10 Fakta Penembakan Acara Makan Malam Trump : Kronologi-Motif Pelaku

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Insiden mengejutkan nyaris merenggut nyawa Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Sebuah upaya pembunuhan terjadi saat Trump menghadiri aktivitas tahunan White House Correspondents' Dinner di Washington Hilton, Sabtu (25/4/2026) malam waktu setempat.

Pelaku nan membawa sejumlah senjata nekat menerobos barikade keamanan dan melepaskan tembakan beruntun nan memicu kekacauan luar biasa di tengah kerumunan pejabat tinggi dan jurnalis.

Berikut adalah 10 kebenaran krusial mengenai kronologi, penyebab, hingga sosok pelaku di kembali tindakan nekat tersebut dikutip dari beragam sumber

1. Kronologi

Peristiwa ini bermulai saat sekitar 2.300 tamu undangan tengah menikmati hidangan di dalam aula. Suasana elegan seketika berubah menjadi seram saat serentetan bunyi letusan senjata terdengar dari arah lobi, tepat di luar pintu masuk ruang bawah tanah hotel pada pukul 20.36 waktu setempat. Agen Secret Service langsung bergerak sigap merunduk dan menyergap Trump serta Wakil Presiden JD Vance dari meja utama untuk segera dievakuasi.

Mengutip laporan CNN, Donald Trump mengakui bahwa awalnya dia tidak menyangka bunyi tersebut adalah tembakan senjata api nan mengarah ke pos keamanan di dekatnya.

"Saya sempat berambisi itu hanya bunyi nampan nan jatuh dari pelayan. Tapi rupanya bukan," kata Trump.

2. Agen Secret Service Tertembak

Dalam tindakan saling tembak tersebut, seorang pemasok Secret Service menjadi sasaran peluru pelaku di titik pemeriksaan keamanan. Beruntung, nyawa pemasok tersebut sukses diselamatkan berkah perlengkapan keamanan nan dia kenakan saat bekerja melindungi ring satu kepresidenan.

Mengutip pernyataan resminya, Trump mengonfirmasi kondisi anak buahnya tersebut dalam keadaan stabil meski terkena tembakan langsung.

"Rompi pelindung itu melakukan tugasnya dengan baik. Agen tersebut sekarang dalam kondisi nan luar biasa," ujar Trump.

3. Identitas Pelaku: Insinyur Asal California

Otoritas keamanan sukses mengidentifikasi pelaku sebagai Cole Tomas Allen, seorang laki-laki berumur 31 tahun asal Torrance, California. Allen diketahui bukan orang sembarangan lantaran dia merupakan lulusan California Institute of Technology (Caltech) tahun 2017 dan baru saja menyelesaikan gelar Master di bagian Ilmu Komputer pada tahun 2025.

Mengutip profil profesionalnya, Allen mendeskripsikan dirinya sebagai sosok nan mempunyai latar belakang pendidikan mumpuni di bagian sains dan teknologi.

"Saya adalah seorang insinyur mekanik dan intelektual komputer berasas gelar, developer game independen melalui pengalaman, dan pembimbing sejak lahir," tulis Allen.

4. Senjata Pelaku

Allen tidak datang dengan tangan kosong saat melancarkan aksinya. Polisi Metropolitan Washington mengungkapkan bahwa pelaku membawa beragam jenis senjata rawan untuk melancarkan serangan di gedung nan dipenuhi sistem keamanan tingkat tinggi tersebut.

Mengutip keterangan Kepala Polisi Interim D.C., Jeffery Carroll, pelaku nekat menyerbu pos pemeriksaan dengan beragam senjata tajam dan api.

"Pelaku membawa sebuah senapan shotgun, satu pucuk pistol, dan beberapa bilah pisau saat dia berlari melewati barikade menuju ruang aula tempat aktivitas berlangsung," tutur Carroll.

5. Motif Politik: Targetkan Pejabat Administrasi Trump

Berdasarkan penyelidikan awal, Allen diduga kuat mempunyai kebencian mendalam terhadap pemerintahan saat ini. Ia tidak hanya menyasar presiden secara personal, tetapi secara umum membidik para pejabat nan membantu jalannya manajemen pemerintahan Trump.

Mengutip Acting Attorney General AS, Todd Blanche, pihak berkuasa meyakini bahwa serangan ini telah direncanakan dengan sasaran nan sangat spesifik dan matang.

"Kami meyakini bahwa penembak memang menargetkan pejabat-pejabat manajemen Trump secara sengaja," ungkap Blanche.

6. Manifesto "Anti-Kristen" nan Radikal

Donald Trump menyatakan bahwa pelaku meninggalkan sebuah catatan alias manifesto nan berisi pandangan ideologis nan sangat ekstrem. Selain kebencian terhadap pemerintah, manifesto tersebut diduga mengandung sentimen kepercayaan nan kuat dan provokatif.

Mengutip pernyataan Trump saat diwawancarai media, dia menyebut isi catatan pelaku sangat mengerikan dan penuh kegelapan.

"Dia mempunyai banyak kebencian di hatinya untuk waktu nan lama. Manifestonya sangat anti-Kristen," kata Trump.

7. Pengiriman Pesan Terakhir pada Keluarga

Sebelum melancarkan aksinya di Washington Hilton, Allen diketahui sempat mengirimkan pesan terakhir alias arsip manifesto kepada keluarganya di California. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan tersebut bukanlah luapan emosi sesaat, melainkan rencana nan sudah dipersiapkan sebelumnya.

Mengutip sumber kepolisian, pihak family pelaku apalagi disebut sempat merasa cemas dengan perilaku Allen sebelum kejadian tersebut pecah.

"Pihak berkuasa menyatakan bahwa tersangka mengirimkan manifesto kepada keluarganya sesaat sebelum penembakan terjadi," tulis laporan penyelidikan.

8. Status "Lone Wolf" dan Jejak Donasi Politik

Hingga saat ini, FBI meyakini bahwa Cole Tomas Allen bertindak sebagai lone wolf alias serigala tunggal tanpa support golongan tertentu. Menariknya, rekam jejak digital menunjukkan dia pernah melakukan bantuan mini ke golongan politik nan berseberangan dengan Trump di masa lalu.

Mengutip catatan Komisi Pemilihan Federal (FEC), terdapat info nan menunjukkan hubungan politik pelaku melalui sumbangan biaya kampanye.

"Catatan menunjukkan Allen mendonasikan US$ 25 (Rp 400.000) kepada ActBlue untuk kampanye musuh politik Trump pada Oktober 2024," bunyi laporan tersebut.

9. Ancaman Hukuman Penjara Seumur Hidup

Atas tindakan nekatnya, Allen sekarang kudu menghadapi akibat norma nan sangat berat dari otoritas federal. Jaksa penuntut telah menyiapkan serangkaian dakwaan nan bisa menjebloskan sang insinyur ke penjara untuk waktu nan sangat lama.

Mengutip pernyataan Jaksa AS untuk Distrik Columbia, Jeanine Pirro, proses pengadilan terhadap pelaku bakal segera dimulai dalam waktu dekat.

"Pelaku bakal didakwa dengan penggunaan senjata api selama kejahatan kekerasan, serta penyerangan terhadap petugas federal menggunakan senjata berbahaya," jelas Pirro.

10. Trump Desak Pembangunan Aula Keamanan Khusus

Menanggapi celah keamanan di hotel komersial, Trump kembali menyuarakan idenya untuk membangun akomodasi pertemuan eksklusif di dalam kompleks pemerintahan. Hal ini bermaksud demi menjamin keamanan presiden dan wartawan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Mengutip pernyataan penutupnya, Trump menekankan bahwa prasarana keamanan baru adalah kebutuhan nan mendesak bagi Gedung Putih.

"Kejadian ini membuktikan perlunya pembangunan aula Gedung Putih nan pernah saya usulkan. Fasilitas tersebut bakal jauh lebih kondusif daripada hotel manapun," pungkas Trump.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News