Sering Kena Mom Shaming, Vicky Shu Turunkan Berat Badan 10 Kg dalam 8 Minggu!

Sedang Trending 47 menit yang lalu
Perjalanan transformasi Vicky Shu berbareng Halofit by Halodoc. Foto: Dok. Pribadi

Gaya hidup modern nan serba cepat, kurangnya aktivitas fisik, serta tingginya tingkat stres telah mengubah langkah masyarakat menjaga kesehatannya. Tuntutan kesibukan sehari-hari sering kali berujung pada pola makan nan tidak teratur, membikin banyak orang kesulitan mempertahankan berat badan ideal. Bagi perempuan, tantangan ini semakin berat dengan adanya perubahan hormon dan metabolisme, khususnya pada fase pascamelahirkan.

Sayangnya, lonjakan berat badan kerap dipandang semata-mata sebagai akibat dari kurangnya kedisiplinan menjaga pola style hidup, padahal terdapat aspek genetik, hormonal, dan metabolik nan kompleks di baliknya. Stigma ini sering kali memicu tekanan mental dan mendorong banyak orang mengambil jalan pintas melalui diet ekstrem nan berbahaya.

Tekanan sosial dan perjuangan mengelola berat badan ini juga dialami oleh salah satu figur publik, Vicky Shu. Pasca melahirkan anak keduanya, Vicky menghadapi tantangan berat badan nan signifikan. Di tengah upayanya beradaptasi dan kembali beraktivitas, dia justru menjadi sasaran body shaming dan mom shaming di media sosial.

Perjalanan transformasi Vicky Shu berbareng Halofit by Halodoc. Foto: Dok. Pribadi

Di tengah perjalanannya untuk terus antusias di tengah tekanan sosial, Vicky Shu tetap memprioritaskan kesehatannya. Publik sempat menduga dia menjalani operasi pangkas lambung, lantaran transformasinya nan terbilang sigap dan berhasil. Padahal Vicky Shu mengikuti program weight management berbareng Halofit by Halodoc telah melangkah selama delapan minggu , di bawah pengawasan medis dan sains nan ketat serta support teknologi.

Selain itu Vicky juga menerapkan pola hidup sehat dengan aktif melangkah kaki setiap hari, dan menata ulang pola konsumsi sehari-hari.

“Aku memilih program Halofit lantaran saya mau investasi jangka panjang untuk kesehatan bentuk dan mentalku, bukan semata lantaran mau menurunkan berat badan saja. Melalui program ini, saya mendapatkan pengawasan dari tim master selama 30 hari, diberikan meal plan nan sesuai dengan kebutuhan tubuhku, dan mendapat terapi GLP-1, jadi nafsu makan saya lebih terkontrol dan nggak lagi lapar mata. Apalagi Halofit ini bisa diakses secara online juga ya, jadi memudahkan saya nan sehari-hari sudah padat bekerja dan mengurus keluarga. Perjalanan transformasi ini ngajarin saya bahwa kita nggak kudu memenuhi standar kecantikan orang lain, lantaran tujuan sebenarnya bukan hanya menurunkan berat badan saja, tapi justru mempunyai tubuh nan sehat, dan akhirnya pun dapat berakibat pada mental nan sehat”, ulas Vicky Shu.

Perjalanan transformasi Vicky Shu berbareng Halofit by Halodoc. Foto: Dok. Pribadi

Apa nan dialami Vicky Shu mencerminkan realita nan lebih luas. Kelebihan berat badan dan obesitas kerap dipandang semata sebagai persoalan style hidup, padahal, bagi banyak orang, kondisi ini dipengaruhi oleh aspek nan jauh lebih kompleks dan sebaiknya ditangani berbareng ahlinya.

Itulah kenapa solusi nan efektif perlu menyesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing individu, bukan program generik nan bertindak sama untuk semua orang secara instan. Halofit by Halodoc datang sebagai klinik digital untuk manajemen berat badan dengan pendekatan medis nan dipersonalisasi.

Halofit by Halodoc : Solusi Manajemen Berat Badan di Tengah Krisis

Obesitas Kehadiran Halofit bukan tanpa dasar, bakal tetapi untuk menjawab persoalan obesitas di Indonesia. Berdasarkan info Cek Kesehatan Gratis (CKG) nan diadakan oleh Kementerian Kesehatan hingga akhir 2025, satu dari tiga orang Indonesia mengalami obesitas sentral, ialah penumpukan lemak di area perut nan rawan bagi kesehatan metabolik1. Kondisi meningkatkan akibat penyakit kronis seperti glukosuria dan hipertensi.

Perjalanan transformasi Vicky Shu berbareng Halofit by Halodoc. Foto: Dok. Pribadi

Hal nan mengejutkan lainnya, studi Awareness, Care and Treatment in Obesity Management (ACTION) APAC nan dilakukan Novo Nordisk berbareng para peneliti di sembilan negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia, pada 2022 menemukan bahwa hanya 43% perseorangan dengan obesitas nan pernah mendiskusikan berat badannya dengan tenaga kesehatan dalam lima tahun terakhir2. Inilah kesenjangan nan mau dijembatani Halofit, ialah agar lebih banyak masyarakat nan mendapatkan pendampingan medis nan tepat dalam mengelola berat badannya, dan tidak mencoba diet secara tidak aman.

Ignasius Hasim, VP Consultation & Diagnostics Halodoc, mengatakan, “Bagi Halodoc, mengatasi obesitas bukan sekadar menurunkan nomor di timbangan, tetapi membantu masyarakat membangun kesadaran dan kebiasaan hidup sehat nan berkelanjutan. Data Halodoc tahun 2024 menunjukkan, sebelum Halofit diluncurkan, sekitar 75% pasien nutrisionis Halodoc telah mencari support untuk manajemen berat badan, namun sebagian besar tetap berfokus pada pengaturan pola makan dan edukasi style hidup. Maka dari itu, melalui Halofit kami menghadirkan pendekatan nan lebih menyeluruh dengan menggabungkan edukasi,

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan