Wamendagri Tegaskan Pentingnya Pemimpin Punya Pijakan Ideologi Kuat

Sedang Trending 55 menit yang lalu

Jakarta - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan pentingnya seorang pemimpin mempunyai injakan ideologis dan nilai nan kuat agar tidak mudah terpengaruh tekanan golongan tertentu. Menurutnya, keberpihakan kepada masyarakat dan nilai inklusivitas kudu menjadi dasar dalam mengambil keputusan, termasuk keputusan nan berisiko tinggi.

Hal itu disampaikan pada aktivitas Bedah Buku 'Babad Alas' di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah pada Selasa (12/5).

"Jadi pemimpin itu seringkali dihadapkan pada pilihan nan sulit, kita bisa memilih nyaman alias berisiko, tapi saya ambil akibat itu ketika saya meyakini nilai-nilai keberpihakan tersebut," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (12/5/2026).

Berdasarkan pengalamannya memimpin Kota Bogor selama satu dekade, Bima menilai keteguhan memegang ideologi menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan kompleks di birokrasi maupun masyarakat.

Ia mencontohkan keberaniannya membatasi izin penjualan alkohol di tempat intermezo malam demi melindungi generasi muda meski menghadapi tekanan dari sejumlah pihak. Selain itu, prinsip inklusivitas juga disebut menjadi landasan dalam menyelesaikan bentrok pendirian rumah ibadah nan telah berjalan bertahun-tahun.

Lebih lanjut, Bima mengatakan bahwa ideologi saja tidak cukup tanpa strategi membangun angan masyarakat dan membentuk tim birokrasi nan solid. Dalam pengelolaan sumber daya manusia, dia mengutamakan karakter, loyalitas, dan militansi sebelum kompetensi teknis dalam memilih pejabat.

"Jadi ketika memilih kepala dinas bagi saya karakter kompetensi karakter itu nomor satu. Adab itu nomor satu. Nomor selanjutnya baru kompetensi dan lain-lain," jelasnya.

Untuk menjaga konsistensi nilai tersebut, Bima menerapkan penguatan moral melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat, perbincangan berbareng aktivis, serta menjadikan family sebagai tembok terakhir menjaga integritas. Ia menilai nilai-nilai kritis di lingkungan family krusial untuk mencegah penyimpangan, termasuk gratifikasi.

Dalam kesempatan itu, Bima juga berpesan kepada mahasiswa agar mempersiapkan diri sejak awal menjadi pemimpin masa depan. Ia mengingatkan masa kepemimpinan melangkah sangat sigap sehingga kudu dimanfaatkan dengan penuh dedikasi dan semangat pengabdian.

"Dan bagi kalian nan kelak bakal menjadi pemimpin alias bercita-cita jadi pemimpin, jangan lewatkan momen itu. Karena 10 tahun itu sigap sekali. Siapkanlah momen ketika kalian menjadi pemimpin. Ketika sedang menjadi pemimpin, do it with passion," tandasnya.

Sebagai informasi, aktivitas bedah kitab tersebut turut dihadiri oleh Dekan FISIP Undip Teguh Yuwono, Asisten II Pemerintah Kota Semarang Hernowo Budi Luhur, serta para pengajar dan mahasiswa FISIP Undip.

(anl/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News