Celah keamanan pada AirDrop dan Quick Share nan memungkinkan serangan jarak dekat(Dok. iPhone)
FITUR berbagi file nirkabel seperti AirDrop dan Quick Share telah menjadi standar kenyamanan bagi pengguna ekosistem Apple dan Android. Namun, kemudahan ini rupanya menyimpan celah keamanan nan cukup serius. Riset terbaru mengungkapkan adanya kerentanan nan memungkinkan penyerang mengganggu kegunaan perangkat hingga mengeksploitasi memori dari jarak dekat.
Celah keamanan ini ditemukan pada Apple AirDrop dan Google/Samsung Quick Share, dua protokol nan digunakan oleh lebih dari lima miliar perangkat di seluruh dunia, mulai dari iPhone, Mac, hingga perangkat Android dan PC Windows.
Temuan ini dipublikasikan oleh Arash Ale Ebrahim dan Nils Ole Tippenhauer dari CISPA Helmholtz Center for Information Security dalam studi berjudul "Protocol Prying: Systematic Vulnerability Research in the Apple AirDrop and Android Quick Share Proximity Transfer Protocols".
Enam Celah Keamanan Terdeteksi
Para peneliti mengidentifikasi total enam celah keamanan nan tersebar di beragam platform:
- Apple AirDrop: Ditemukan tiga celah keamanan.
- Samsung Quick Share: Ditemukan dua celah keamanan.
- Google Quick Share (Windows): Ditemukan satu celah keamanan kritis.
Masalah mendasar terletak pada sistem "penemuan perangkat" (discovery). Agar fitur ini terasa instan, jasa latar belakang kudu memproses info dari perangkat asing di sekitar apalagi sebelum pengguna memberikan izin alias melakukan pairing. Penyerang nan berada dalam radius 10 hingga 30 meter dapat mengirimkan paket info rawan menggunakan laptop dan hubungan Wi-Fi tanpa perlu berada di jaringan nan sama.
Analisis Risiko: Pada perangkat Apple nan pengaturan AirDrop-nya disetel ke "Everyone", protokol bakal merespons permintaan dari perangkat asing secara otomatis di fase awal, jauh sebelum prompt persetujuan muncul di layar pengguna.
Dampak Serangan: Dari Crash Hingga Korupsi Memori
Dampak dari pemanfaatan ini bervariasi tergantung pada platform nan diserang. Pada ekosistem Apple, celah tersebut menargetkan daemon sharingd. Ini adalah jasa latar belakang nan tidak hanya mengelola AirDrop, tetapi juga fitur krusial lainnya seperti AirPlay, Handoff, Universal Clipboard, dan Continuity Camera.
Jika penyerang mengirimkan permintaan nan abnormal secara berulang, jasa sharingd bisa mengalami crash terus-menerus, nan secara efektif melumpuhkan seluruh fitur ekosistem Apple tersebut pada perangkat korban.
Sementara itu, pada Quick Share milik Samsung, peneliti menemukan bahwa beberapa frame info dapat diproses sebelum proses autentikasi UKEY2 selesai. Bahkan, ada kondisi di mana info tetap diproses meski dikirim tanpa enkripsi pasca-handshake.
Celah paling serius ditemukan pada Quick Share untuk Windows. Bug jenis use-after-free ditemukan ketika terjadi tabrakan dua hubungan pada identitas endpoint nan sama. Bug ini berpotensi menyebabkan korupsi memori, nan merupakan pintu masuk bagi pemanfaatan keamanan nan lebih berbahaya.
| Apple AirDrop | Layanan crash (sharingd), gangguan AirPlay/Handoff | 1 bug diperbaiki (CVE), lainnya dalam proses |
| Samsung Quick Share | Bypass autentikasi, manipulasi sesi | Dalam investigasi Google |
| Quick Share (Windows) | Korupsi memori (Use-after-free) | Kode telah diperbaiki oleh Google |
Langkah Pencegahan bagi Pengguna
Meskipun belum ada laporan bahwa celah ini digunakan secara luas untuk mencuri info pribadi, pengguna sangat disarankan untuk membatasi visibilitas perangkat mereka guna mengurangi akibat serangan jarak dekat.
Untuk Pengguna iPhone/Mac: Jangan biarkan pengaturan AirDrop berada pada opsi "Everyone" secara permanen. Gunakan opsi "Contacts Only" alias "Receiving Off". Pada iOS 16.2 ke atas, Apple telah membatasi opsi "Everyone" hanya bertindak selama 10 menit sebelum otomatis kembali ke pengaturan sebelumnya.
Untuk Pengguna Android/Windows: Atur visibilitas Quick Share ke "Your devices" alias "Contacts". Hindari membuka akses untuk semua orang di tempat umum. Pastikan aplikasi Quick Share di Windows selalu diperbarui ke jenis terbaru, mengingat Google telah mulai menggulirkan perbaikan kode untuk bug memori nan ditemukan.
Hingga saat ini, proses coordinated disclosure tetap berjalan antara peneliti CISPA dengan Apple, Google, dan Samsung untuk memastikan seluruh celah tertutup sepenuhnya melalui pembaruan perangkat lunak di masa mendatang. (The Hacker/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·