Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan nilai BBM non subsidi jenis Pertamax nan cukup signifikan memunculkan kekhawatiran. Terutama kekhawatiran adanya perpindahan konsumen ke BBM bersubsidi seperti Pertalite.
Merespons perihal tersebut, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengimbau masyarakat untuk bijak dalam menggunakan daya dan tidak mengambil kewenangan golongan nan berkuasa menerima subsidi.
"Imbauan bijak menggunakan daya dan kesadaran untuk tidak mengambil kewenangan penerima subsidi ini terus digaungkan," ujarnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (11/6/2026).
Roberth mengatakan penyesuaian nilai BBM non subsidi jenis Pertamax dilakukan dengan tetap memperhatikan daya beli dan roda perekonomian nasional. Di sisi lain, nilai BBM bersubsidi tidak mengalami penyesuaian dan tetap dijual sesuai ketentuan nan berlaku.
Menurutnya, aspek nilai pasar dan nilai keekonomian menjadi salah satu argumen dilakukannya penyesuaian harga. Setelah dilakukan koordinasi dengan regulator, penyesuaian nilai Pertamax akhirnya dilakukan.
"Lebih kepada proses upaya hulu ke hilir penyediaan daya nan sesuai kordinasi dengan regulator perlu bergerak dan beradaptasi atas kondisi terkini menanggapi kejadian saat ini," tambahnya.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kenaikan nilai Pertamax nan membikin selisih dengan Pertalite mencapai sekitar Rp6.250 per liter berpotensi mempercepat perpindahan konsumsi. Terutama dari BBM non subsidi ke BBM bersubsidi.
Menurut dia, secara ekonomi konsumen condong beranjak ke produk nan lebih murah ketika perbedaan nilai dua peralatan dengan kegunaan nan relatif sama semakin lebar. Dengan dugaan konsumsi 100 liter per bulan, pengguna kendaraan dapat menghemat sekitar Rp625 ribu per bulan jika beranjak dari Pertamax ke Pertalite.
"Karena itu, tidak mengherankan jika mulai terlihat antrean Pertalite nan lebih panjang dan permintaan Pertamax nan relatif melambat," ujar Yusuf kepada CNBC Indonesia, Kamis (11/6/2026).
Lebih lanjut, dia menilai, ke depan tren perpindahan ini kemungkinan tetap bakal bersambung andaikan selisih nilai tetap lebar dalam beberapa bulan mendatang. Berdasarkan simulasi nan pihaknya lakukan, dalam skenario moderat konsumsi Pertalite dapat meningkat sekitar 7 persen, sementara pada skenario nan lebih berat kenaikannya bisa mendekati 12 persen.
"Namun perlu dicatat bahwa kuota Pertalite baru berpotensi terlampaui ketika tingkat migrasi konsumsi mendekati 11,3 persen. Artinya, dalam skenario ringan hingga moderat, konsumsi tetap relatif dapat ditampung dalam kuota nan tersedia," tambahnya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·