6 Fakta Mitigasi RI Hadapi Perang AS-Israel vs Iran, Pangan Aman dan Energi Dijaga

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

6 Fakta Mitigasi RI Hadapi Perang AS-Israel vs Iran, Pangan Aman dan Energi Dijaga

6 Fakta Mitigasi RI Hadapi Perang AS-Israel vs Iran, Pangan Aman dan Energi Dijaga. (Foto: Okezone.com/Pertamina)

JAKARTA — Pemerintah memitigasi akibat bentrok antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran terhadap kondisi ekonomi serta pasokan kebutuhan pokok di dalam negeri. Pemerintah memastikan stok pangan, termasuk beras, serta bahan bakar dalam kondisi kondusif meski terdapat potensi kenaikan harga.

Pemerintah juga meminta masyarakat tidak panik alias cemas lantaran persediaan pangan dan bahan bakar dipastikan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga 21 hari ke depan.

Selain menjaga pasokan, pemerintah mengambil langkah untuk memastikan kelangsungan upaya dengan memanggil para eksportir. Langkah ini dilakukan guna memitigasi akibat sekaligus memetakan kesempatan upaya nan muncul akibat bentrok antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.

Berikut sejumlah kebenaran mengenai bentrok tersebut dan langkah mitigasi nan dilakukan pemerintah Indonesia untuk menjaga stabilitas pasokan dan ekonomi nasional, Minggu (8/3/2026):

1. Selat Hormuz Ditutup, Pemerintah Temui Eksportir

Menteri Perdagangan Budi Santoso segera melakukan pertemuan dengan kalangan pengusaha untuk membahas komoditas nan berpotensi mengalami halangan rantai distribusi, terutama produk-produk dengan negara tujuan nan melalui alias beririsan dengan Selat Hormuz.

Di sisi lain, Budi juga menyoroti potensi gangguan terhadap pasokan bahan baku industri nan dibutuhkan para eksportir.

"Kami bakal membahas problem apa. Saya mau tahu secara teknis kira-kira masalahnya di mana. nan jelas, produk-produk nan menggunakan bahan baku impor bisa saja kelak bakal terganggu," kata Budi.

2. Pengalihan Ekspor

Pemerintah bakal mengalihkan ekspor ke negara-negara nan minim terdampak konflik. Budi memastikan tensi bentrok nan belum mereda hingga saat ini berpotensi memengaruhi neraca perdagangan, termasuk keahlian ekspor nasional ke negara tujuan utama seperti area Eropa maupun Timur Tengah.

"Kami cari diversifikasi pasar nan tidak terdampak perang ini. Negara-negara nan belum terdampak sebenarnya tetap banyak secara langsung. Namun, kami juga kudu jeli mempertimbangkan dan melakukan survei apakah wilayah itu memang tidak banyak terganggu," kata Budi.

"Sudah dipetakan negara-negara seperti Asia Tenggara dan Afrika nan bisa kami masuki untuk mengisi kekosongan pasar," imbuhnya.

3. Nilai Perdagangan RI nan Bergantung pada Selat Hormuz

Neraca ekspor Indonesia ke negara-negara nan perdagangannya berjuntai pada jalur pelayaran di Selat Hormuz tercatat cukup besar. Misalnya, nilai ekspor Indonesia ke Mesir mencapai 1,527 juta dolar AS dan ke Rusia sebesar 1,740 juta dolar AS.

4. Upaya Amankan Pasokan Energi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bergerak sigap melakukan mitigasi akibat ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran nan berpotensi mengganggu stabilitas daya global.

Menurut Airlangga, Indonesia telah mengamankan sumber daya pengganti di luar area Timur Tengah guna menjamin ketahanan daya domestik. Langkah ini mencakup pemanfaatan kerja sama perdagangan terbaru dengan Amerika Serikat melalui Agreement of Reciprocal Trade (ART) serta optimasi aset strategis nan dimiliki PT Pertamina di Amerika Latin.

"Kalau dari segi energi, lantaran kebetulan kita sudah menandatangani ART (Agreement of Reciprocal Trade), suplai daya kita juga sudah diperkuat melalui MoU dengan Amerika Serikat. Selain itu, Pertamina juga mempunyai akses di Venezuela," kata Airlangga.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com