Ilustrasi(Dok Istimewa)
Lagu kebangsaan Timor Leste bergema bergantian dengan Indonesia Raya di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Sabtu (5/9). Di hadapan para pembimbing besar, sivitas akademika, dan tamu kehormatan, Kay Rala Xanana Gusmão, Perdana Menteri Republik Demokratik Timor Leste, resmi menyandang gelar Doktor Honoris Causa dalam bagian Administrasi Publik.
Penganugerahan ini bukan sekadar seremoni kenegaraan alias bingkisan atas ketenaran politik. Unhas, melalui tim promotor Prof. Hafid Abbas, menegaskan bahwa gelar ini adalah pernyataan nilai, prinsip, serta standar moral dan intelektual nan dianggap krusial bagi pemajuan pengetahuan pengetahuan dan peradaban manusia.
Dengan gelar ini, Xanana Gusmão resmi masuk dalam deretan tokoh bumi nan pernah menerima kehormatan tertinggi dari Unhas, bersanding dengan nama-nama besar seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, B.J. Habibie, Jusuf Kalla, dan Nelson Mandela.
Empat Alasan Mendasar
Dalam pidato akademiknya, Promotor Prof. Hafid Abbas memaparkan empat argumen utama nan melatarbelakangi keputusan Unhas memberikan gelar kehormatan tersebut:
- Simbol Perjuangan Bangsa: Xanana adalah arsitek utama lahirnya Republik Demokratik Timor Leste. Memimpin gerilya selama 17 tahun hingga ditangkap pada 1992, perjalanannya membuktikan bahwa politik adalah tentang gimana bangsa nan terluka belajar berdiri dan membangun masa depan.
- Jembatan Rekonsiliasi: Xanana memilih jalan susah dengan mengampuni tanpa melupakan. Ia sukses membangun hubungan selaras dengan Indonesia, mengubah bentrok masa lampau menjadi hubungan nan didasari rasa saling menghormati.
- Transformasi Negarawan: Pasca-kemerdekaan 2002, dia beralih bentuk dari pejuang menjadi pemimpin formal, mulai dari Presiden pertama hingga Perdana Menteri, dengan konsentrasi pada pembangunan lembaga negara dan penguatan demokrasi.
- Pewaris Nilai Perdamaian: Sosoknya mencerminkan keberanian nan berpadu dengan kerendahan hati, sejalan dengan misi Unhas dalam menjunjung nilai kemanusiaan, keadilan, dan peradaban.
Bukan Sekadar Gelar, Melainkan Amanat
Menerima gelar tersebut, Xanana Gusmão menanggapinya dengan penuh kerendahan hati. Ia menegaskan bahwa penghargaan ini membawa tanggung jawab besar bagi rakyatnya.
"Pahlawan sejati adalah rakyat kita. Setelah 24 tahun merdeka, kita tetap memandang kemiskinan dan banyak masalah nan dihadapi rakyat. Itulah sebabnya tanggung jawab ini adalah semacam amanat. Kita kudu terus melakukan nan terbaik bagi rakyat," tegas Xanana.
Ia juga memberikan pesan unik bagi generasi muda agar tidak terjebak pada ketergantungan teknologi instan. "Kita tidak butuh generasi muda jika mereka berjuntai terlalu banyak pada Google dan AI, lantaran mereka tidak bakal menjadi mesin," tukasnya, seraya mengingatkan bahwa pemimpin bumi lahir dari proses meneliti dan memahami persoalan secara mendalam.
Jejak Maritim dan Diplomasi Akademik
Sidang terbuka tersebut juga mengangkat refleksi historis mengenai hubungan pelaut Bugis-Makassar dengan Laut Timor nan telah terjalin beratus-ratus tahun silam. Jejak ini tetap kekal melalui nama Pante Makassar di Oecusse, sebuah eksklave di Timor Leste.
Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, menyebut penganugerahan ini sebagai corak science diplomacy. Hal ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto nan mengedepankan good neighbor policy.
Saat ini, tercatat 143 mahasiswa asal Timor Leste tengah menempuh pendidikan di Unhas. Ke depan, Unhas apalagi berencana membuka kampus di Timor Leste sebagai corak kontribusi nyata dalam penguatan kapabilitas sumber daya manusia di negara tetangga tersebut.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·