518 Kasus Malaria di Tanjungpinang Ditangani Sepanjang Awal 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu

, TANJUNGPINANG, – Pemerintah Kota (Pemkot) Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, mencatat dan menangani sebanyak 518 kasus malaria sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Penanganan dilakukan secara masif melalui metode pasif dan aktif untuk menekan nomor penyebaran penyakit nan ditularkan oleh nyamuk Anopheles ini.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Tanjungpinang, Rustam, menyatakan bahwa upaya penanganan tidak hanya menunggu laporan dari akomodasi kesehatan. "Penanganan dilakukan tidak hanya secara pasif, tetapi juga aktif melalui penemuan kasus di lapangan," ujarnya di Tanjungpinang, Rabu.

Strategi Penemuan Kasus dan Edukasi

Rustam menjelaskan bahwa petugas kesehatan secara rutin melakukan survei demam dan penemuan kasus di tengah masyarakat. Selain itu, edukasi gencar diberikan agar penduduk segera memeriksakan diri jika mengalami indikasi demam dan mengikuti pengobatan hingga tuntas. Ia menekankan bahwa pengobatan malaria memerlukan waktu nan cukup panjang, ialah sekitar 14 hari, sehingga kedisiplinan pasien menjadi kunci utama keberhasilan penyembuhan. Sebagian pasien juga menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Fogging dan Pengendalian Rawa

Selain penanganan medis, upaya pencegahan juga diperkuat melalui peningkatan kebersihan lingkungan. Dinas Kesehatan melakukan intervensi di area nan berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, terutama area rawa. "Kami juga melakukan fogging (pengasapan) dua siklus untuk membunuh nyamuk dewasa," ujar Rustam. Saat ini, tercatat sekitar 58 titik rawa kecil nan menjadi konsentrasi pengendalian sebagai tempat perindukan nyamuk.

Peta Sebaran dan Wilayah Endemis

Dari hasil pemantauan, beberapa wilayah menunjukkan tren penurunan kasus, namun ada pula nan tetap tinggi. Rustam menyebut wilayah Sebauk Darat dan Kampung Bebek sudah menunjukkan tren penurunan. Sebaliknya, Sebauk Laut dan Senggarang Besar tetap tercatat sebagai wilayah dengan nomor kasus relatif tinggi. Ia mengingatkan bahwa wilayah nan sudah mengalami penurunan tetap berpotensi mengalami kemunculan kasus kembali jika pengobatan tidak tuntas dan kebersihan lingkungan tidak dijaga.

Lurah Senggarang, Edi Susanto, memerinci sebaran kasus di wilayahnya. Terdapat enam letak dengan tingkat paparan berbeda. Di Tanjung Sebauk Darat, dari 122 kepala family (KK), sebanyak 109 KK tercatat terinfeksi. Sementara itu, Kampung Bebek mencatat 15 KK, Senggarang Darat 17 KK, Senggarang Besar 16 KK, dan Tanjung Sebauk Laut 88 KK. "Sejumlah wilayah seperti Tanjung Sebauk Darat, Kampung Bebek, dan Senggarang Darat sudah mulai aman, namun Senggarang Besar dan Tanjung Sebauk Laut tetap belum landai," ujarnya.

Edi menambahkan, pemerintah berbareng dinas kesehatan, pemadam kebakaran, relawan, serta pengurus RT dan RW telah melakukan intervensi lingkungan. Langkah ini termasuk penaburan obat di sejumlah letak genangan jejak tambang untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk.

Konten ini diolah dengan support AI.

sumber : antara

Selengkapnya
Sumber Republika Nasional
Republika Nasional