Ilustrasi(Dok Istimewa)
BADAN Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kementerian Keuangan terus memperkuat promosi komoditas perkebunan sekaligus mendorong pengembangan UMKM berbasis kakao melalui Workshop “Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah” nan digelar di Roemah UMKM BPDP di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan nan mengusung konsep edukatif dan interaktif tersebut menghadirkan pelaku upaya cokelat lokal Cokelatin Signature melalui sesi story sharing, chocolate tasting, hingga praktik langsung pembuatan minuman cokelat berbasis kakao Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari penyelenggaraan mandat BPDP sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Dana Perkebunan. Dalam izin tersebut, biaya perkebunan digunakan untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia perkebunan, penelitian dan pengembangan, promosi perkebunan, peremajaan perkebunan, serta sarana dan prasarana perkebunan.
Sejalan dengan perihal tersebut, BPDP terus mendorong penguatan komoditas perkebunan, tidak hanya kelapa sawit tetapi juga kakao dan kelapa nan mempunyai potensi besar dalam pengembangan industri hilir berbasis perkebunan. Salah satunya dilakukan melalui aktivitas promosi dan edukasi nan melibatkan masyarakat secara langsung.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan BPDP tidak hanya konsentrasi pada pengelolaan biaya perkebunan, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan UMKM.
“Putra-putri Bapak Ibu nan sudah lulus SMA punya kesempatan kuliah melalui program danasiwa sawit. Semua biaya ditanggung, termasuk duit saku bulanan ,” ujar Helmi.
Menurutnya, penerima danasiwa bukan hanya dari family pemilik kebun sawit, tetapi juga dapat berasal dari family pekerja di sektor sawit seperti pengemudi perusahaan maupun pekerjaan lain nan berangkaian dengan industri sawit.
Selain program beasiswa, BPDP juga terus mendorong pertumbuhan UMKM berbasis komoditas perkebunan guna meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka kesempatan upaya baru.
“Kami mau ini bukan sekadar omon-omon. Kami mau menjadi sesuatu nan nyata. Silakan manfaatkan kesempatan ini untuk membangun jejaring dan memandang apa nan bisa disupport oleh BPDP untuk pengembangan UMKM,” katanya.
Ia berambisi aktivitas workshop tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan generasi muda untuk membangun upaya berbasis komoditas perkebunan.
“Mudah-mudahan dari teman-teman mahasiswa ini nantinya ada nan menjadi pengusaha berbasis kakao, kelapa, alias sawit,” tambahnya.
Workshop “Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah” dirancang sebagai sarana edukasi publik untuk memperkenalkan proses hilirisasi kakao melalui pengalaman langsung. Peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai sejarah dan potensi kakao Indonesia, tetapi juga mempraktikkan langsung pengolahan minuman cokelat berbasis kakao.
Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra, menjelaskan bahwa upaya nan dijalankannya berangkat dari kesukaan terhadap potensi besar kakao Indonesia.
“Kami betul-betul jatuh cinta dengan cokelat Indonesia dan kakao Indonesia. Awalnya kami konsentrasi membikin produk, lampau berkembang mempelajari kakao dari hulunya,” ujarnya.
Ia menuturkan Indonesia pernah menjadi produsen kakao terbesar ketiga di bumi dan hingga sekarang tetap menjadi produsen terbesar di Asia. Namun demikian, gambaran cokelat premium selama ini justru lebih melekat pada negara-negara Eropa nan tidak mempunyai produksi kakao sebesar Indonesia.
“Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” katanya.
Dalam sesi edukasi, Nugroho menjelaskan sejarah kakao nan berasal dari tanaman Theobroma cacao nan berfaedah “food of god” alias makanan para dewa. Ia juga memaparkan perbedaan istilah kakao, kokoa, dan cokelat, serta memperkenalkan tiga varietas utama kakao ialah criollo, forastero, dan trinitario.
Menurutnya, varietas criollo alias nan dikenal sebagai Java Criollo merupakan kakao premium dengan kualitas tinggi dan jumlah nan sangat terbatas.
“Criollo ini paling aromatik, paling wangi, dan kualitasnya paling tinggi,” jelasnya.
Nugroho menilai Indonesia mempunyai potensi besar dalam pengembangan fine flavor cocoa melalui pengolahan pascapanen nan baik, terutama fermentasi dan pengeringan.
“Kelebihan Indonesia adalah kita punya varietas kakao nan jika diolah dengan baik bisa menjadi fine flavor cocoa,” katanya.
Selain sesi edukasi, peserta workshop juga diajak mempraktikkan langsung pembuatan minuman berbasis kakao Indonesia berbareng Founder Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, dan Shana nan mempunyai skill di bagian mixology.
Dua menu minuman nan diperkenalkan dalam workshop tersebut, ialah Earl Grey Criollo Chocolate, Pistachio Criollo Chocolate, dan Granola. Pada menu pertama, peserta diperkenalkan pada kombinasi teh Earl Grey dengan cokelat criollo nan mempunyai karakter rasa kuat.
“Perpaduannya menenangkan, lantaran ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk upaya minuman,” ujar Shana.
Sementara pada sesi berikutnya, peserta diajak membikin Pistachio Criollo Chocolate nan terinspirasi dari tren Dubai chocolate dan pistachio nan tengah populer.
Peserta mempraktikkan teknik menghias bibir gelas menggunakan pistachio paste dan cacao nibs, membikin tampilan minuman berlapis dengan teknik nuansa warna, hingga penggunaan edible flower sebagai garnish minuman. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·