Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkap peningkatan pikiran dan percobaan bunuh diri pada siswa. Berdasarkan Global School-Based Student Health Survey (GSHS) 2015 dan 2023, persentase siswa nan berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat sekitar 1,6 kali lipat.
Dante mengatakan, persentase siswa nan berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.
“Di siswa sekolah nan berpikiran mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, itu rupanya naik 1,6 kali lipat. Hampir dua kali lipat pikiran bunuh diri nan ada di siswa,” kata Dante dalam Temu Media di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat (4/9).
Tak hanya pikiran bunuh diri, persentase siswa nan mencoba mengakhiri hidup juga mengalami peningkatan. Berdasarkan info GSHS, angkanya naik sekitar 2,7 kali lipat, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
“Dan nan mencoba, nan sudah mencoba, itu naik 2,7 kali lipat jika kita bandingkan golongan umur,” ujarnya.
Dalam paparannya, Dante menyebut usia 11-17 tahun merupakan golongan usia nan rentan mencoba bunuh diri.
“Usia 11 sampai 17 merupakan usia nan rentan untuk mencoba untuk bunuh diri di golongan usia nan kita lihat dan kita evaluasi,” tutur Dante.
Menurut dia, masalah kesehatan jiwa kerap tidak terlihat secara fisik. Dante menuturkan, seseorang dapat tampak sehat dari luar, tetapi sebenarnya mengalami masalah kesehatan mental.
“Jadi teman-teman sekalian, kesehatan jiwa itu adalah kejadian gunung es. Orang sebenarnya terlihat sehat, tapi sebenarnya jika kita evaluasi, dia punya masalah,” jelas dia.
Kondisi tersebut, lanjut Dante, dapat dialami oleh siapa saja tanpa mengenal usia, jenis kelamin, maupun status ekonomi.
“Dan ini bisa mengenai siapa saja, tidak mengenal usia, tidak mengenal jenis kelamin, dan tidak mengenal status ekonomi,” ujarnya.
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·