Malaria Knowlesi belakangan menjadi sorotan setelah kasusnya dilaporkan meningkat di sejumlah wilayah di Indonesia. Penyakit ini dikenal juga sebagai “monkey malaria” lantaran berangkaian dengan penularan parasit dari monyet ke manusia melalui gigitan nyamuk.
Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, PGDipPID M.Ked(Ped)., Sp.A, Subsp IPT(K)., Ph.D, menjelaskan bahwa malaria Knowlesi merupakan malaria zoonotik, ialah penyakit nan ditularkan dari hewan ke manusia. Menurutnya, penyakit zoonotik bukan hanya malaria, tetapi juga termasuk COVID-19, flu burung, hingga hantavirus.
Penularan Malaria Knowlesi dari Monyet ke Manusia
Dr. Inke menjelaskan bahwa malaria Knowlesi disebabkan oleh parasit berjulukan Plasmodium knowlesi nan umumnya menginfeksi monyet tertentu, seperti monyet ekor panjang dan monyet beruk. Namun, tidak semua jenis monyet dapat tertular parasit tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, jangkitan ini mulai ditemukan menular ke manusia melalui gigitan nyamuk. Penularan terjadi ketika nyamuk menggigit monyet nan terinfeksi, lampau menggigit manusia sehingga parasit beranjak ke tubuh manusia.
“Yang terjadi dalam kejadian terakhir, dalam beberapa tahun terakhir, jangkitan ini rupanya bisa menular dari monyet ke manusia melalui gigitan nyamuk. Jadi tetap ada aspek nan sebagai penularnya nan menggigit monyet tersebut, lampau menggigit manusia dan menyebabkan penularan,” ucap dr. Inke dalam webinar berbareng IDAI, Rabu (13/5).
Ia menambahkan, kasus malaria Knowlesi sejauh ini lebih banyak ditemukan pada masyarakat nan tinggal di wilayah perhutanan, perkebunan, maupun area tambang, terutama wilayah nan mengalami perubahan kegunaan lahan. Salah satu wilayah dengan laporan kasus cukup tinggi adalah Aceh. Hingga April 2026, tercatat ada 79 kasus nan diduga berangkaian dengan malaria Knowlesi di wilayah tersebut.
Gejala pada Anak dan Orang Dewasa
Terkait gejala, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, PGDipPID M.Ked(Ped)., Sp.A, Subsp IPT(K)., Ph.D, menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara malaria Knowlesi pada anak maupun orang dewasa. Gejala nan muncul condong serupa dengan malaria pada umumnya, seperti demam, sakit kepala, berkeringat, dan menggigil.
"Jadi jika untuk anak dan dewasa ini, sebetulnya tidak ada perbedaan gejala," tuturnya.
Meski pada malaria biasa anak-anak dan ibu mengandung condong berisiko mengalami kondisi lebih berat, malaria Knowlesi dinilai berbeda lantaran merupakan jangkitan baru bagi seluruh golongan usia, sehingga akibat malaria berat dapat terjadi sama pada anak maupun orang dewasa.
Dr. Inke juga menjelaskan bahwa masa inkubasi malaria Knowlesi umumnya sekitar 1–2 minggu. Sehingga, krusial untuk menanyakan riwayat perjalanan ke wilayah berisiko tinggi. Jika seseorang baru kembali dari wilayah endemis dalam 1–2 minggu terakhir lampau muncul indikasi malaria, maka perihal tersebut perlu diwaspadai.
“Jika ada riwayat dalam 1-2 minggu terakhir perjalanan ke wilayah nan berisiko tinggi, tentunya perlu kita tanyakan," jelasnya.
Waktu munculnya indikasi tersebut juga serupa dengan jenis malaria lainnya, sehingga riwayat perjalanan menjadi salah satu kunci krusial untuk membantu mengidentifikasi apakah kasus tersebut termasuk malaria Knowlesi alias bukan.
56 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·