Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengadakan pertemuan mendadak dengan tim keamanan nasional di Gedung Putih, Selasa sore waktu setempat. Ini terjadi saat Trump berada di persimpangan jalan untuk memutuskan langkah militer alias diplomasi terhadap Iran seiring berakhirnya tenggat waktu gencatan senjata.
Mengutip laporan CNN International, Rabu (22/4/2026) situasi semakin tegang lantaran pesawat Air Force Two milik Wakil Presiden JD Vance sudah bersiap di landasan pacu untuk bertolak ke Pakistan. Namun, pemerintah AS menghadapi teka-teki besar akibat bungkamnya pihak Iran secara total terhadap poin-poin kesepakatan nan telah dikirimkan sebelumnya.
Ketidakhadiran respon dari Teheran menimbulkan kecurigaan besar mengenai efektivitas pertemuan langsung nan direncanakan di Pakistan. Para pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Direktur CIA John Ratcliffe, terus memantau situasi tanpa adanya tanda-tanda komunikasi dari pihak lawan.
Ajudan utama Trump meyakini bahwa argumen utama bungkamnya Teheran adalah adanya perpecahan dahsyat di internal kepemimpinan Iran. Berdasarkan laporan dari mediator Pakistan, pihak Iran dianggap tidak mempunyai konsensus mengenai posisi mereka dalam masalah pengayaan uranium nan menjadi poin krusial dalam pembicaraan damai.
Ketidakkonsistenan ini juga diperparah oleh sikap Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, nan memilih untuk tetap tersembunyi. Hal ini diyakini membikin para pejabat Iran kebingungan lantaran kudu menebak petunjuk tanpa adanya pengarahan nan spesifik dari pemimpin mereka.
Meskipun rintangan terlihat sangat besar, seorang pejabat menyatakan tetap ada kesempatan mini bagi kedua negara untuk berjumpa dalam waktu dekat. Namun, Trump akhirnya memilih untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua minggu guna menghindari eskalasi militer lebih lanjut, meski tanpa menetapkan tanggal berhujung nan pasti.
Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyebut bahwa pemerintah Iran saat ini sedang dalam kondisi nan sangat retak. Ia terlihat tetap menginginkan solusi diplomatik lantaran enggan menghidupkan kembali bentrok nan selama ini dia klaim telah dimenangkan oleh Amerika Serikat.
Namun, negosiasi ini terus membentur tembok lantaran Iran tetap bersikeras meminta pencabutan blokade di Selat Hormuz sebagai syarat mutlak. Trump dengan tegas menolak permintaan tersebut sebelum ada kesepakatan final nan ditandatangani.
"Kami tidak bakal membuka selat itu sampai kami mempunyai kesepakatan final," ujar Trump dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa pagi.
Langkah memperpanjang gencatan senjata ini bermaksud memberikan waktu bagi Iran untuk menyatukan posisi internal mereka di bawah restu Khamenei. Meski demikian, para penasihat presiden memperingatkan bahwa kelonggaran ini bisa dimanfaatkan Iran untuk mengulur waktu demi menyusun kembali kekuatan militer mereka.
Pihak Iran sendiri menanggapi dingin langkah diplomasi Trump dan tetap menunjukkan sikap konfrontatif. Mereka menganggap perpanjangan gencatan senjata tersebut sebagai langkah nan tidak berfaedah selama blokade ekonomi tetap berlangsung.
"Perpanjangan gencatan senjata Trump tidak berfaedah apa-apa. Pihak nan kalah tidak bisa mendikte persyaratan. Kelanjutan pengepungan tidak ada bedanya dengan pemboman dan kudu dibalas dengan respon militer," tegas Mahdi Mohammadi, penasihat Ketua Parlemen Iran Ghalibaf.
Trump sendiri tetap menunjukkan rasa percaya diri nan tinggi bahwa dia bisa mencapai kesepakatan nan jauh lebih baik daripada era sebelumnya. Ia apalagi sesumbar mengenai keahlian negosiasinya di tengah situasi perang nan kompleks ini.
"Apa nan saya pikirkan adalah bahwa kita bakal berhujung dengan kesepakatan nan hebat. Saya pikir mereka tidak punya pilihan. Kita telah melumpuhkan angkatan laut mereka, angkatan udara mereka, dan pemimpin mereka, nan sejujurnya, memperumit masalah dalam satu hal," kata Trump.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·