Bekasi -
Menteri Koordinator Bidang Pangan RI (Menko Pangan) Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bekasi berpotensi menyelesaikan sekitar 22,5% persoalan sampah di Indonesia.
Menurutnya, PSEL menjadi salah satu solusi untuk menangani timbulan sampah dalam skala besar, khususnya di wilayah perkotaan dan metropolitan.
Hal tersebut disampaikan Zulhas dalam aktivitas Peresmian Pembangunan PSEL Kota Bekasi, Jawa Barat (Jabar).
"Yang kita bicarakan hari ini itu baru 22%. Jadi jika selesai semua nan dikerjakan oleh Pandu (CIO Danantara) dan kawan-kawan, itu baru 22%," ujar Zulhas, dalam sambutannya, Rabu (26/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dengar sampai tahun depan bisa 15%. Kalau 15% itu sudah luar biasa, excellent, sudah bagus sekali," sambungnya.
Zulhas mengatakan pengolahan sampah menjadi daya listrik merupakan salah satu pendekatan nan dapat diterapkan untuk mengurangi beban sampah. Selain PSEL, pemerintah juga menyiapkan teknologi lain seperti pirolisis dan refuse derived fuel (RDF).
"Kalau kita bisa menyelesaikan 15%, pengolahan sampah menjadi daya listrik. Tapi jika ini selesai, ada 24% alias sampai 40%, itu baru 22%. Ada lagi pirolisis tadi," kata Zulhas.
Diketahui, pemerintah memproyeksikan timbulan sampah Indonesia pada 2029 mencapai sekitar 146.780 ton per hari. Untuk mengantisipasi volume tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah pilihan teknologi pengolahan sampah berasas karakter dan kapabilitas wilayah.
Pilihan teknologi tersebut mencakup pengolahan sampah organik dari sumber di tingkat desa alias komunitas, TPS-3R dan bank sampah induk, TPST berbasis RDF, TPST non-RDF dengan teknologi pirolisis, serta PSEL.
Pengolahan organik dari sumber di tingkat desa alias komunitas, misalnya melalui biodigester, teba, dan komposter, diproyeksikan mempunyai porsi sekitar 12,4%.
Sementara itu, pengelolaan melalui TPS-3R dan Bank Sampah Induk dengan skala komunal diproyeksikan mencakup 19,8%. Skema ini mengedepankan material recovery melalui akomodasi seperti TPS-3R dan TPST.
Selanjutnya, TPST berbasis RDF di wilayah nan berdekatan dengan industri semen mempunyai potensi sekitar 25,3%. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan di wilayah nan mempunyai akses terhadap pabrik semen, nan saat ini berjumlah sekitar 23 pabrik di Indonesia.
Adapun TPST non-RDF dengan teknologi pirolisis di tingkat perkotaan mempunyai potensi sekitar 20%. Selain pirolisis, kategori ini mencakup teknologi lain seperti biogas, pengomposan skala besar, dan material recovery facility.
Untuk PSEL, teknologi tersebut diarahkan bagi kota alias kabupaten dengan timbulan sampah lebih dari 1.000 ton per hari, baik dikelola sendiri maupun melalui skema aglomerasi.
Di samping itu, Zulhas menekankan pentingnya kerjasama beragam pihak dalam mempercepat penyelesaian persoalan sampah. Menurutnya, pemerintah memerlukan support seluruh pemangku kepentingan, termasuk TNI.
"Jadi jika TNI mau ikut, alhamdulillah, kita kasih karpet biru. Cepat, segera. Kita terima kasih," ujar Zulhas.
Zulhas juga mengapresiasi support TNI dalam beragam program pemerintah, termasuk bagian pangan dan pembangunan infrastruktur.
"Bapak bantu, Bapak dukung, pangan juga didukung oleh TNI dan lain-lain. Termasuk jembatan, termasuk sungai, air bersih, dan sebagainya. Terima kasih banyak," kata Zulhas.
Menurut Zulhas, penyelesaian persoalan sampah juga memerlukan keterlibatan masyarakat hingga tingkat akar rumput. Ia mencontohkan aktivitas nan melibatkan ribuan peserta dari beragam unsur, mulai dari LSM, pelajar, RT/RW hingga pemerintah kecamatan.
"Kalau kita kerja sama seperti itu, Insyaallah Pak, 2029, 70-75% bisa kita selesaikan sampah ini," tutur Zulhas.
Zulhas optimistis persoalan sampah nan telah berjalan selama puluhan tahun dapat ditangani dalam beberapa tahun ke depan andaikan seluruh pihak bekerja sama.
"Saya yakin, asal bisa kerja sama dengan semua pihak. Sekali lagi, itulah tugas kami mengawal perintah Bapak Presiden ini agar ini bisa sukses dan berhasil," kata Zulhas.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penerapan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025, nan menjadi tonggak baru dalam pengembangan pengelolaan sampah skala besar di Indonesia.
Dalam kesempatan nan sama, Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir menyampaikan peresmian ini merupakan lanjutan dari proyek nan sebelumnya telah diresmikan pertama kali di Denpasar, Bali.
"Proyek ini ditargetkan bisa mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun alias sekitar 70% timbunan sampah terolah di Kota Bekasi. Pada agenda hari ini," kata Pandu.
Pandu menyampaikan PSEL ini bakal memberikan akibat nyata terhadap pengolahan sampah, daya hijau, dan memberdayakan ekonomi lokal dengan merujuk pada standar lingkungan European Industrial Emissions Directive.
Fasilitas ini ditargetkan bisa menurunkan emisi dari tempat pembuangan akhir hingga 80% dan mengurangi emisi karbon sebesar 640.000 ton setara CO2 per tahun.
"Dari sisi energi, inisiatif ini bakal menghasilkan daya hijau nan dapat menyuplai kebutuhan 55.000 rumah masyarakat Kota Bekasi," ujarnya.
Sebagai informasi, aktivitas ini turut dihadiri CIO BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir, Kepala Staf Angkatan Darat TNI Maruli Simanjuntak, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, dan Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo.
(akd/ega)
14 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·