BPS Coret 11.000 Penerima Bansos, Terungkap ini Alasannya

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan 11.014 orang alias 0,06 persen dari total 18,15 juta family penerima support sosial (bansos) tak tepat sasaran. Sebab, sudah dikategorikan tak layak menerima bansos. Kementerian Sosial mencoret membersihkan info orang-orang tersebut. 

BPS menegaskan 11.014 orang nan masuk dalam kategori ini adalah masyarakat nan secara status ekonomi tidak semestinya mendapatkan support sosial dari pemerintah.

"Yang jelas DT-Sen semakin rapi, semakin solid lantaran kami bisa sudah kelak membersihkan masyarakat nan tadinya menerima bansos namun kami cermati semestinya dia adalah orang-orang nan tidak perlu menerima bansos alias dibersihkan sekitar 11.014 orang. Itu nan kita sebut sekali lagi sebagai inclusion error," tegas Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti  kepada wartawan di Gedung Kementerian Sosial, Jakarta, Senin (13/4).

Sejalan dengan itu,  BPS juga sukses memetakan tingkat kesejahteraan (desil) bagi 27.176 family nan sebelumnya belum teridentifikasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 25.665 family dipastikan berada di desil satu hingga empat, nan merupakan sasaran utama penerima support sosial. 

Pembersihan info ini sejalan dengan rampungnya pemutakhiran Data Terpadu Registrasi Sosial Ekonomi (DT-Sen) jenis kedua tahun 2026 nan sudah diserahkan ke Kementerian Sosial (Kemensos). 

Pemutakhiran info menjadi landasan utama pengedaran support bagi masyarakat. Koordinasi intensif dilakukan berbareng Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf namalain Gus Ipul guna menyelaraskan angka-angka terbaru nan telah diverifikasi di lapangan agar tidak ada lagi tumpang tindih data.

"Artinya DT-Sen jenis kedua 2026 ini adalah DT-Sen nan bakal digunakan sebagai dasar penyaluran bansos di triwulan kedua 2026," kata Amalia.

Pemutakhiran info juga mengenai dinamika kependudukan nan sangat sigap di beragam daerah. Secara individu, jumlah masyarakat Indonesia mengalami pertumbuhan.

Amalia menjelaskan, perubahan ini merupakan hasil penyisiran info kematian, kelahiran baru, hingga reaktivasi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Kartu Keluarga nan dilakukan secara sistematis. 

"Ini kami mutakhirkan ada nan meninggal sekitar 314 ribu berasas SIAK, dan waktu kami ground check juga kami menemukan ada nan meninggal 356 ribu. Tetapi juga ada nan lahir baru, ada nan melakukan reaktivasi NIK dan kartu keluarga, sehingga net-nya tadi nan sudah saya sampaikan," jelasnya.

Selain pembersihan data, BPS juga sukses memetakan tingkat kesejahteraan (desil) bagi 27.176 family nan sebelumnya belum teridentifikasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 25.665 family dipastikan berada di desil satu hingga empat, nan merupakan sasaran utama penerima support sosial.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita