Kiat Pencegahan ISPA.(Dok. RS Royal Progress)
DOKTER ahli anak subspesialis respirologi, Nastiti Kaswandani, membagikan sejumlah kiat untuk mengurangi akibat jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah cuaca panas dan kering musim kemarau. Kondisi udara nan ekstrem saat ini dinilai berakibat langsung pada kesehatan selaput lendir saluran napas, terutama pada anak-anak.
Nastiti menjelaskan bahwa udara kering dapat menyebabkan mukosa alias selaput lendir di saluran napas menjadi kering. Padahal, bagian ini berfaedah vital sebagai filter untuk menyaring bakteri, virus, dan polutan. "Jika kegunaan selaput lendir ini berkurang, maka akibat terjadinya ISPA bakal meningkat," ujar master nan berpraktik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tersebut pada Jumat (14/8).
Selain aspek kelembapan, rendahnya curah hujan membikin debu dan polutan lebih mudah beterbangan dan terhirup. Perbedaan suhu nan ekstrem antara siang nan panas dan malam nan dingin juga menjadi tantangan bagi daya tahan tubuh. Untuk itu, masyarakat disarankan memantau indeks kualitas udara (AQI) melalui aplikasi sebelum beraktivitas di luar ruangan.
Berikut adalah beberapa langkah perlindungan diri nan disarankan:
- Batasi Aktivitas Luar Ruangan: Hindari keluar rumah saat udara sangat kering, berdebu, alias kualitas udara memburuk.
- Gunakan Masker: Jika kudu keluar rumah dalam kondisi udara tidak ideal, pastikan menggunakan masker untuk meminimalkan paparan polutan.
- Jaga Hidrasi: Minum air nan cukup sangat krusial untuk menjaga kelembapan selaput lendir saluran napas agar tetap berfaedah optimal melawan partikel asing.
- Terapkan PHBS: Rutin mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etiket batuk nan benar.
- Nutrisi Seimbang: Konsumsi makanan bergizi, terutama nan kaya vitamin A dan C, untuk membantu perbaikan sel-sel saluran napas.
Nastiti juga menekankan pentingnya menjaga kualitas udara di dalam rumah. Masyarakat diimbau menghindari paparan asap rokok, asap masakan, hingga asap dari pembakaran sampah di lingkungan sekitar nan dapat dikendalikan secara mandiri.
Sebelumnya, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, juga telah memperingatkan ancaman ISPA selama tandus tahun ini. Minimnya tutupan awan memicu suhu terik dan penurunan kualitas udara akibat debu serta potensi asap kebakaran, nan secara kolektif meningkatkan akibat gangguan pernapasan bagi masyarakat luas. (Ant/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·