Ia datang dari jauh, dari negeri nan dinginnya terukur dan waktunya tertib dalam lonceng-lonceng gereja. Namanya panjang, seperti sejarah nan dia tinggalkan: Johannes Josephus Hubertus Maria van Rijckevorsel, SJ. Namun di tanah nan asing baginya, nama itu perlahan luruh—ditanggalkan seperti mantel nan tak lagi diperlukan di bawah mentari tropis.
Ia tidak betul-betul “datang.” Ia tiba, lampau diam, lampau mendengar. Suara tanah ini bukanlah sesuatu nan bisa dipahami dengan cepat. Ia kudu diraba dalam peluh petani, dalam lirih angan ibu-ibu, dalam langkah kaki anak-anak nan melangkah tanpa dasar menuju masa depan nan belum tentu. Dan dia belajar satu hal: bahwa mencintai sebuah negeri bukan perkara memiliki, melainkan bersedia terluka bersamanya.
Pada suatu titik, dia berakhir menjadi orang asing. Bukan lantaran kulitnya berubah, bukan lantaran bahasanya sempurna, tetapi lantaran hatinya memilih tinggal. Ia melucuti dirinya dari jarak—jarak nan biasanya dijaga oleh mereka nan datang membawa misi, kuasa, alias kepercayaan bakal superioritas. Ia tidak mau berdiri di atas; dia mau duduk di tanah nan sama, merasakan debu nan sama, dan, jika perlu, menangis dengan luka nan sama.
Ia menanam tanpa banyak bicara. Dalam ruang-ruang sederhana, dia turut merintis sesuatu nan kelak dikenal sebagai Perkumpulan Strada—bukan sekadar lembaga, melainkan ladang sunyi tempat benih-benih kesadaran dititipkan. Ia percaya bahwa pendidikan bukanlah menara, melainkan jalan setapak: panjang, berliku, tetapi mengantar manusia pulang kepada dirinya sendiri.
Lalu datanglah tahun nan bergetar itu: Kongres Pemuda 1928. Sebuah peristiwa nan seperti api mini di tengah gelap, tetapi cukup untuk menyalakan harapan. Di sana, di antara kemandang sumpah nan bakal dikenang sebagai takdir bersama, dia hadir—bukan sebagai suara, melainkan sebagai keheningan nan setia. Ia tidak perlu disebut, lantaran dia telah memilih untuk menjadi bagian dari sesuatu nan lebih besar dari dirinya.
Ia mencintai Bumiputera dengan langkah nan sunyi. Bukan dengan slogan, bukan dengan deklarasi. Ia mencintai dengan tinggal, dengan setia, dengan tidak pergi ketika keadaan menjadi sulit. Dan mungkin di situlah letak cintanya nan paling jujur: dia tidak menuntut untuk diingat.
Sejarah, seperti biasa, melangkah dengan ingatan nan selektif—ia memilih, memilah, lampau mengabadikan sebagian, sementara nan lain dibiarkannya mengendap seperti debu nan perlahan menyatu dengan tanah. Ia mengukir nama-nama tertentu di batu, meninggikannya dalam monumen dan buku-buku pelajaran, seakan hanya mereka nan layak dikenang oleh zaman.
Sementara itu, nan lain—mereka nan bekerja dalam diam, nan mengasihi tanpa banyak kata, nan memberi tanpa menuntut balasan—dibiarkan larut, lenyap dalam lapisan waktu nan tak pernah betul-betul adil. Namun tanah tidak pernah lupa. Ia menyimpan segala nan ditinggalkan manusia: jejak langkah nan samar, peluh nan jatuh tanpa suara, dan doa-doa nan tak pernah sempat ditulis, tetapi menggema dalam kesunyian nan panjang.
Maka dia tetap ada—bukan dalam gemuruh nama, melainkan dalam keheningan nan bekerja tanpa lelah, dalam kasih nan tak pernah meminta untuk diingat alias dipuji. Ia adalah sosok nan memilih pergi dari asalnya, meninggalkan akar nan telah memberinya identitas, hanya untuk menemukan sesuatu nan lebih dalam di tanah nan tak pernah menjanjikan apa-apa selain kemungkinan untuk memberi diri sepenuhnya.
Seorang asing yang, dengan langkah nan nyaris tak terlihat, menjelma menjadi bagian dari jiwa sebuah bangsa; nan tidak menuntut pengakuan, tetapi justru menemukan makna terdalam dari keberadaannya dalam tindakan mencintai tanpa syarat—mencintai dengan setia, apalagi ketika bumi memilih untuk tidak mengingatnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·