Jakarta, CNBC Indonesia - Memburuknya kondisi ekonomi pada masa awal kemerdekaan Indonesia pernah memicu kritik keras dari Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta terhadap Presiden Soekarno. Hatta apalagi menilai penderitaan ekonomi nan dialami rakyat saat itu lebih berat dibandingkan ketika Indonesia tetap berada di bawah kolonialisme Belanda maupun pendudukan Jepang.
Kritik tersebut disampaikan Hatta melalui surat kepada Soekarno pada 17 Juni 1963. Meski sudah tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden sejak 1956, Hatta tetap mengikuti perkembangan ekonomi nasional dan mengaku resah memandang arah perjalanan negara.
"Sebagai seorang nan telah berpuluh-puluh tahun berjuang dan banyak berkorban untuk mencapai Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, setara dan makmur, saya merasa wajib menulis surat ini. Hati saya resah memandang kemunduran dalam beragam bidang," tulis Hatta dalam suratnya, dikutip dari Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta Kepada Presiden Sukarno 1957-1965 (1988).
Kecemasan Hatta bukan tanpa alasan. Menurut catatan Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1999), pada masa itu Indonesia menghadapi tekanan ekonomi nan berat. Inflasi terus meningkat, nilai kebutuhan pokok melonjak, dan daya beli masyarakat menurun. Di saat bersamaan, pemerintah tetap menjalankan beragam proyek mercusuar nan menyedot anggaran besar.
Sebagai ahli ekonomi nan sejak awal kemerdekaan terlibat dalam perumusan kebijakan negara, Hatta memandang situasi tersebut sebagai kemerosotan nan sangat serius. Bahkan, dia menyebut kondisi kehidupan rakyat saat itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Indonesia.
"Kemerosotan penghidupan rakyat, nan belum ada taranya dalam sejarah Indonesia, lebih luar biasa daripada masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang," tegas Hatta.
Menurut Hatta, akar persoalan terletak pada kebijakan ekonomi nan keliru. Alih-alih mewujudkan cita-cita sosialisme nan kerap dikampanyekan pemerintah, kebijakan nan diterapkan justru membikin beban rakyat semakin berat.
"Pendapatan rakyat makin ditekan, apalagi dengan politik inflasi nan dipercepat, tetapi beban rakyat makin diperbesar," ungkap proklamator itu.
Tak hanya itu, Hatta juga menyoroti munculnya golongan elite nan hidup mewah di tengah kesulitan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut, menurutnya, memperlebar lembah antara golongan kaya dan miskin.
"Pertentangan kaya dan miskin sangat menyolok mata, belum pernah setajam sekarang ini," tulisnya.
Hatta mengaku ikut merasakan akibat memburuknya kondisi ekonomi. Dari duit pensiunnya nan hanya sebesar Rp5.762, sekitar 70% kudu digunakan untuk bayar tagihan listrik. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa arah kebijakan ekonomi saat itu telah melenceng dari tujuan nan dicanangkan pemerintah.
Karena itu, dia melontarkan pertanyaan tajam kepada Soekarno dan para pembantunya.
"Menjadi pertanyaan sekarang bagi banyak orang, mungkin juga bagi segala orang nan menderita dan berpikir: Inikah jalan ke sosialisme? Apakah sosialisme bukan menjadi lip service saja seperti juga dengan Pancasila?"
Surat tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu kritik paling keras nan pernah dilontarkan Hatta kepada Soekarno. Beberapa tahun kemudian, krisis ekonomi nan semakin parah turut menjadi salah satu aspek nan melemahkan posisi politik Soekarno hingga akhirnya kehilangan kekuasaan.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·