10 Perjalanan Sejarah Kurikulum di Indonesia dari Masa ke Masa

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Jakarta -

Sistem pendidikan di Tanah Air telah mengalami beragam fase penyesuaian untuk menjawab tantangan zaman. Menelusuri sejarah kurikulum di Indonesia sangat krusial untuk memahami gimana arah kebijakan pendidikan nasional dibentuk dan dikembangkan.

Berdasarkan publikasi napak tilas dari Kemendikdasmen, tercatat ada beragam pergantian sistem belajar sejak awal kemerdekaan hingga era modern saat ini. Setiap kurikulum mempunyai konsentrasi dan pendekatan tersendiri nan dipengaruhi oleh situasi sosial politik di masanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kurikulum Era Awal Kemerdekaan hingga Orde Lama

Pada masa-masa awal berdirinya republik, sistem pendidikan lebih difokuskan pada penguatan identitas nasional. Pembentukan karakter dan kesadaran bernegara menjadi prioritas utama.

Berikut adalah perkembangan kurikulum pada periode awal tersebut:

  • Rentjana Pelajaran 1947: Ini merupakan kurikulum pertama setelah merdeka nan berfokus pada pembentukan karakter dan nilai Pancasila, bukan sekadar kognitif. Kurikulum nan digagas pada masa Menteri Pengajaran Ki Hajar Dewantara ini baru diterapkan luas pada 1950.
  • Rentjana Pelajaran Terurai 1952: Penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya nan menjadi kurikulum nasional pertama berdasarkan UU No. 4 Tahun 1950. Fokusnya merinci silabus dan menghubungkan materi dengan realitas sehari-hari, disusun di masa Menteri Bahder Djohan dan Soewandi.
  • Rentjana Pendidikan 1964 (Kurikulum 1964): Berlaku di akhir era Presiden Soekarno, berfokus membentuk manusia Pancasila nan sosialis. Mata pelajaran dikelompokkan dalam Pancawardhana (moral, kecerdasan, emosional, keterampilan, jasmani) di masa Menteri Artati Marzuki-Sudirdjo.

Kurikulum Era Orde Baru

Memasuki era pemerintahan Orde Baru, pendekatan pendidikan mulai bergeser ke arah nan lebih terstruktur dan berorientasi pada tujuan. Berikut adalah beberapa kurikulum nan diterapkan pada masa ini:

  • Kurikulum 1968: Bertujuan membentuk manusia Pancasila sejati nan kuat jasmani dan cerdas. Fokusnya pada pembinaan jiwa Pancasila dan pengetahuan dasar, di bawah pengarahan Menteri Mashuri Saleh.
  • Kurikulum 1975: Berorientasi pada tujuan agar lebih efektif dan efisien, di mana mulai dikenal istilah satuan pelajaran nan merinci tujuan instruksional unik hingga evaluasi. Kurikulum ini bertindak di masa Menteri Dr. Syarif Thayeb.
  • Kurikulum 1984: Sering disebut Kurikulum 1975 nan disempurnakan. Menggunakan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), siswa didorong menjadi subjek belajar nan aktif, digagas di era Menteri Prof. Dr. Nugroho Notosusanto.
  • Kurikulum 1994: Menggabungkan pendekatan tujuan (1975) dan proses (1984). Kurikulum ini, nan disusun pada masa Menteri Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, terkenal dengan beban materinya nan padat dan sistem caturwulan.

Kurikulum Era Reformasi hingga Modern

Seiring dengan kemajuan teknologi dan globalisasi, sistem pendidikan dituntut untuk lebih elastis dan berpusat pada kompetensi peserta didik. Berikut adalah transformasi kurikulum di era modern:

  • Kurikulum 2004 (KBK): Kurikulum Berbasis Kompetensi ini menekankan pada pengembangan kemampuan, keterampilan, dan sikap. Siswa dituntut lebih aktif dan berorientasi pada hasil belajar, dirintis pada masa Menteri Prof. H. Abdul Malik Fadjar.
  • Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006: Memberikan kewenangan penuh kepada sekolah untuk merancang proses pembelajaran sesuai kondisi wilayah masing-masing, digagas oleh Menteri Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA.
  • Kurikulum 2013 (K-13): Berbasis kompetensi dan karakter nan menyeimbangkan sikap, pengetahuan, dan keahlian dengan pendekatan saintifik (mengamati, menanya, dll), bertindak di masa Menteri Prof. Dr. Ir. Mohammad NUH, DEA.
  • Kurikulum Merdeka: Berfokus pada pembelajaran esensial, fleksibel, dan berpusat pada siswa untuk mengasah minat talenta sejak dini. Kurikulum ini juga memperkuat karakter melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), digagas oleh Menteri Nadiem Anwar Makarim.

(kny/zap)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News