Jakarta, CNBC Indonesia - Laman Singapura, Channel News Asia (CNA) membikin kajian sendiri soal ekonomi negeri itu. Di tengah angka-angka ekonomi nan baik, dilaporkan gimana tak semua penduduk Singapura merasakannya.
Perlu diketahui, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Singapura tumbuh 5,7% secara tahunan pada kuartal II-2026. Ekonomi diperkirakan mencapai 4,5% hingga 5,5% tahun ini.
Ekspor nonmigas meningkat pesat sementara sektor kepintaran buatan (AI) dan teknologi memimpin pertumbuhan. Tapi, domestik mencatat keahlian nan lebih lemah.
Sektor-sektor nan tidak mengenai dengan ledakan AI dunia menghadapi tekanan dari akibat geopolitik dan melemahnya sentimen konsumen akibat tekanan inflasi. Hal ini pada akhirnya menunjukkan ekonomi Singapura tidak merata, dengan mulai munculnya pola "pertumbuhan berbentuk K" namalain K-shaped growth.
Apa Itu Pertumbuhan Berbentuk K?
Pertumbuhan berbentuk K menggambarkan kondisi ketika "berbagai bagian ekonomi tumbuh dengan kecepatan berbeda alias apalagi bergerak ke arah nan berlawanan". Secara mudah ini bisa diartikan sebagai "kondisi ketika pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan secara merata oleh seluruh sektor alias golongan masyarakat".
"Pertumbuhan nan terlihat dari nomor utama memang kuat," kata ahli ekonomi Maybank Securities Singapore, Brian Lee, dikutip Jumat (28/8/2026).
"Tetapi di baliknya cukup tidak merata," tambahnya.
Ya, sektor domestik dan sektor nan berhadapan langsung dengan konsumen lemah di Singapura. Sektor ritel serta makanan dan minuman (F&B) misalnya, menghadapi tingginya biaya sewa dan tenaga kerja.
Di sisi lain, konsumen tetap cukup berhati-hati dalam membelanjakan duit mereka di dalam negeri. Tapi, sebagian malah lebih suka membelanjakan uangnya di luar negeri akibat penguatan dolar Singapura nan membikin perjalanan dan shopping di area regional menjadi relatif lebih menarik.
"Pertumbuhan berbentuk K paling terlihat dari apa nan diproduksi pabrik-pabrik Singapura dan dijual ke pasar luar negeri," kata Kepala Riset Asia di ANZ, Khoon Goh.
"Hal ini paling terlihat pada ekspor domestik nonmigas Singapura, ketika pertumbuhan ekspor elektronik melonjak, sementara produk non-elektronik tidak mengalami perihal serupa," ujar Goh.
Perlu diketahui, pada Juli, ekspor domestik nonmigas elektronik melonjak 112% secara tahunan. Sementara itu, ekspor non-elektronik turun 2,3%.
Goh menambahkan bahwa nyaris 60% pertumbuhan pada paruh pertama tahun ini berasal dari sektor manufaktur dan logistik. Sementara itu, sektor makanan dan minuman justru mengalami kontraksi 0,7%, sedangkan perdagangan ritel dan jasa nonprofesional mencatat pertumbuhan nan lebih moderat.
Para ahli ekonomi menilai sektor-sektor dengan keahlian terbaik dalam beberapa kuartal terakhir bukanlah sektor nan padat karya. Sebaliknya, sektor nan mengalami pelemahan justru banyak menyerap tenaga kerja.
Goh mengatakan sektor ritel, perhotelan, dan jasa nonkeuangan menyumbang 24% perekonomian Singapura. Sayangnya, sektor ini hanya mempekerjakan sekitar separuh dari total tenaga kerja.
"Karena itu, muncul emosi di masyarakat bahwa pertumbuhan PDB nan kuat belum memberikan faedah bagi pekerja, terutama dengan adanya perubahan di pasar tenaga kerja akibat AI nan memaksa perusahaan melakukan restrukturisasi agar tetap relevan," ujarnya.
Meski demikian, sejumlah ahli ekonomi lain berhati-hati dengan label "pertumbuhan berbentuk K" untuk Singapura. Mereka lebih memilih menggambarkannya sebagai "kuat, tetapi relatif sempit dan tidak merata".
Ekonom Standard Chartered Edward Lee dan Jonathan Koh misalnya. Dalam laporannya, keduanya mengatakan rumah tangga merasakan kondisi ekonomi terutama melalui keamanan pekerjaan, upah, dan daya beli, bukan melalui nomor PDB secara keseluruhan.
"Pertumbuhan PDB nan kuat dari sektor perdagangan belum menghasilkan peningkatan lapangan kerja nan sebanding. Ini menunjukkan bahwa pemulihan sektor eksternal sejauh ini relatif minim dalam menciptakan lapangan kerja," kata keduanya.
Menteri Perdagangan dan Industri (Energi dan Industri) Singapura Tan See Leng mengatakan AI dan otomatisasi memungkinkan perusahaan meningkatkan produksi dengan jumlah pekerja nan lebih sedikit.
"Karena itu, kita tidak bisa lagi berasumsi bahwa pertumbuhan secara otomatis bakal menciptakan jumlah, jenis, alias ragam pekerjaan nan sama seperti sebelumnya," ujarnya.
Keunggulan Singapura, menurutnya, bakal berjuntai pada seberapa adaptif negara tersebu. Termasuk melalui upaya proaktif dalam mengarahkan mengambil teknologi dan meningkatkan keahlian pekerja agar bisa mengisi pekerjaan baru maupun pekerjaan nan telah mengalami perubahan.
Harus Ditangani
Sementara itu, peneliti utama tambahan di Institute of Policy Studies, Tab Ern Set mengatakan kondisi ini kudu segera ditangani. Pertumbuhan ekonomi nan tidak merata dapat menciptakan "ekonomi ganda".
Artinya, perekonomian dapat terbagi menjadi dua segmen. Pertama, pekerja berilmu nan mendapatkan untung dari kemajuan teknologi dan peningkatan produktivitas dan kedua, pekerja berketerampilan rendah nan menghadapi pertumbuhan bayaran lebih lemah dan ancaman kehilangan pekerjaan.
"Kedua segmen tersebut dipisahkan oleh kesenjangan, dengan kesempatan perpindahan nan rendah dari golongan nan kurang beruntung menuju golongan nan lebih diuntungkan," katanya.
Dalam jangka panjang, perbedaan pendapatan dapat menyebabkan ketimpangan kekayaan. Apalagi jika segmen nan didukung AI terus berkembang sementara golongan lainnya menghadapi bayaran rendah alias kehilangan pekerjaan.
Asisten guru besar di Departemen Komunikasi dan Media Baru NUS, Jun Yu, mengatakan perseorangan dan organisasi nan mempunyai lebih banyak sumber daya umumnya berada dalam posisi lebih baik untuk bereksperimen dengan AI dan mengubahnya menjadi peningkatan produktivitas, pengaruh, dan pendapatan.
"Mereka nan mempunyai sumber daya lebih sedikit mungkin justru mengalami transisi ini sebagai sesuatu nan dipaksakan kepada mereka, dengan kesempatan nan lebih mini untuk memengaruhi dampaknya terhadap pekerjaan mereka," katanya.
Menurutnya, perbedaan faedah ekonomi antar-sektor dapat berkontribusi terhadap ketimpangan kekayaan nan lebih susah dikurangi dalam jangka panjang. Namun, Yu mengingatkan agar persoalan ini tidak dipandang secara sederhana sebagai perbedaan antara orang nan bekerja di bagian AI dan mereka nan tidak.
"Perbedaan nan lebih krusial mungkin terletak pada siapa nan bisa membentuk dan mendapatkan faedah dari AI, dibandingkan mereka nan pekerjaannya diubah oleh AI tanpa mempunyai kekuatan alias hadiah nan sebanding," ujarnya.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·