Presiden Donald Trump(White House)
DEPARTEMEN Kehakiman AS (DOJ) mengumumkan FBI sukses menggagalkan rencana serangan teror nan menargetkan aktivitas Ultimate Fighting Championship (UFC) di Gedung Putih, Minggu lalu. Lima laki-laki telah ditangkap di beberapa negara bagian, termasuk Ohio, Missouri, Nebraska, dan California.
Jaksa penuntut mengungkapkan rencana biadab tersebut melibatkan penggunaan drone bermuatan bahan peledak untuk menyerang gedung-gedung sekitar dan melepaskan tembakan ke "target berbobot tinggi". Para pelaku berencana menggunakan drone untuk memicu kepanikan massal, lampau menggiring kerumunan nan melarikan diri ke arah tim penembak jitu (sniper). Gelombang penyerang kedua kemudian direncanakan untuk menyerbu gerbang Gedung Putih.
Acara UFC nan digelar di South Lawn tersebut bertepatan dengan seremoni hari ulang tahun ke-80 Donald Trump dan dihadiri oleh sekitar 4.300 tamu undangan, serta 85,000 penonton di area fans terdekat.
Direktur FBI, Kash Patel, menegaskan keberhasilan operasi lintas negara bagian ini melalui media sosial pada hari Selasa. "Rencana serangan nan diduga telah dipersiapkan sukses dihentikan total," tulis Patel.
Berawal dari Laporan Sang Ibu
Plot ini terongkar setelah ibu dari salah satu tersangka berjulukan Tycen Proper, 19, melapor ke otoritas lokal pada 10 Juni. Ia merasa cemas setelah memandang putranya membeli senjata api dalam jumlah besar dan membaca komunikasi daring putranya dengan golongan radikal nan mengaku berbasis Kristen dan beranggotakan mantan militer.
Dalam interogasi FBI, Proper mengaku bahwa kelompoknya berkomunikasi sejak Maret 2026 melalui grup TikTok berjulukan "Vanguard of the Old", sebelum pindah ke aplikasi pesan terenkripsi Signal. Kelompok anti-pemerintah ini mau memulai revolusi dengan menargetkan politisi dan orang kaya. Mereka mendiskusikan keluhan mengenai korupsi pemerintah, penanganan berkas kasus Epstein, hingga pusat info nan menghabiskan pasokan air masyarakat.
Ketegangan Antar-Lembaga Keamanan
Pengungkapan kasus ini sempat memicu sedikit ketegangan antara lembaga keamanan. Wakil Direktur Secret Service, Matt Quinn, menyebut kejadian ini sebagai "ancaman serius", namun dia tampak frustrasi lantaran penyelidikan ini terlanjur dibuka ke publik.
"Saya bakal memberi tahu Anda sebuah frasa nan saya pelajari di awal pekerjaan saya di instansi lapangan New York dan itu adalah 'Jangan tersedak oleh asap Anda sendiri'," ujar Quinn. "Saya bakal memberi tahu Anda bahwa Secret Service memimpin penyelidikan itu sejak awal. Saya bakal memberi tahu Anda kasus itu sedang berlangsung. Demi menjaga integritas penyelidikan dan rencana keamanan, kami memilih untuk tidak membocorannya."
Sementara itu, saat ditanya mengenai rencana plot ini di sela-sela KTT G7 di Prancis, Presiden Donald Trump hanya menjawab singkat. "Saya belum mendengarnya," kata Trump.
Sebaliknya, Wakil Presiden JD Vance menilai langkah FBI menginformasikan perihal ini kepada publik adalah keputusan nan tepat lantaran skala rencana serangan tersebut nan dinilai sangat besar dan signifikan. (BBC/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·