Ilustrasi(Magnific)
PEMERINTAH Negara Bagian Niger, Nigeria, mengonfirmasi sebanyak 37 orang terduga penambang terlarangan tewas saat berada dalam tahanan Korps Keamanan dan Pertahanan Sipil Nigeria (NSCDC) pada Kamis awal hari. Insiden tragis di ibu kota Minna ini langsung memicu penyelidikan resmi dari pihak kepolisian.
Gubernur Negara Bagian Niger, Mohammed Umaru Bago, menyampaikan duka cita mendalam saat menggelar konvensi pers di Minna nan disiarkan stasiun televisi TVC News.
"Pagi ini kita terbangun dengan buletin bahwa sekitar 37 orang meninggal dalam tahanan pertahanan sipil di sini di Minna," kata Bago.
"Ini sangat menyedihkan, ini sangat tragis," tambahnya.
Kepolisian Nigeria mengonfirmasi telah meluncurkan penyelidikan penuh untuk mengusut penyebab kematian massal tersebut. Penyelidikan diperintahkan langsung Kepala Polisi Negara Bagian Niger setelah puluhan tahanan ditemukan tak bernyawa di akomodasi detention milik NSCDC.
"Kapolda telah memerintahkan dimulainya penyelidikan segera atas kematian tragis para terduga penambang terlarangan saat berada di akomodasi penahanan NSCDC," ujar ahli bicara kepolisian, Wasiu Abiodun, dalam pernyataan resminya.
Meskipun laporan media lokal sempat menyebut nomor 33 korban jiwa, konfirmasi resmi dari gubernur memastikan jumlah korban mencapai 37 orang.
Sebuah rekaman video berdurasi 40 detik nan beredar di media sosial memperlihatkan puluhan jenazah pemuda nan hanya mengenakan celana pendek tergeletak di area terbuka. Sebagian besar korban tampak tetap berumur remaja. Dalam video tersebut, tampak para sukarelawan bersarung tangan berdiri di sekitar jenazah, sementara sejumlah wanita berkerudung berupaya mengidentifikasi personil family mereka di tengah teriakan kutukan penduduk terhadap pihak nan bertanggung jawab.
Mengenai penyebab pasti kematian, terdapat perbedaan indikasi awal antara laporan lapangan dan pihak pengelola tahanan. Berdasarkan laporan intelijen nan diperoleh AFP, kondisi sel nan tidak layak diduga menjadi pemicu utama.
"Informasi awal menunjukkan bahwa kematian massal ini kemungkinan disebabkan oleh kepadatan berlebih dan ventilasi nan tidak memadai di dalam akomodasi penahanan," tulis laporan intelijen tersebut.
Di sisi lain, pihak NSCDC menyatakan bahwa mereka menangkap puluhan terduga penambang terlarangan tersebut pada Selasa dan Rabu.
"Namun, pada 17 September 2026 awal hari, puluhan tersangka nan ditahan ditemukan meninggal bumi menyusul dugaan timbulnya pandemi penyakit," tulis pernyataan resmi NSCDC.
Insiden ini sempat memicu tindakan unjuk rasa dari golongan penambang dan simpatisan di Minna, nan berujung pada kerusakan sejumlah kendaraan dan akomodasi umum.
Negara Bagian Niger, wilayah kaya mineral dengan luas lebih dari dua kali lipat negara Belgia, memang menjadi pusat daya tarik ribuan penambang tradisional, terutama nan tergiur oleh potensi emas. Maraknya penambangan terlarangan di wilayah ini juga memicu tindakan kekerasan oleh geng pidana lokal nan memungut pajak paksa dari para penambang. Selain emas, wilayah ini menyimpan persediaan mineral strategis lainnya seperti tantalite, tembaga, dan litium nan sangat dibutuhkan untuk industri kendaraan listrik dan teknologi daya bersih. (AFP/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·