(MI/Ignas Kunda)
WARGA tiga desa di kaki gunung Ebulobo, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, mengeluhkan kondisi jalan nan rusak sudah 79 tahun sejak Indonesia Mardeka. Kondisi ini membikin penduduk tidak bisa dievakuasi ketika terjadi musibah seperti pada banjir bandang pada September 2025.
"Ada orang nan sakit stroke mau dibawa ke rumah sakit terpaksa kudu ditunda menunggu penduduk memperbaiki jalan lantaran tertutup longsor material," keluh Ansel Djo salah satu penduduk Desa Woloede.
Ribuan Nyawa Terancam jika Bencana
Tiga desa nan terdampak akibat akses jalan jelek ialah Sawu, Lodaolo, dan Woloede, serta sebagian Mulakoli Kecamatan Boawae. Kondisi jalan sekitar 8 km ini dalam kondisi rusak parah. Setiap musim hujan selalu ada got-got mini membelah jalan akibat terkikis air.
Salah satu tokoh masyarakat Desa Lodaolo, Anselmus Mere, mengungkapkan selalu ada alibi dari orang dinas di kabupaten bahwa jalur Sawu-Mulakoli termasuk area rimba lindung padahal sama sekali tidak. Jalan nan ada sekarang adalah jalan nan dekat sekali dengan permukiman warga.
Hanya sekitar 1.900 meter persegi bagian badan jalan masuk rimba produksi bukan rimba lindung. Karenanya, sangat bisa jika dilakukan pengerjaan jalan dari proyek pemerintah dengan sistem nan lebih mudah.
"Kalau mau dihitung sudah tujuh bupati sejak jalan di kampung alias desa ini tidak diperhatikan," ungkap Anselmus nan juga pensiunan pembimbing ini.
Selain itu, Anselmus mengungkapkan nyaris 2 tahun jalan ini menjadi paket pekerjaan prioritas pertama tetapi selalu kandas ketika eksekusinya. Ia berambisi tahun ini kudu menjadi perhatian utama pemerintah lantaran bakal lebih banyak korban jiwa jika akses jalan untuk pemindahan ini tidak dikerjakan pemerintah.
"Ini jika tidak segera bakal meninggal banyak orang di sini. Jalan tidak ada. Mau lari ke mana? Sedangkan jalan nan ada tidak musibah saja sudah separuh mati," keluh Anselmus.
Kesehatan, Pendidikan, Ekonomi Terabaikan
Walaupun menjadi wilayah sangat subur di Nagekeo, penduduk sekitar kaki Gunung Ebolobo ini mengeluh nilai komoditas pertanian seperti cengkih, pala, kopi, kakao, kelap ditekan oleh para tengkulak lantaran akses jalan nan buruk.
Niko Ndapa, salah satu tokoh masyarakat Woloede, juga mengungkapkan, kondisi jalan juga berkapak pada bagian pendidikan dan ekonomi sehingaa banyak anak-anak tidak bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi alias ke perguruan tinggi lantaran tetap mengalami kesulitan ekonomi.
"Di sini juga banyak orangtua tidak bisa memberi ongkos anaknya sampai pada jenjang nan lebih tinggi alias kuliah lantaran ekonomi belum juga baik padahal hasilnya banyak dari kebun," ungkap Niko Ndapa.
Menurut Niko, bukan hanya ekonomi akibat buruknya jalan, beberapa ibu mengandung kudu ditandu ketika memasuki musim hujan lantaran jalanan tidak bisa dilalui mobil puskesmas alias warga. Hanya mobil alias truk nan bisa melewati jalan desa menuju puskesmas di kota kecamatan sehingga memerlukan biaya nan lebih mahal dari biasanya.
Bagi Niko, jalan desa ini sangat vital lantaran memberikan akses tercepat dari beberapa desa sekitar kaki gunung Ebulobo menuju kota Kabupaten Mbay serta sebagai akses krusial peghubung antardesa. Sayangnya, lantaran jalan ini tak kunjung diperbaiki dan dibenahi, akhirnya penduduk memilih jalur lebih jauh ke arah barat nan ongkosnya jauh lebih tinggi.
Niko mengungkapkan keadaan ini tentu sangat menyulitkan bagi penduduk di sini jika terjadi musibah lantaran bisa tertutup longsoran. Apalagi desanya sangat dekat dengan gunung berapi aktif Ebulobo.
"Kami mau lari ke mana? Bila terjadi bencana, lantaran berada di bawah gunung berapi, kami tidak bisa menyelamatkan diri alias pemindahan lantaran kondisi jalan jelek seperti ini sangat tidak layak. Kami minta Bapak Prabowo bantu dulu," keluhnya.
Warga Siap Sukseskan Pekerjaan Jalan
Harapan penduduk desa di kaki Gunung Ebulobo ini mulai menunjukkan titik cerah ketika tahun ini mereka mendengar ada janji dan angan untuk melakukan pekerjaan jalan Sawu-Mulakoli. Salah satu tokoh masyarakat dan tokoh budaya Desa Woloede, Markus Meo, mengatakan selama ini mereka sangat merindukan jalan nan layak buat masyarakat desa sehingga akses ke kota maupun kota kecamatan bisa lebih sigap dan murah.
Ia berbareng sejumlah tokoh masyarakat serta seluruh penduduk di kaki gunung ini bakal selalu rela lahan dipergunakan untuk pengerjaan jalan.
Ali Mere Medho, salah satu tokoh muda di Desa Woloede, juga mengatakan dia sebagai anak muda bakal berupaya keras agar bisa menyukseskan pekerjaan jalan ini sehingga jalan bisa terselesaikan dengan baik tanpa ada kendala.
"Jalan ini sangat krusial buat kami lantaran jika jalan ini bisa hotmix tentu saja memuluskan upaya kami sebagai petani anak muda nan sangat berambisi pada komiditas nan hendak ke pasar, baik di Boawae ataupun Mauponggo, lantaran dengan jalan rusak, ke pasar hanya bisa satu kali," kata Ali.
Ali juga mengatakan pekerjaan jalan ini memudahkan mereka sebagai anak muda bisa mengembangkan potensi desa baik dalam pertanian serta penemuan anak muda desa dalam membangun desa.
"Kami bakal tanam kaki jika ada masalah. Saya rasa tidak ada hambatan di desa kami lantaran masyarakat pasti bantu lantaran sudah lama kami rindu. Semua bisa dikomunikasikan," kata Ali nan juga petani pisang ini. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·