Bank Indonesia (BI) sudah menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas rupiah. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menuturkan ada 7 langkah nan bakal dilakukan meliputi intervensi pasar valas sampai pengawasan pembelian USD.
Terkait intervensi di pasar valas, Perry menjelaskan BI bakal melakukannya di dalam negeri maupun luar negeri melalui instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan offshore NDF di pusat finansial dunia seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.
“Kami terus bakal melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup,” kata Perry di Istana Negara dikutip Rabu (6/5).
Langkah kedua, BI bakal memperkuat aliran masuk modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menutup outflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham. Selanjutnya, BI juga bakal melanjutkan pembelian di pasar sekunder, nan hingga saat ini telah mencapai Rp 123,1 triliun secara year-to-date.
Keempat, BI bakal menjaga likuiditas perbankan tetap longgar. Hal ini tercermin dari pertumbuhan duit primer nan mencapai 14,1 persen.
Selain itu, salah satu langkah nan juga krusial adalah BI memperketat pembelian kurs asing tanpa underlying. Batas pembelian dolar nan sebelumnya USD 100.000 diturunkan menjadi USD 50.000 per orang per bulan, dan bakal kembali ditekan menjadi USD 25.000.
“Sehingga pembelian dolar di atas USD 25.000 itu kudu pakai underlying,” ujarnya.
BI juga mendorong penggunaan mata duit lokal, termasuk pengembangan pasar yuan-rupiah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Keenam, BI juga bakal memperkuat intervensi di pasar offshore NDF dengan melibatkan bank domestik agar pasokan likuiditas meningkat. Terakhir, BI bakal meningkatkan pengawasan terhadap perbankan dan korporasi nan mempunyai aktivitas pembelian dolar tinggi, bekerja sama dengan OJK.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·