Pencarian terhadap 8 orang nan terdiri dari 5 wartawan dan 3 orang lainnya (kru dan guide) nan lenyap kontak di sekitar Gunung Anak Krakatau memasuki hari ketujuh, Senin (14/9).
Di tengah proses pencarian, penduduk dan nelayan di Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, menggelar tradisi larung kerbau ke tengah laut. Tradisi tersebut dilakukan sebagai corak ikhtiar dan angan agar delapan orang nan lenyap segera ditemukan.
Larungan dilakukan sekitar pukul 14.10 WIB. Belasan penduduk menggunakan perahu nelayan untuk membawa seekor kerbau nan telah disembelih ke tengah laut, kemudian dilarung.
Siin nan menjadi pemandu dalam prosesi tersebut mengatakan larung kerbau merupakan corak ikhtiar sekaligus permohonan kepada Allah SWT melalui angan dan penghormatan kepada karuhun alias leluhur.
"Sebenarnya mah itulah kita hanya sareat ya, tetap kita hakikat, hanya Gusti Allah nan mengabulkan. Ini mah atas kita, minta bantu sareat kepada karuhun-karuhun [leluhur] kita, kita kan semua punya karuhun," kata Siin.
Ia menegaskan tradisi tersebut tidak dimaksudkan untuk mengesampingkan kepercayaan kepada Allah SWT. Menurutnya, segala sesuatu nan terjadi tetap atas kehendak Allah.
"Contoh kita para wali alias para nabi itu karuhun-karuhun kita ya, nan perlu kita pinta bantuan, tapi jangan kita menghilangkan alias meninggalkan atas rahmat hidayah dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Karena segala hal-hal apa nan membuktikan alias mengabulkan rencana-rencana manusia alias cita-cita manusia, nan betul alias salahnya hanya Allah," ujarnya.
Siin mengatakan dirinya berbareng penduduk juga mendoakan agar family delapan orang nan lenyap kontak diberikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran. Ia berambisi para korban segera ditemukan.
"Harapan saya berangkaian dengan musibah ini semoga family korban diberikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran. Semoga korban ini dalam keadaan selamat alias tidaknya segera ditemukan. Hanya itu angan saya nan lebih besar," katanya.
Tradisi Larung Setiap Tahun
Siin menjelaskan larung merupakan tradisi nan biasa dilakukan penduduk dan nelayan setempat setiap tahun, terutama saat Muharam. Namun, kali ini prosesi tersebut dilakukan secara unik sebagai corak ikhtiar atas musibah hilangnya rombongan di sekitar Gunung Anak Krakatau.
"Jadi tradisi hanya ini untuk musibah ini. Biasanya setiap tahun saat Muharam," ujarnya.
Sementara itu, memasuki hari ketujuh pencarian, tim campuran Basarnas, TNI Angkatan Laut, dan Polairud tetap melakukan penyisiran di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
Dalam operasi tersebut, tim mengerahkan 18 kapal, satu helikopter, dan sekitar 500 personel.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·