moskow tidak bakal bertempur secara langsung demi memihak Iran. Bagi China maupun Rusia, hubungan dengan negara-negara Teluk nan kaya minyak seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga mempunyai nilai strategis nan besar.
"China dan Rusia lebih krusial bagi Iran daripada sebaliknya. Iran menyumbang kurang dari 1% perdagangan China, sementara China merupakan pengguna minyak terbesar Iran. Keduanya memandang Iran sebagai kesempatan untuk melemahkan pengaruh dunia Amerika Serikat," kata Alterman.
Karena itu, masa depan kerja sama ketiga negara kemungkinan tidak bakal berkembang menjadi aliansi militer formal. Menurut akademisi Universitas Tufts, Arash Reisinezhad, konsentrasi utama bakal bergeser ke pembangunan konektivitas Eurasia melalui jalur perdagangan, logistik, dan koridor ekonomi nan menghubungkan Asia Timur, Asia Tengah, Rusia, hingga Timur Tengah.
Bagi China dan Rusia, stabilitas Iran menjadi aset strategis nan penting. Meski tidak bakal turun langsung ke medan perang, kedua negara mempunyai kepentingan kuat untuk menjaga Teheran tetap memperkuat sebagai mitra nan dapat membantu menyeimbangkan pengaruh AS di area dan memperkuat jaringan geopolitik Eurasia.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·