Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden China Xi Jinping tiba-tiba memperingatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dikutip dari AFP, Jumat (15/5/2026), Xi me-warning Trump agar tak ikut kombinasi soal Taiwan, berujar salah langkah dapat mendorong kedua negara ke dalam "konflik"
"Masalah Taiwan adalah rumor terpenting dalam hubungan China-AS," kata Xi, menurut pernyataan nan diterbitkan oleh media pemerintah China tak lama setelah pertemuan dilakukan kedua pemimpin itu Kamis, di Beijing, nan berjalan selama dua jam 15 menit itu.
"Jika salah penanganan, kedua negara dapat berbenturan alias apalagi berkonflik, mendorong seluruh hubungan China-AS ke dalam situasi nan sangat berbahaya," tambah Xi.
Sebenarnya Trump tiba di China dengan pujian untuk tuan rumahnya. Trump menyebut Xi sebagai "pemimpin hebat" dan "teman" seraya menyampaikan undangan untuk mengunjungi Gedung Putih pada bulan September.
Namun Xi sendiri menegaskan ke Trump bahwa kedua negara "harus menjadi mitra dan bukan saingan". Ia juga langsung menyoroti rumor Taiwan, nan diklaim Beijing sebagai wilayahnya.
"Bisakah China dan Amerika Serikat melampaui apa nan disebut 'Perangkap Thucydides' dan membentuk paradigma baru untuk hubungan kekuatan besar?" tanya Xi merujuk ke teori nan dikemukakan oleh sarjana Harvard Graham Allison, nan menggambarkan kecenderungan menuju perang, ketika kekuatan nan sedang "naik daun"dianggap menakut-nakuti bisan menggantikan kekuatan nan sudah mapan dan membentuk "paradigma baru hubungan negara-negara besar".
"Mencapai kebangkitan besar bangsa China dan menjadikan Amerika dahsyat kembali dapat melangkah beriringan... dan memajukan kesejahteraan seluruh dunia," kata Xi, merujuk pada aktivitas MAGA Trump.
Sementara itu, penyunting buletin China Neican, Adam Ni, mengatakan "bahasa blak-blakan" Xi Jinping sebagai "hal tidak biasa datang dari pemimpin itu sendiri". Analis dari Universitas Nasional Singapura Chong Ja Ian menyebut China "memberi sinyal kemauan untuk kompromi AS mengenai Taiwan" seraya "menunjukkan bahwa mereka memandang beberapa kesempatan untuk meyakinkan Trump".
Trump sendiri tidak berkomentar kepada wartawan tentang Taiwan pada hari Kamis. Tetapi Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC International bahwa Presiden bakal mengatakan lebih banyak "dalam beberapa hari mendatang".
Perlu diketahui, kunjungan Trump ke Beijing adalah kunjungan pertama Presiden AS dalam nyaris satu dekade, dengan sambutan meriah. Xi Jinping menyambut Trump dengan karpet merah di Balai Agung Rakyat nan mewah, dengan iringan musik militer, salvo 21 tembakan meriam, dan sejumlah anak sekolah nan melompat dan meneriakkan "selamat datang!".
Sementara itu, Taiwan, memberikan tanggapan dengan ahli bicara kabinet Michelle Lee menyatakan bahwa "ancaman militer China adalah satu-satunya sumber ketidakamanan di Selat Taiwan dan area Indo-Pasifik nan lebih luas". AS sebenarnya mengakui kebijakan Satu China, tetapi telah mempertahankan hubungan nan kuat dengan pemerintah Taiwan, setelah menyetujui penjualan senjata senilai puluhan miliar dolar selama beberapa dekade, dengan US$11 miliar pada bulan Desember.
(sef/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·