Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, merespons kalangan nan menyebut perekonomian Indonesia sedang menuju krisis seperti pada 1998. Menurutnya, saat ini angka-angka perekonomian tetap jauh dari krisis.
Juda menunjukkan capaian angka-angka perekonomian seperti pendapatan negara per April 2026 nan mencapai Rp 918 triliun sampai defisit nan tetap terkendali pada level 0,64 persen terhadap PDB pada April lalu.
“Banyak kalangan baik di media termasuk media sosial mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti 97, 98. Kalau memandang angka-angka tadi jauh dari situasi krisis,” kata Juda dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 di Balai Kartini, Jakarta pada Senin (25/5).
Ia juga memberi contoh mengenai sumber-sumber krisis. Menurutnya, terdapat tiga sumber nan menyebabkan krisis perekonomian berasas situasi nan pernah terjadi di beberapa negara.
Pertama, dia mencontohkan krisis di Amerika Latin di era 1980-an di mana defisit fiskal membengkak dan pemerintah tak bisa mengatasi perihal tersebut.
“Di Indonesia sekarang ini defisit relatif terbatas. Masih dijaga di bawah 3 persen dan pembiayaan fiskal kita tetap sangat dipercaya oleh penanammodal Baik domestik maupun asing,” lanjutnya.
Kedua, menurutnya krisis bisa muncul lantaran krisis neraca pembayaran. Kondisi inilah nan pernah dialami Indonesia pada tahun 1997-1998 ketika banyak perusahaan berlomba-lomba untuk menarik biaya dari luar negeri sehingga nilai tukar rupiah.
Namun, kondisi saat ini menurutnya tetap jauh dari kondisi itu.
“Dan saat ini jika kita lihat angka-angka neraca pembayaran kita relatif sehat dan relatif balance. Jadi dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu,” ujarnya.
Terakhir, krisis menurutnya bisa muncul dari sistem sistem finansial alias ketika utang terjadi besar-besaran di beragam sektor dan pecah lampau menyebabkan sistem perbankan kolaps. Namun, tanda-tanda tersebut tak terjadi di Indonesia saat ini.
“Tanda-tanda itu tidak ada juga di kita. Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data-data nan kita amati,” kata Juda.
Isu bahwa Indonesia menuju krisis seperti di tahun 1998 juga direspons Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. Ia menjelaskan bahwa depresiasi rupiah nan terjadi dalam kurun 2004-2014 dan 2014-2024 tetap menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia ada dalam posisi nan kuat.
Menurut catata Airlangga depresiasi rupiah sejak tahun 2004-2014 sebesar 40 persen. Sementara itu, pada periode 2014-2024 rupiah terdepresiasi 30,6 persen.
“Jadi beda nih kualitas dalam dua dasawarsa terakhir, dan per hari ini inflasi kita jaga di 2,4 dan depresiasi rupiah 5 persen. Jadi konteksnya, kudu dilihat secara konteks. Perbankan kita hari ini solid, kemudian dari segi korporat sudah seluruhnya solid. Jadi seperti nan saya selalu sampaikan, ekonomi kita tetap kuat,” lanjut Airlangga.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·