Arief Setyadi
, Jurnalis-Rabu, 22 April 2026 |21:31 WIB

Forum Konsolidasi dan Diskusi Kebangsaan (Foto: Ist)
JAKARTA - Persatuan bangsa menjadi perihal krusial di tengah tantangan geopolitik dunia dan derasnya arus info digital. Kalangan muda terutama mahasiswa pun perlu memperkuat peran strategis, bukan hanya sekadar mengikuti rumor nan sedang viral.
Bendahara Umum Presidium Nasional Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), Tirta Gangga Listiawan, mengatakan, mahasiswa kudu bisa memahami substansi persoalan secara utuh. Mahasiswa, menurutnya, juga kudu mengerti posisi Undang-Undang Dasar sebagai norma dasar.
"Jangan sampai ikut menggiring opini tanpa memahami sistem konstitusi nan benar,” katanya dalam forum Konsolidasi dan Diskusi Kebangsaan berjudul “Merawat Persatuan, Menjaga Indonesia: Suara Pemuda di Tengah Krisis Global”, dikutip Rabu (22/4/2026).
Tirta menilai, penguatan literasi norma dan politik menjadi perihal krusial agar mahasiswa tidak terjebak dalam narasi nan berpotensi memecah belah. Ia juga menyoroti akibat luas jika persatuan nasional terganggu.
“Kalau persatuan terganggu, dampaknya ke mana-mana—investasi menurun, ekonomi terganggu, hingga stabilitas negara terancam,” katanya.
Menurut Koordinator Nasional BEM PTMAI, Yogi Syahputra Alaydrus, persatuan kudu diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar slogan. “Persatuan itu bukan sekadar berkumpul, tapi gimana kita menjaga kesatuan berasas konstitusi,” imbuhnya.
Ketimpangan pembangunan antarwilayah, kata Yogi, juga perlu menjadi perhatian dalam kebijakan nasional. Ia menegaskan, mahasiswa kudu tetap kritis, namun juga objektif dalam memahami tujuan kebijakan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·