Wamendikdasmen Fajar: Presiden Prabowo Ingatkan Budaya Menulis Tangan di Tengah Digitalisasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Presiden Prabowo Ingatkan Budaya Menulis Tangan di Tengah Digitalisasi Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq.(Dok Kemendikdasmen)

WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan pentingnya menjaga budaya menulis tangan di tengah masifnya digitalisasi pembelajaran. Hal ini merupakan pengarahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto guna memastikan keahlian dasar literasi peserta didik tetap terjaga.

Fajar menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi seperti Papan Interaktif Digital (PID) kudu melangkah beriringan dengan penguatan keahlian dasar membaca, menulis, berpikir, dan berkonsentrasi. Pernyataan tersebut disampaikan saat menutup Bimbingan Teknis Pemanfaatan Sarana Digitalisasi Pembelajaran Jenjang SMK Tahun 2026 Region Malang di Jawa Timur, Jumat (19/6).

Menjaga Kognitif di Era Digital

Menurut Fajar, pemerintah berkomitmen mendukung budaya menulis manual dengan mendistribusikan kitab tulis kepada peserta didik mulai tahun ini. Ia menekankan bahwa aktivitas menulis dengan pensil alias pulpen mempunyai akibat signifikan terhadap perkembangan otak.

"Digitalisasi sangat penting, tetapi anak-anak kita juga kudu tetap dibiasakan menulis manual. Menulis tangan membantu memori lebih dalam, melatih konsentrasi, dan mengaktifkan proses berpikir," ungkap Fajar.

Ia menambahkan, berasas kajian neurosains, aktivitas menulis tangan memberikan stimulasi nan memperkuat hubungan saraf otak, perhatian, serta keahlian memahami info secara mendalam. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo agar teknologi tidak menghilangkan praktik belajar nan mendukung perkembangan kognitif anak.

Tiga Agenda Besar Transformasi Pendidikan:

  • Transformasi Pedagogis
  • Penguatan Infrastruktur Digital
  • Revitalisasi Infrastruktur Fisik Sekolah

Fokus pada Kesehatan Mental

Selain aspek kognitif, Wamendikdasmen menyoroti tantangan kesehatan mental generasi saat ini, seperti hilangnya konsentrasi dan meningkatnya kekhawatiran akibat penggunaan gawai nan tidak seimbang. Merujuk pada pemikiran Jonathan Haidt dalam kitab The Anxious Generation, Fajar menegaskan bahwa pendidikan kudu dijalankan secara holistik.

"Kesehatan mental menjadi perhatian kami. Pembelajaran mendalam hanya bakal sukses jika pendidikan dijalankan secara holistik. Dalam pemisah tertentu, setiap pembimbing adalah konselor bagi peserta didik," jelasnya.

Kemendikdasmen di bawah kepemimpinan Menteri Abdul Mu'ti sekarang tengah memperkuat peran pembimbing Bimbingan Konseling (BK) serta mendorong setiap pembimbing untuk mempunyai kepekaan sebagai pendamping tumbuh kembang siswa.

Guru sebagai Penggerak Transformasi

Fajar berambisi 150 pembimbing SMK peserta bimtek di Malang dapat menjadi motor penggerak di sekolah masing-masing. Ia meminta agar teknologi PID digunakan secara optimal dalam koridor pedagogis untuk memperkaya pengalaman belajar murid.

"Digitalisasi bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah manusia Indonesia nan bisa berpikir, berkarakter, sehat secara mental, dan siap menjadi pembelajar sepanjang hayat," pungkas Fajar. (RO/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia