Harga Solar Non Subsidi Melonjak, Jadi Peluang Pemanfaatan BBM Alternatif

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT) RU IV Kilang Cilacap nan memproduksi bahan bakar nabati seperti biosolar dan Sustainable Aviation Fuel (SAF). Foto: Dok. KPI

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam menanggapi tenang perihal situasi melonjaknya harga solar non subsidi akhir-akhir ini. Menurutnya, penyesuaian tarif bahan bakar mengikuti pasar dunia terbilang lumrah.

“Bukan enggak berdampak, kita kudu menghadapi dampaknya. Tapi apakah ini bakal berjalan setahun, dua tahun, saya juga enggak yakin. Dalam waktu dekat bakal turun lagi (harga solar),” buka Bob ditemui di Tangerang, Senin (20/4).

Kendati demikian, Bob menambahkan bahwa kondisi tersebut semestinya dapat menjadi momentum tepat untuk mempercepat mengambil solar dengan campuran bahan bakar nabati. Salah satu upaya pemerintah mengurangi ketergantungan impor minyak mentah.

“Kalau nilai minyak USD 100 dolar per barel, bioetanol sudah bisa mensubstitusi. Karena jika kita hitung dengan nilai sekarang, bioetanol bisa menjadi opsi, lantaran harganya sudah mirip,” imbuhnya.

Road test B50 di Lembang hingga Cirebon, Selasa (21/4/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Bob bilang, krusial bagi negara untuk terus melanjutkan peta jalan penggunaan daya pengganti nan lebih luas dan jangka panjang, guna membentuk pasokan nan lebih terjaga serta semakin banyak nan terserap.

“Misal nilai minyak USD 120 dolar per barel mungkin solar panel bakal menjadi alternatif, USD 200 dolar per barel mungkin hidrogen bakal menjadi alternatif. Jadi mau berapa saja naik harganya, itu pasti bakal ada substitusinya,” jelas Bob.

Harga Pertamina Dexlite sekarang dijual dari sebelumnya Rp 14.200 per liter menjadi Rp 23.600 per liter. Sementara Pertamina Dex turut melonjak dari nan sebelumnya Rp 14.500 per liter menjadi Rp 23.900 per liter.

Tak hanya itu, produk dari swasta seperti BP Ultimate Diesel juga berada di level tinggi, ialah Rp 25.560 per liter namalain jauh dari sebelumnya nan ditawarkan Rp 14.060 per liter.

Pemerintah umumkan penerapan biosolar jenis baru dalam waktu dekat

Sebuah truk berbahan bakar B50 melaju saat menjalani uji jalan di Lembang, Provinsi Jawa Barat, Selasa (21/04/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memastikan penerapan bahan bakar solar dengan campuran sawit berkadar 50 persen alias B50 dilaksanakan mulai Juli mendatang.

"Pemerintah menerapkan mulai 1 Juli 2026. Pertamina telah siap melakukan blending, dengan potensi penghematan 4 juta kiloliter dan dalam 1 tahun alias 6 bulan ada penghematan dari fosil dan subsidi biodiesel sebesar Rp 48 triliun," buka Airlangga saat bertemu pers secara virtual, Selasa (31/3).

Sementara Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menambahkan persediaan bahan bakar nasional tetap di atas pemisah minimal aman. Ia membandingkan situasi Indonesia nan tetap lebih kondusif dibanding dengan negara-negara lain nan sudah melakukan pembatasan.

"Saya juga menyampaikan bahwa dengan penerapan B50 ini bakal surplus untuk solar kita. Ini menjadi berita baik bagi RDMP (Refinery Development Master Plan) di Kalimantan Timur jika sudah beroperasi," tambahnya.

Selain B50, pemerintah juga tengah mendorong pengembangan bioenergi lain seperti campuran etanol dalam bensin (E20), sebagai bagian dari transformasi daya berbasis sumber daya dari domestik.

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, pemerintah berambisi Indonesia dapat memperkuat kemandirian daya sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan perkebunan nasional.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan