Warisan Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari Segera Dibukukan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta - Kementerian Kebudayaan RI mendorong penyelenggaraan program penyusunan dan publikasi kitab suntingan karya-karya Syekh Yusuf al-Makassari al-Bantani. Berkolaborasi dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), inisiatif ini dilatarbelakangi oleh kondisi karya-karya Syekh Yusuf nan sebagian besar tetap tersimpan dalam corak manuskrip tersebar di beragam koleksi, sehingga akses terhadap teks nan aktual tetap terbatas.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan setidaknya terdapat 23 karya Syekh Yusuf nan telah diidentifikasi dalam penelitian Manassa sebelumnya. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sendiri menyimpan tiga bundel manuskrip krusial berkode A 45, A 101, dan A 108 nan memuat kumpulan teks nan diatribusikan kepada Syekh Yusuf dan mempunyai nilai historis unik lantaran berasal dari perpustakaan istana Kesultanan Banten.

"Oleh lantaran itu penyusunan kitab ini nantinya bakal berfokus kepada tiga manuskrip tersebut," kata Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/5/2026).

Menurutnya, proyek ini merupakan bagian dari upaya pelestarian manuskrip Nusantara sekaligus penguatan diplomasi budaya Indonesia. Oleh lantaran itu, dia menegaskan pentingnya percepatan kerja agar hasilnya dapat diluncurkan dalam momentum strategis tahun ini.

Fadli Zon juga menyoroti pentingnya substansi publikasi. Selain itu dalam penyajian teks, dia turut memberikan pengarahan agar tetap mempertahankan teks original dalam Bahasa Arab sekaligus terjemahan dalam Bahasa Indonesia untuk memudahkan pembaca.

"Teks tidak perlu dilatinkan. Namun demikian, opsi translator ke bahasa Inggris tetap terbuka sebagai pengembangan kitab ini nantinya. Kalau ada bahasa Inggris, saya kira di sana (Afrika Selatan) juga dapat respons nan bagus, sekaligus memperluas jangkauan internasional karya tersebut," jelasnya.

Secara keilmuan, selain mencerminkan pemikiran tasawufnya, karya-karya Syekh Yusuf juga mempunyai relevansi dalam konteks diaspora dan diplomasi budaya, khususnya dalam keterkaitan historis dengan Afrika Selatan dan jaringan ustadz Nusantara. Hasil akhir nan dituju melalui penyusunan karya ini ialah mencakup pemanfaatan karya-karya Syekh Yusuf dalam bumi pendidikan dan penelitian, penguatan diplomasi budaya Indonesia, dan pelestarian manuskrip nasional.

Dia mengatakan kerjasama ini juga dimaksudkan untuk menyelenggarakan penyuntingan dan publikasi jenis kritis karya Syekh Yusuf secara sistematis. Selain itu melalui program ini diharapkan dapat meliputi identifikasi dan verifikasi manuskrip koleksi Perpustakaan Nasional, penyusunan jenis kritis berbasis metode filologi, menghasilkan publikasi ilmiah berbobot tinggi, menyediakan akses terbuka, serta mendiseminasikan karya-karya Syekh Yusuf kepada publik.

"Melalui inisiatif ini, Kementerian Kebudayaan berupaya memperkuat pelestarian, pengkajian, dan diseminasi warisan intelektual Nusantara, sekaligus membuka akses nan lebih luas terhadap karya-karya krusial Syekh Yusuf bagi masyarakat nasional dan internasional. Selain itu melalui program ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem pelestarian dan pemanfaatan manuskrip sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum Manassa Agus Iswanto mengatakan selain 23 karya dalam tiga manuskrip tersebut, terdapat tambahan lima manuskrip mengenai nan tetap tersimpan di Leiden. Menurutnya, dari lima manuskrip di Leiden, dua telah tersedia dalam format digital, sementara tiga lainnya memerlukan permohonan resmi kepada Leiden Library/UBL dan KITLV.

"Oleh karenanya kami berambisi Kementerian Kebudayaan dapat berkoordinasi lebih lanjut dengan Leiden Library, untuk memungkinkan digitalisasi tiga manuskrip berikutnya, serta dapat melakukan kajian komparatif terhadap jenis naskah tersebut," tutupnya.

Sebagai info tambahan, turut datang mendampingi Menbud pada kesempatan ini ialah Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkatiri; Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, I Made Dharma Suteja; Sekretaris Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Undri; Sekretaris Manassa, Aditia Gunawan; beserta jejeran pengurus Manassa lainnya. (akn/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News