Wamendagri Bima: HUT ke-187 GPIB Immanuel Wariskan Nilai di Era Teknologi

Sedang Trending 53 menit yang lalu
Wamendagri Bima Arya Sugiarto (tengah) menyampaikan pentingnya wariskan nilai-nilai keimanan, kesetiaan, dan pelayanan di tengah kemajuan teknologi saat hadiri HUT ke-187 GPIB Immanuel Jakarta, Selasa (25/8/2026). Foto: Dok. Kemendagri

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai keimanan, ketulusan, kesetiaan, dan pelayanan kepada sesama dalam perjalanan panjang Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel Jakarta. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-187 GPIB Immanuel Jakarta, Selasa (25/8/2026).

Bima mengatakan, usia 187 tahun GPIB Immanuel tidak sekadar menunjukkan ketahanan sebuah gedung bersejarah, tetapi juga keberlanjutan nilai dan aliran nan diwariskan dari generasi ke generasi. Menurutnya, setiap bagian dari gereja tersebut mempunyai makna nan dapat menjadi pembelajaran bagi kehidupan.

“Di sini ada ajaran-ajaran keagamaan nan menembus generasi, nan diwariskan lintas generasi, nan membikin kita semua berada di sini pada hari ini,” ujar Bima.

Ia menyoroti filosofi kembang teratai nan terpahat pada kubah GPIB Immanuel. Teratai, kata Bima, tetap bersih dan bagus meskipun tumbuh di lingkungan berlumpur. Filosofi tersebut dinilainya relevan sebagai gambaran gimana manusia dapat tetap menghadirkan kebaikan di tengah beragam dinamika kehidupan.

Wamendagri Bima Arya Sugiarto (kanan) menyampaikan pentingnya wariskan nilai-nilai keimanan, kesetiaan, dan pelayanan di tengah kemajuan teknologi saat hadiri HUT ke-187 GPIB Immanuel Jakarta, Selasa (25/8/2026). Foto: Dok. Kemendagri

Bima juga mengaitkan filosofi teratai dengan pentingnya meninggalkan karya nan berfaedah bagi generasi berikutnya. Menurutnya, kehidupan manusia berkarakter sementara, sedangkan pengabdian dan karya nan dilakukan dengan tulus dapat memberikan faedah nan jauh lebih panjang.

“Artinya apa? Itulah manusia. Hidup kita fana, hidup kita sementara, tetapi karya kita, hormat kita kekal dan selamanya,” katanya.

Selain ketulusan, Bima memandang nilai kesetiaan dari keberadaan orgel berhistoris di GPIB Immanuel nan hingga sekarang tetap berfaedah dengan baik. Ia menilai keberlangsungan orgel tersebut tidak terlepas dari kepedulian pengurus dan jemaat dalam merawat warisan nan telah menemani perjalanan gereja selama lebih dari 180 tahun.

Bima menyebut keterpaduan antara orgel dan sistem akustik gedung sebagai gambaran harmoni nan telah terbangun antara gereja dan lingkungan sekitarnya. Ia berambisi semangat tersebut terus dipertahankan dalam menghadapi perubahan zaman.

“Ini adalah harmoni, ini adalah nilai nan luhur dari gereja ini. Tentu ini sekali lagi adalah simbol gimana gereja ini selama 180 tahun menyatu dengan lingkungan dengan kota Jakarta membangun harmoni dan terintegrasi,” ujarnya.

Memasuki era perkembangan teknologi nan semakin pesat, Bima juga mengingatkan pentingnya memastikan kemajuan teknologi melangkah seiring dengan nilai dan kebijaksanaan. Menurutnya, perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), kudu tetap diarahkan untuk memperkuat kemaslahatan manusia, bukan justru mengikis nilai-nilai moral.

Karena itu, dia mengapresiasi keberadaan generasi muda dalam seremoni HUT GPIB Immanuel. Kehadiran mereka dinilai krusial untuk memastikan nilai-nilai keagamaan dan moral tetap diwariskan ketika generasi mendatang semakin berkawan dengan beragam kemajuan teknologi.

Pada kesempatan tersebut, Bima juga menyampaikan komitmen Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dalam mendorong pemerintah wilayah (Pemda) agar menghadirkan pembangunan nan inklusif. Pemda, katanya, kudu memastikan kota dibangun untuk seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang.

“Kementerian Dalam Negeri hari ini terus memastikan bahwa seluruh gubernur, seluruh wali kota, dan seluruh bupati di Indonesia dalam kesehariannya tidak pernah meninggalkan warganya. Memastikan bahwa kotanya dibangun untuk semua,” jelasnya.

Foto berbareng saat aktivitas HUT ke-187 GPIB Immanuel Jakarta, Selasa (25/8/2026). Foto: Dok. Kemendagri

Ia menambahkan bahwa pemerintah juga bertanggung jawab menjamin masyarakat dapat menjalankan ibadah sesuai kepercayaan dan keyakinannya masing-masing. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan dan kehidupan sosial nan selaras di tengah keberagaman Indonesia.

Bima berambisi perjalanan panjang GPIB Immanuel tidak berakhir pada upaya menjaga gedung sebagai warisan sejarah. Lebih dari itu, dia mendorong agar gereja terus menjadi ruang tumbuhnya iman, pelayanan, kasih, serta pembentukan generasi muda.

“Bukan hanya gedung nan terpelihara Bapak-Ibu, tetapi mari kita yakini ketaatan nan terus hidup, pelayanan nan semakin berdampak, dan kasih nan menjadi berkah bagi sesama adalah menjadi karakter unik dari gereja Immanuel di Jakarta ini,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan