Jakarta -
Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti 70 ribu lebih balita nan terkena jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Puan menegaskan pentingnya perlindungan kesehatan bagi anak-anak.
"Bagi orang tua, anak nan mengalami gangguan kesehatan, termasuk masalah pernafasan menghadirkan kekhawatiran nan sangat dekat dan mendesak," kata Puan dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026).
Puan meminta pemerintah segera selesaikan persoalan Karhutla karena dampaknya sudah meluas. Dirinya menyebut para orang tua paati mau anak-anaknya beraktivitas dengan normal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah perlu menjawab keadaan tersebut dengan keputusan nan memberi kepastian bahwa keselamatan anak mendapat perhatian penuh dan support tersedia selama dibutuhkan," ucapnya.
"Setiap orang tua mau memandang anaknya bisa menjalankan aktivitas dengan nyaman, tidur dengan tenang, dan kembali bermain. Harapan nan sederhana ini perlu menjadi perhatian utama kita dalam menentukan langkah penanganan," tambah dia.
Puan meminta pemerintah konsentrasi memberikan perlindungan bagi anak-anak selain berupaya memadamkan api. Anak-anak, menurutnya, perlu dijamin kesempatan tumbuh dan berkembang dengan baik.
"Selain proses pemadaman api nan masif, Pemerintah perlu menempatkan perlindungan anak sebagai tujuan berbareng dalam penanganan Karhutla. Perlindungan anak dari kabut asap nan ditimbulkan Karhutla kudu menjadi komitmen nasional," tuturnya.
Ketua DPP PDIP ini mendorong pemerintah mendengarkan family terdampak karhutla sebagai dasar pemberian support penanganan. Pemerintah diminta memberikan penjelasan nan transparan mengenai langkah pertolongan bagi anak-anak nan terdampak karhutla.
"Informasi kudu membantu family memahami keadaan serta pilihan pertolongan, dengan tetap menjaga angan dan menghindari konklusi tentang masa depan anak nan belum didukung pemeriksaan," sebutnya.
Selain itu, Puan menilai perlunya ada intervensi untuk menyediakan support perangkat medis. Tak hanya itu, diharapkan pemerintah membantu biaya pengobatan korban Karhutla.
"Jangan sampai para korban Karhutla ini menanggung beban ganda. Pastikan jasa BPJS bagi masyarakat terdampak tidak ada hambatan," sebutnya.
"Pemerintah juga perlu memberi pendampingan dan support kepada para orang tua nan anaknya sakit akibat paparan kabut asap. Kemudian support untuk tenaga kesehatan, serta petugas dan relawan nan terus membantu penanganan Karhutla," tambah dia.
Diketahui, berasas info Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per 18 Oktober 2026 pukul 10.00, jumlah kumulatif kasus ISPA sekarang mencapai 306.309 kasus, dari semula 277.075 di Rabu (14/10).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 69.015 kasus dialami balita berumur 0 hingga 5 tahun. Sementara itu, golongan anak-anak berumur 6 hingga 9 tahun nan terdampak ISPA tercatat 77.022 kasus dan golongan lanjut usia (lansia) sebanyak 49.680 kasus. Data Kemenkes RI juga mencatat 22 kasus ISPA pada golongan pengidap asma.
Penambahan kasus harian ISPA di wilayah terdampak karhutla tercatat sebanyak 2.778 kasus pada 17 Oktober 2026. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan penambahan kasus pada 16 Oktober nan mencapai 2.808 kasus.
(ial/eva)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·