Ilustrasi(Magnific.com)
Kenaikan yield Surat Utang Negara (SUN) dinilai dapat menjadi salah satu penyangga rupiah di tengah meningkatnya tekanan dari pasar finansial global. Penyesuaian imbal hasil alias yield diperlukan untuk menjaga daya tarik aset Indonesia ketika yield US Treasury mendekati 5%, nilai minyak berada di atas US$100 per barel, dan ekspektasi kenaikan suku kembang Federal Reserve kembali menguat.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, dalam kondisi yield US Treasury 10 tahun mendekati 5%, Fakhrul menilai yield SUN perlu diberikan ruang untuk melakukan price discovery. Trimegah memperkirakan yield SUN 10 tahun dapat bergerak menuju kisaran 7,3–7,5% andaikan diperlukan sebagai market-clearing yield.
Kenaikan yield SUN tersebut, menurutnya, tidak semata-mata menunjukkan tekanan terhadap pasar obligasi domestik. Penyesuaian yield justru dapat membantu menjaga daya tarik aset Indonesia sehingga mengurangi tekanan terhadap arus modal dan rupiah ketika imbal hasil aset dunia meningkat.
“Kenaikan yield SUN justru dapat menjadi guardrail alias peredam bagi rupiah lantaran membantu mempertahankan daya tarik aset Indonesia ketika yield dunia naik," ujar Fakhrul dalam keterangan resminya, Senin (14/9).
Sebaliknya, lanjutnya, dengan mempertahankan yield domestik terlalu rendah ketika risk-free rate dunia meningkat berisiko mengurangi insentif penanammodal asing untuk menempatkan biaya di Indonesia. Dalam kondisi tersebut, tekanan nan semestinya diserap melalui pasar obligasi dapat beranjak ke nilai tukar.
“Kalau yield tidak diperbolehkan melakukan adjustment, tekanan akhirnya dapat beranjak ke rupiah. Saya lebih memilih sebagian adjustment terjadi secara sehat melalui bond market daripada seluruh shock kudu diserap oleh currency.”
Fakhrul sebelumnya memperkirakan Indonesia memerlukan sekitar US$11 miliar capital inflow untuk membantu menjaga kestabilan neraca pembayaran dan rupiah. Karena itu, menjaga daya tarik relatif aset rupiah menjadi semakin krusial ketika persaingan memperoleh modal dunia meningkat.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah diperkirakan tetap dapat dikelola andaikan respons kebijakan dilakukan secara tepat. Selain pasar obligasi, Bank Indonesia mempunyai sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mulai dari intervensi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), pengelolaan likuiditas hingga instrumen pasar duit dan valas.
Fakhrul menilai pelemahan rupiah dari level saat ini semestinya relatif terbatas apabila policy reaction function dilakukan secara tepat dan konsisten.
“Saya lihat potensi pelemahan rupiah hanya sampai ke 17.800 per dolar AS," tuturnya
Menurutnya, kondisi saat ini tidak menjadi argumen untuk terlalu bearish terhadap rupiah. nan terpenting adalah memastikan setiap tekanan eksternal diserap oleh instrumen dan pasar nan tepat, bukan dibebankan seluruhnya kepada BI Rate.
Menurutnya, tekanan nan berasal dari kenaikan yield dunia perlu sebagian diserap melalui penyesuaian yield SUN. Sementara itu, jika terjadi volatilitas berlebihan di pasar kurs asing, Bank Indonesia dapat meredamnya melalui intervensi.
“Kalau persoalannya kebutuhan dolar nan berkarakter struktural, pemerintah dan BI perlu memperkuat LCT, ekspor, FDI, serta sumber pembiayaan eksternal lainnya. Kita jangan meminta BI Rate menyelesaikan semuanya,” terangnya.
Selain penyesuaian yield SUN, penguatan Local Currency Transaction (LCT) dinilai dapat membantu Indonesia menghadapi perubahan kondisi likuiditas global. LCT memungkinkan transaksi perdagangan dan investasi dilakukan menggunakan mata duit lokal sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sebagai satu-satunya sumber likuiditas eksternal.
Indonesia telah memperluas LCT dengan Singapura untuk transaksi berjalan, investasi langsung dan pembayaran lintas negara dalam rupiah dan dolar Singapura. BI juga memperkuat sistem renminbi melalui Renminbi Clearing Bank.
Namun, menurut Fakhrul, pengembangan LCT perlu ditingkatkan dari sekadar sistem penyelesaian transaksi menjadi instrumen nan bisa memperkuat likuiditas, lindung nilai dan pembiayaan perdagangan maupun investasi.
“LCT generasi pertama berbincang mengenai settlement. LCT berikutnya kudu berbincang mengenai liquidity, hedging, trade finance dan investment financing.”
Menurutnya, penguatan LCT bukan ditujukan untuk menggantikan dolar AS, melainkan menyediakan pengganti sumber likuiditas ketika kondisi pasar dunia mengalami tekanan.
“Saya tidak memandang LCT sebagai de-dollarization. Saya melihatnya sebagai monetary redundancy. Dalam bumi nan semakin terfragmentasi, Indonesia tidak semestinya hanya mempunyai satu jalan untuk memperoleh likuiditas eksternal," imbuhnya.
Di sisi pemerintah, upaya menjaga rupiah juga perlu dibarengi kebijakan nan memperbaiki struktur kebutuhan dan pasokan kurs asing. Kenaikan nilai minyak meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi, sementara yield dunia nan lebih tinggi membikin biaya memperoleh modal eksternal menjadi semakin mahal.
Karena itu, pemerintah perlu mendorong kebijakan nan mengurangi structural dollar demand sekaligus memperbesar structural dollar supply. Peningkatan produksi domestik, ekspor, investasi langsung dan kebijakan nan menurunkan akibat berupaya menjadi semakin krusial dalam kondisi tersebut.
“BI dapat membeli waktu dan meredam volatilitas. Tetapi pemerintah nan pada akhirnya kudu memperbaiki struktur kebutuhan dan pasokan kurs asing Indonesia," katanya.
Fakhrul juga menilai kebijakan daya seperti B50, peningkatan kapabilitas produksi domestik, percepatan FDI serta diversifikasi sumber pembiayaan eksternal perlu diperkuat. Pemerintah juga perlu mendorong perusahaan Indonesia memperoleh pembiayaan dari perbankan asing, termasuk dari Jepang, China, Korea dan Singapura.
“Kita perlu bergerak dari ketergantungan pada portfolio inflow menuju struktur capital flow nan lebih berimbang antara portfolio, FDI dan private-sector financing," pungkasnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·