Potensi sampah makanan MBG mencapai ratusan ribu ton per tahun dan menunjukkan masalah serius dalam pengelolaan program pangan skala besar.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekarang menghadapi kritik serius mengenai potensi sampah makanan MBG nan sangat besar. Dalam kajian Food Waste Management, persoalan food waste dalam program pangan massal sering muncul akibat pengedaran nan tidak presisi. Berdasarkan laporan Tempo, nomor sampah ini sudah mencapai ratusan ribu ton per tahun.
Angka ini muncul dalam laporan Tempo berjudul “Potensi Sampah Makanan Program Makan Bergizi Gratis 624 Ribu Ton per Tahun” (2025). Masalahnya, nomor sebesar itu terlalu abstrak. Ia terdengar besar, tetapi tidak terasa.
Maka mari kita ubah langkah melihatnya. Bayangkan satu truk sampah besar bisa mengangkut sekitar 10 ton. Dengan 624 ribu ton makanan terbuang, kita sedang berbincang tentang 62.400 truk sampah penuh setiap tahun. Jika truk-truk itu disusun berjejer, panjangnya bisa mencapai ratusan kilometer—cukup untuk membentang dari Yogyakarta menuju kota-kota lain tanpa putus.
Atau bayangkan satu lapangan sepak bola standar bisa menampung sekitar 1.000–1.500 ton material jika ditumpuk setinggi beberapa meter. Artinya, sampah makanan dari program ini bisa mengisi ratusan lapangan sepak bola dengan gunungan nasi, sayur, dan lauk nan tidak pernah dimakan.
Dan jika kita mau membayangkannya secara vertikal, 624 ribu ton makanan itu dapat membentuk gunungan raksasa—bukan sekadar metafora, melainkan juga timbunan nyata nan jika dikumpulkan bakal tampak seperti bukit buatan. Gunung nan seluruh isinya adalah makanan layak konsumsi, nan berhujung sebagai limbah. Inilah nan sering tidak kita sadari: nan terbuang bukan sekadar “sisa”. Ia adalah produksi makanan dalam skala masif nan kandas sampai pada tujuan akhirnya, ialah dikonsumsi.
Jika dipecah lebih jauh, 624 ribu ton berfaedah 624 juta kilogram makanan. Dengan dugaan satu porsi sekitar 400 gram, kita sedang membuang sekitar 1,56 miliar porsi makanan. Angka ini bakal terasa jauh lebih konkret ketika diterjemahkan ke kehidupan sehari-hari.
Jumlah tersebut setara dengan memberi makan sekitar 520 juta orang dalam satu hari (dengan dugaan tiga kali makan), alias sekitar 14 juta orang selama lebih dari satu bulan penuh, apalagi cukup untuk menghidupi lebih dari 4 juta orang selama satu tahun penuh.
Sebagai perbandingan, nomor itu melampaui jumlah masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, ialah sekitar 3,7 juta jiwa. Artinya, makanan nan berpotensi terbuang dari satu program ini saja sebenarnya cukup untuk memberi makan seluruh masyarakat dalam satu provinsi selama lebih dari satu tahun.
Peringatan tentang ini sebenarnya sudah ada. Kajian dari Bebas Sampah menegaskan bahwa program MBG berpotensi meningkatkan food waste jika tidak diiringi sistem pengedaran nan adaptif dan edukasi konsumsi. Namun seperti banyak kebijakan lain, peringatan sering kalah oleh kemauan untuk segera terlihat berjalan.
Yang lebih mengkhawatirkan, kita tidak hanya membuang makanan, tetapi juga membuang seluruh daya nan sudah dipakai untuk menghasilkan dan memasaknya. Jika dihitung secara kasar, daya untuk memasak makanan rata-rata berada di kisaran 500–1.000 kkal per porsi.
Dengan potensi 1,56 miliar porsi nan terbuang, berfaedah daya nan ikut lenyap mencapai sekitar 780 miliar hingga 1,56 triliun kilokalori. Angka ini setara dengan sekitar 900 juta hingga 1,8 miliar kWh listrik, jumlah nan cukup untuk memasok listrik lebih dari satu juta rumah tangga selama setahun.
Jika dikonversi ke bahan bakar, daya sebesar itu kira-kira setara dengan 90–180 juta liter bensin, cukup untuk menjalankan jutaan sepeda motor selama berbulan-bulan. Dengan kata lain, setiap piring nan terbuang tidak hanya kehilangan makanan, tetapi juga membuang listrik, gas, dan bahan bakar dalam skala nasional—energi nan sudah dibayar mahal, tetapi berhujung sia-sia di tempat sampah.
Dan ketika makanan itu membusuk, dia tidak lenyap begitu saja. Ia berubah menjadi emisi. Dengan perkiraan sekitar 2,5 kilogram CO₂ per kilogram food waste, potensi sampah ini menghasilkan lebih dari 1,5 juta ton emisi karbon per tahun. Sebuah “gunung tak terlihat” nan pelan-pelan menumpuk di atmosfer.
Masalah sampah makanan MBG ini tidak bisa dilepaskan dari langkah kebijakan dirancang. Dalam perspektif Public Policy, kebijakan nan tidak berbasis perilaku nyata berisiko menciptakan pemborosan dalam skala besar, meskipun mempunyai tujuan nan baik.
Di titik ini, kita tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ini hanya soal teknis kecil. Skala masalahnya terlalu besar, terlalu nyata, dan terlalu mahal untuk diabaikan. Karena itu, nan dibutuhkan hari ini tidak sekadar melanjutkan program, tetapi juga berakhir sejenak untuk memandang realita secara utuh. Menghitung ulang, merancang ulang—dan jika perlu—menunda sampai semuanya betul-betul siap.
Sebab jika tidak, kita bakal terus memproduksi sesuatu nan tampak mulia di atas kertas, tetapi dalam praktiknya hanya menghasilkan satu perihal nan sangat konkret: sampah sisa makanan dalam skala nan tidak pernah kita bayangkan.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·